ONE

145 1 0
                                        

LONDON

Di Adelaide Cottage sisi timur Winsor Castle matahari pagi menyinari batu herald oaks dan jendela- jendela lengkung tinggi, sedangkan diluar halaman pagar kokoh menjulang berkumpul para paparazi yang seperti biasa mereka akan lakukan, memburu gambar apapun yang mereka dapatkan dari celah benteng istana untuk ditampilkan di sampul depan artikel mereka. Namun Louis Carlton Morano Filippo sedang tidak berminat berlari di halaman yang telah diwariskan delapan setengah abad yang lalu dan telah direnovasi berkali-kali.

Menuju lantai atas, ke gym nya, mengenakan sarung tinju setelah melilitkan handwrap diatas lengan, dan melayangkan pukulan keras kearah samsak sebagai salah satu alat yang dijadikan sasaran utama bagi seorang yang gemar berlatih tinju. Di dampingi Jamie Moore, mantan petinju profesional yang menjadi pelatih pribadinya. Moore pernah memegang gelar kelas welter super Inggris dua kali, serta gelar kelas welter super Eropa pada tahun 2009.

Pikirannya berkeliaran, hari ini adalah sesi Kabinet terakhir yang berarti penuh dengan lembar analisis yang panjang. Rapat Kabinet selalu menjadi rutinitas yang membosankan. Sinar matahari musim dingin menembusnya dan menyinari sarang galeri, tangga dan lorong yang membingungkan. Bukan berarti dirinya tidak akan menikmatinya. Ia jarang punya waktu keluar, kecuali pada hari-hari ketika ia bangun sebelum fajar untuk bergabung dengan ayahnya Pangeran George Maximilliam Edgeworth Adipati Deighton ke Folksware untuk menembak burung cangkak merah diapit oleh pengawalnya.

Ia melepas kedua glovesnya, terengah-engah, dan meneguk air mineral dingin untuk memulai hari yang monoton.

"Aku ingin sarapan dengan croissant, Mrs. Jane."

Dia masih terkejut dan aku mengangkat alis.

"Acar apricot?", tanyanya, pulih dari keterkejutan.

"Ya, tolong."

"Aku akan membawakannya dua untukmu, your highness. Ini kopimu."

"Dengan susu?"

"Ya, latte."

"Terimakasih, Mrs. Jane."

Dia tersenyum. Apakah hanya karena aku makan croissant? Jika tidak ada menu sarapan lengkap di tempat tidur membuatnya bahagia, seharusnya aku makan croissant lebih sering.

Pagiku telah diisi dengan membaca berita bisnis dari surat kabar, mengabaikan Caroline Linley yang berdiri di ambang kamarnya.

"Louis, begitu urusan kantormu selesai, aku ingin kamu menghadiri undangan Munich di Sotheby."

"Aku tidak bisa, ibu."

"Kamu harus meluangkan waktumu untuk acara ini. Munich merupakan orang kepercayaan ratu Estella dan ibu tidak ingin mengecewakan granny."

"Kenapa ibu tidak meminta Rose saja untuk menyetujuinya?"

"Kakakmu Rosemary masih mengurusi tiga belas badan amal yang berawa dibawah kendali ayahmu, dan dia baru saja membuka Green Peace yang menyita waktunya."

"Aku juga harus rapat dengan stafku, bertemu dengan diplomat, membaca laporan tentang kegiatan parlemen. Dan pekerjaanku telah berlebihan, bu. Aku tidak cukup yakin untuk tidak melibatkan diri dalam urusan pencitraan", kataku datar.

"Louis Carlton! Sejak kapan kamu di didik untuk membantah perintah ibu!", bentaknya.

Aku menghela napas, menyerah berdebat dengan ibunya, kalau berdebat dengannya pasti tidak akan selesai-selesai.

Di dalam maybach, pikirannya sudah berada di mana-mana. Termasuk merencanakan misi yang menenangkan, bahwa satu-satunya hal yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini adalah keputusannya untuk merenovasi kondominium ramah lingkungan bergaya Victoria di Cardiff. Seharusnya sudah selesai. Apa yang menghambatnya?

THE SECRETWhere stories live. Discover now