LONDON
Di Adelaide Cottage sisi timur Winsor Castle, matahari pagi menyinari batu herald oaks dan jendela- jendela lengkung tinggi, sedangkan diluar halaman pagar kokoh menjulang berkumpul para paparazi yang seperti biasa mereka akan lakukan, memburu gambar apapun yang mereka dapatkan dari celah benteng istana untuk ditampilkan di sampul depan artikel mereka. Namun Louis Carlton Morano Filippo sedang tidak berminat berlari di halaman yang telah diwariskan delapan setengah abad yang lalu dan telah direnovasi berkali-kali.
Menuju lantai atas, ke gym nya, mengenakan sarung tinju setelah melilitkan handwrap diatas lengan, dan melayangkan pukulan keras kearah samsak sebagai salah satu alat yang dijadikan sasaran utama bagi seorang yang gemar berlatih tinju. Di dampingi Jamie Moore, mantan petinju profesional yang menjadi pelatih pribadinya. Moore pernah memegang gelar kelas welter super Inggris dua kali, serta gelar kelas welter super Eropa pada tahun 2009.
Setelah pemanasan dirasa cukup, perlahan-lahan Moore bergerak maju, dengan keanggunan kucing besar yang menilai kembali mangsanya. Namun pikiranku berkeliaran, hari ini adalah sesi Kabinet terakhir yang berarti penuh dengan lembar analisis yang panjang. Rapat Kabinet selalu menjadi rutinitas yang membosankan. Sinar matahari musim dingin menembusnya dan menyinari sarang galeri, tangga dan lorong yang membingungkan. Bukan berarti dirinya tidak akan menikmatinya. Ia jarang punya waktu keluar, kecuali pada hari-hari ketika ia bangun sebelum fajar untuk bergabung dengan ayahnya Pangeran George Maximilliam Edgeworth Adipati Deighton ke Folksware untuk menembak burung cangkak merah diapit oleh pengawalnya.
"Bukan ide yang baik untuk masuk ring jika pikiranmu di tempat lain", kata Moore dengan geli saat kami mengitari satu sama lain.
"Aku menemukan itu membantu."
"Lebih di sebelah kananmu, melindungi sisi kirimu. Tangan diatas, Carl."
Dia mengayun dan memukulku di bahu, hampir membuatku kehilangan keseimbangan.
"Konsentrasi, Carl. Tak satupun omong kosong seorang gadis disini. Atau itu diruang rapat?", dia menyeringai, mendorongku, itu bekerja.
Aku berjalan ke tengah, meninju ke sisinya, dan kepalanya, sekali, dua kali dan dia terhuyung-huyung mundur.
"Pikirkan urusanmu sendiri, Moore."
"Nah, kita telah menemukan sumber masalahnya", Moore mencicit penuh kemenangan.
Dia mengayun tiba-tiba tapi aku mengantisipasi tindakannya, menahannya, menikam dengan pukulan dan tendangan cepat. Dia melompat mundur kali ini. Terkesan.
"Ternyata itu bekerja. Usaha yang bagus, Carl", katanya.
Dan aku melepas kedua glovesnya, terengah-engah, dan meneguk air mineral dingin untuk memulai hari yang monoton.
"Aku ingin sarapan dengan croissant, Mrs. Jane."
Dia masih terkejut dan aku mengangkat alis.
"Acar apricot?", tanyanya, pulih dari keterkejutan.
"Ya, tolong."
"Aku akan membawakannya dua untukmu, your highness. Ini kopimu."
"Dengan susu?"
"Ya, latte."
"Terimakasih, Mrs. Jane."
Dia tersenyum. Apakah hanya karena aku makan croissant? Jika tidak ada menu sarapan lengkap di tempat tidur membuatnya bahagia, seharusnya aku makan croissant lebih sering.
Pagiku telah diisi dengan membaca berita bisnis dari surat kabar, mengabaikan Caroline Linley yang berdiri di ambang kamarnya.
"Louis, begitu urusan kantormu selesai, aku ingin kamu menghadiri undangan Munich di Sotheby."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
