Chapter 28

507 66 11
                                        

"Hahh.. Akhirnya."

Membaringkan tubuhnya yang letih, Luca menatap langit-langit penginapan sederhana yang ia temukan tak lama setelah berjalan menjauhi toko.

Sylmere. Ini adalah desa kecil yang ternyata terletak tidak jauh dari Ibukota. Luca mendapatkan informasi ini dari Nona penjaga penginapan dibawah. Katanya, jarak antara Desa Sylmere dan Ibukota kira-kira memakan waktu satu hari perjalanan jika menggunakan kereta kuda. Tentu saja ada opsi lain. Tapi itu tidak mungkin, Luca tidak tahu caranya berkuda.

"Luke, apa menurutmu aku harus membeli kereta kuda?" Luca bertanya pada satu-satunya teman yang ada diruangan ini.

Luke sendiri sejak tadi sudah berada diranjang tempat Luca membaringkan tubuhnya. Serigala yang kini mengambil wujud anak serigala itu hanya menatap Luca sebelum menutup mata, tidak ingin terlalu memedulikan Tuannya.

Sudut mata Luca sedikit berkedut melihat ini. Dia mengabaikan ku.

"...Yasudahlah. Akan ku pikirkan besok saja," putus Luca.

Rasa letih dari perjalanan kini berubah menjadi kantuk yang luar biasa, ia pun tertidur sesaat setelah menutup mata.

***

Cahaya lentera menerangi sudut ruangan. Suara halus dari tinta yang ditorehkan pada kertas mengisi malam yang sunyi.

Ivan meletakkan pena yang ia pegang. Kertas berwarna cokelat itu ia gulung kemudian di ikat dengan tali putih. Berjalan menuju jendela yang memang sejak tadi terbuka, Ivan bersiul.

Tidak lama, burung putih datang dan hinggap dipinggir jendela itu. Ini adalah burung pembawa pesan, hanya orang-orang kalangan atas yang mempunyai burung pembawa pesannya sendiri. Karena Ivan adalah Putra seorang bangsawan, tentu saja ia memilikinya.

Mengikatkan kertas yang telah ia gulung di kaki burung itu, Ivan mengelusnya.

"Kirimkan pesan itu ke kediaman Marquess Lawrence."

Burung itu terbang, menjauhi asrama akademi. Ivan menatap kepergian burung itu sembari berbisik, "Aku harap kau tidak kecewa, adik manis."

Ya, surat itu ditujukan untuk Luca. Ivan menulis permintaan maafnya karena belum bisa menempatkan Luca sebagai siswa di Akademi. Ivan sudah berkali-kali memeriksa ruangan Kepala Sekolah namun yang ingin ia temui tidak kunjung terlihat. Dirinya malah bertemu dengan Tuan Redgrave, Wakil Kepala Sekolah Akademi.

Pria itu lebih sulit ditangani daripada Kepala Sekolah. Tuan Redgrave adalah orang yang tegas, dia tidak akan membiarkan orang yang kemampuannya belum diketahui untuk memasuki akademi. Walaupun sebenarnya Ivan yakin dengan kemampuan adik manisnya itu, tapi tetap saja ia tidak bisa asal bicara didepan Tuan Redgrave.

"Hahh.. adik manis bersabarlah. Kakakmu ini akan memikirkan solusinya."

Keesokan paginya, Luca yang dikhawatirkan Ivan akan kecewa, kini tengah kelimpungan. Dirinya panik bukan main saat kantung hitam yang berisi uang hasil menjual jubah Ivan menghilang.

"Dimana... dimana, ku taruh dimana itu.." gumamnya panik sambil terus mencari.

Lemari kecil yang ada disamping ranjangnya telah ia geledah sedemikian rupa. Selimut yang seharusnya ada di atas ranjang pun telah jatuh ke lantai, terinjak-injak oleh Luca yang berjalan kesana-kemari mencari kantungnya. Tapi setelah hampir sepuluh menit mencari, Luca sama sekali tidak menemukan uangnya.

"Emasku.." lirihnya hampir menangis.

Bagaimana ini? Itu satu-satunya kantung yang bisa menyelamatkan hidupku! Bagaimana caraku pergi ke Ibukota jika uang saja tidak punya?! Ayahhh... aku ingin menangis sekarang..

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

[BL] Back To Medieval TimesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang