FIVETEEN

67 2 0
                                        

Alice

Dia menarik keluar dariku dengan segera dan membawa celana flanelnya untuk menggantung di pinggul dengan cara itu. Oh, mulutku kering saat aku benar-benar memperhatikan bahwa dia memiliki bahu lebar, pinggang kecil, dan otot perutnya membentuk riak saat ia berjalan. Aku terpesona menonton jari panjang yang terampil menyisir rambutnya yang berdiri, berpikir bagaimana jari-jari yang sama telah ahli dalam membelai tubuhku. Aku terkesiap dengan ingatan itu, dan ia mendongak, mata tak terduga birunya gelap, ekspresinya tak terbaca.

"Seharusnya kita melakukannya di tempat tidur", bibirnya yang khas setengah senyum.

"Tentunya, seharusnya aku bertanya dimana kamarmu", kataku sambil menarik kembali gaunku sampai ke pundakku, benar-benar letih, dan segera tidur atau pingsan kelelahan.

Sebuah kerutan terlihat di wajahnya saat dia membungkusku ke dalam pelukannya dan diam-diam membawaku berjalan menyusuri koridor menuju pintu, dan setelah dibuka aku ingin lari. Ini benar-benar kaya. Serius, ini gaya kekayaan ratu Victoria. Aku berada di ruangan besar yang dia sebut kamar, aku merasa tak pantas berada di tempat ini.

"Dimana Earth?", aku bertanya saat dia merebahkanku di tempat tidur luasnya. Dia menyalakan lampu samping.

"Dia bersama pengasuh barunya", bisiknya.

"Apakah ia akan menyukainya?" aku bergumam ketika ia berdiri di depanku.

"Tentunya. Mrs. Darla salah satu orang kepercayaanku, dia ahlinya menangani anak kecil", dia menempatkan tangannya di daguku, matanya intens saat ia meneliti wajahku.

"Aku akan turun untuk acara di bawah". Ia melangkah mundur dari jangkauanku.

"Berapa lama kau akan berada disana? Apakah kau akan tidur disini?"

"Secepatnya", suaranya melembut, "aku akan ikut berbaring denganmu setelah urusanku selesai", dia mencium lembut rambutku.

Saat kenop pintu tertutup, dia sudah pergi. Cahaya bulan dari langit Cardiff terlihat dikakiku. Wah, pemandangan apa ini. Turun dari tempat tidur, aku berjalan ke dinding kaca, dan aku menyadari ada lemari pakaian yang luasnya sama dengan unit apartemenku. Berderet-deret jas mahal, kemeja, sepatu, dan dasi. Dan yang membuatku kaget ada begitu banyak pakaian wanita di pintu kaca sebelahnya. Aku tertarik untuk melihat label harga yang masih menempel pada salah satu gaun yang paling sederhana.  Dua puluh ribu! Oh tidak. Aku tidak berpikir bagaimana orang bisa membutuhkan begitu banyak pakaian dengan harga fantastis. Dua lemari pakaian, sepertinya aku meringis, semuanya masih baru. Gila!

Keluar dari kamar, dan tema putih di sepanjang koridor yang luas dan tepat di seberang dimana ruang mewah ini terbuka, naik tangga keatas. Mengambil napas dalam aku berjalan masuk. Dan rasanya aku melakukan perjalanan waktu ke disneyland resort, California. Ini adalah ruang bermain anak paling lengkap yang pernah ada, tinggi sekali. Ruang adalah sebuah kata yang tak pantas untuk itu. Earth masih terkesan dengan pertunjukkan air setiap lima belas menit, air terjun bertingkat. Dia bermain ayunan, kejar-kerajan dengan seorang perempuan lebih tua yang mengenakan setelan hitam seragam dan celemek putih mengkilap di area piknik ke paviliun terbuka. Dan menjelajahi rope briges dari round tower ke city hall tower yang mengarah ke balkon yang menghadap ke Cardiff.

"Sekarang pukul sembilan, darling", aku memperingatkan Earth.

Dia cemberut. "Tapi aku masih ingin main, mommy", bahkan aku bisa mendengar kekecewaan dalam suaranya.

"Earth Lewis. Kau tahu sekarang waktunya untuk apa?", aku berjuang untuk kata-kata di udara.

Mrs. Darla menatapku dengan permohonan maaf. "Aku tahu sudah saatnya untuk tidur, ma'am. Maaf karena aku tidak memberitahunya".

THE SECRETCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang