Chapter 27

2.3K 195 21
                                        

Kereta berguncang pelan saat melewati jalan bebatuan. Matahari sudah lama tenggelam dan jalan setapak yang dilalui mereka hanya diterangi oleh cahaya kunang-kunang dan lentera yang tergantung di atap kereta.

Di dalam kereta kuda, Luca menatap Luke yang berada dipangkuannya. Serigala besar itu telah berubah menjadi seekor anak serigala. Jujur saja, Luca sebenarnya tidak tahu jika binatang roh tingkat menengah bisa memperkecil ukuran mereka. Di buku tidak dijelaskan secara detail dan pada novel juga tidak ada penjelasan seperti itu. Apa jangan-jangan... Luke hampir mencapai tingkat atas?

Memikirkan hal ini, ia jadi penasaran. Seseorang yang sudah menjalin kontrak dengan binatang roh bisa melihat tingkatan binatang mereka hanya dengan menyentuhnya. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat melihat bagaimana Luke menatap Luca saat ini. Tajam dan dingin seperti biasa.

Serigala itu bahkan tidak membiarkan Luca mengelus kepalanya— ia hanya ingin duduk dipangkuan nya saja dan tertidur tidak lama kemudian. Dasar.

"Tuan?"

Dari balik tirai yang memisahkan kusir dan gerbong kereta, suara pemuda yang ditemui Luca terdengar, mengalihkan perhatiannya pada anak serigala di pangkuannya.

Dengan tangan yang tergenggam erat pada tali pemuda itu bersuara, "Aku harap guru ku tidak mengganggu mu."

Tahu jika yang lain khawatir akan kenyamanannya, Luca menjawab dengan lembut, "Gurumu tidak mengganggu ku. Dia tertidur, bersandar pada dinding kereta."

Menghela nafas lega, pemuda itu mengendurkan pegangannya. "Syukurlah kalau begitu. Sejak tadi ia terus saja meminum arak, aku khawatir saat bangun kepalanya akan sakit."

Luca tersenyum kecil. Ia kemudian memindahkan Luke yang tertidur dengan tenang ke atas jubahnya yang sejak tadi sudah ia lepas, lalu berjalan pelan menuju kusir. Ia duduk tepat disebelah pemuda yang saat ini fokus mengendalikan laju kuda yang membawa mereka.

"Aku tebak, kau pasti sangat menyayangi guru mu itu."

"Tentu saja," Pemuda itu tersenyum. "Jika bukan karena guru yang menyelamatkan ku, aku mungkin tidak bisa duduk dan mengobrol dengan mu disini, Tuan," tuturnya.

Manik abu miliknya melirik sekilas ke arah Luca, dan seketika sedikit terpana oleh paras tampan pemuda di sampingnya. Sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikan, tapi sekarang ia bisa melihat dengan jelas jika mata cokelat itu memantulkan cahaya lentera, memberikan kesan hangat dan lembut pada saat bersamaan.

Sayangnya Luca tidak menyadari jika pemuda itu sempat meliriknya. Saat menoleh ke arahnya, Luca justru tertawa pelan ketika mengingat sesuatu. Tawa lembut itu terdengar ringan namun berhasil membuat pemuda di sebelahnya seketika gugup—takut jika lirikan singkatnya pada pemuda disampingnya tadi telah ditemukan.

"Ngomong-ngomong, kita sudah berbicara sebanyak ini, tapi belum saling mengenalkan diri," ucap Luca sesaat setelah meredakan tawanya.

Dengan telinga yang sedikit memerah, pemuda itu tergagap,  "K-kau benar! Maaf sebelumnya, namaku Zayn!"

"Zayn, ya." ia mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu menoleh tepat di samping Zayn kemudian tersenyum, "Aku Luca, terima kasih sudah memberikan tumpangan."

Apa reaksi Zayn? Tentu saja, telinga pemuda itu semakin memerah saat netranya dengan jelas melihat wajah tampan Luca. Ayolah Zayn! Ada apa denganmu? Dia laki-laki, oke?!

Berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak normal, Zayn mengelus tengkuknya. Berharap jika rasa tidak jelas ini akan segera hilang dan menjawab dengan sedikit canggung. "T-tidak masalah, Tuan! Lagipula ini sebagai permintaan maaf atas nama guruku."

[BL] Back To Medieval TimesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang