Carlton
"Aku sudah datang sejauh ini, bung. Jangan sampai mengecewakan", bisikan James, dan memberiku seringai kekanak-kanakkan.
Dengusanku mengejek, dan aku sangat jarang menggunakan royal flushku sekaligus untuk sebuah awal permainan stud poker. Tapi baiklah.
Aku biasanya pergi ke The Lanesborough hanya untuk minum teh, tapi sekarang aku disini memborong habis semua kudapan yang mereka jual pada hari ini. Dan Alice bergegas melakukan pekerjaan seperti seorang professional. Merangkai sendiri kotak kemasan produk, melipat dalam satu gerakan cepat, menyusun satu persatu kue-kue itu ke dalam box dengan rapi, dan mengikatnya dengan pita hijau. Mengesankan.
Ben Muncul di hadapanku, membawa bungkusan itu dengan cepat, ia berjalan dan membuka bagasi mobil, mungkin juga ke mobil James. Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. Alice mengambil tasnya. Kelegaanku jelas dan aku tersenyum.
"Sampai ketemu besok", dia berbicara pada Blaire dan pria berkacamata tebal itu masih menyembunyikan tatapan bingungnya.
Kami keluar melalui pintu toko, tempat yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan bangunan lainnya, dan aku masih mencium aroma yang menggugah selera berasal dari dalam.
Aku membuka pintu mobil untuk Alice, membiarkannya masuk, saat aku ingin masuk Ben berdeham di pintu.
"Saya akan menunggu diluar, sir", katanya.
Aku mengangguk, dan menutup pintu. Aku duduk disampingnya, jarak kami cukup dekat. Aku berkesempatan mengamatinya dari dekat tanpa halangan. Aku bahkan bisa mencium sabun dan aroma wangi tubuhnya. Oke, aku menyukai dia. Nah, aku sudah mengakui hal itu kepada diriku sendiri, Dan aku tidak dapat bersembunyi dari perasaanku lagi. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tidak dengan Candice, Paula, Lily maupun Miranda.
Aku menemukan Alice memiliki wajah baik, dan tampak jujur. Dan aku suka penampilannya hari ini. Rambut terurai mengkilap, payudara penuh dibalik sweater birunya, sepatu boot, dan celana jeans yang membentuk bokongnya. Aku mendambakan melihat tubuh memikatnya lagi.
"Sekarang apa yang ingin kau bicarakan?", katanya mengangkat wajahnya, dia membuka pertanyaan.
Dan aku menyadari betapa cantiknya dia. Suara menenangkan 'Chezile, Beanie' mengisi mobil dan aku mulai tenang.
"Berapa nomor ponselmu?", aku mendapati diriku berkata, menanyakan hal bodoh yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Tentu saja aku memiliki semua nomor yang dia miliki pada ringkasan profilnya , tetapi perlu untuk mendengar darinya.
Dia menarik napas tajam. Mata hijaunya menyipit ke arahku, melucuti tubuhku dan meninggalkanku telanjang sama seperti yang kami lakukan saat pertama kali aku bertemu dengannya.
"Apakah kamu menemuiku hanya untuk bertanya ini?", dia tersenyum kecut, lalu ekspresinya tenang.
Hal ini telah membuatku terdengar semakin menyedihkan, "Ya".
"Kamu ingin nomorku?", dia mengulangi tiga kata yang telah membuatnya mengerutkan dahi.
"Aku tahu. Aku ingin nomormu", kataku meraih tanganku ke saku jas dan mengeluarkan ponsel.
"Kamu mau nomor berapa? Louis",
"Louis?", kataku terkejut. Apakah perlu kukatakan padanya bahwa tak seorangpun memanggilku Louis, kecuali keluargaku. "Sekarang aku suka caramu mengatakannya, Louis", Aku terbahak, "Oh. Well, berapa banyak nomor yang kamu punya?"
"Aku punya nomor keluar dari telingaku. Misalnya delapan puluh empat."
Aku mengangkat bahu. "delapan puluh empat?"
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
