Alice
Sudah dua minggu sejak Carlton pergi ke Brussels untuk urusan bisnis. Dia memberiku kebebasan untuk menyibukkan diri dengan rutinitas baruku. Satu diantaranya sangat tidak menyenangkan, datang dari surat wasiat Matilda yang tanpa disangka-sangka telah memberiku tanah dan bangunan apartemen Nevern Huxton yang pernah aku tinggali selama lima tahun belakangan. Aku menganggap peninggalan Matilda sebagai sesuatu yang punya nilai sejarah, namun Carlton memiliki pandangan yang berbeda. Dia mampu memahami dunia properti. Dari empat bangunan akomodasi di Waithman, Nevern Hoxton adalah yang paling menguntungkan, letaknya strategis, dan bangunan itu punya kemajuan apabila konsepnya dirancang lebih modern. Carlton mengajukan dalil lain yang dipinjam dari ucapan seorang pengusaha terkenal yang pernah bekerja untuknya, bahwa manusia bukan hanya harus hidup dengan jiwanya, tapi juga demi perut. Biarpun agak marah terhadap penilaian itu, aku akhirnya setuju pada gagasan pria yang dicintainya itu.
Aku memasukkan alat tes kehamilan di laci meja rias, aku berpikir hanya masalah waktu sebelum Carlton tahu soal kehamilannya. Aku miliknya, dan aku punya harapan menjadi istrinya. Aku tak ingin meninggalkan Earth di Cardiff, tapi kalau memang harus pindah ke istana demi Carlton, aku akan pergi. Sepanjang hari, aku membayangkan apa yang dilakukan Carlton saat itu. Ketika saling melepas rindu melalui kabel telepon Carlton yang jauh darinya, ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lain, sesuatu diluar Cardiff, diluar London, dan bahkan kini diluar Inggris.
Sesudah berpakaian dan menyisir rambutnya, mengikatnya menjadi ekor kuda saat mendengar ketukan pintu, seketika itu masuk pelayan kamar bernama Mrs. Darla membawa smoothies buah dan sepucuk surat di nampan.
"Surat dari siapa?", tanyaku mengambil surat, lalu duduk menghadap cermin.
"Dari lembaga pemasyarakan HMP Wakefield", jawab Darla sambil menoleh dengan nada ragu, nada prihatin kepada kekasih majikannya, dan sesudah menanti sebentar ia sambung dengan disertai senyum. "Cedric membuatkan biskuit wortel terbaik di London."
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum kepada Darla lewat cermin, dalam cermin itu tampak betapa mereka saling mengerti. Darla yang menurut penilaiannya selalu penuh perhatian, sibuk dan tidak berpikiran jauh. Perempuan yang sudah tak lagi muda itu tersenyum sedikit kepadaku sebelum kakinya melangkah keluar.
Disobeknya amplop, dibacanya surat, dan sesudah mereka-reka makna kata-kata yang mengungkapkan segalanya, dirinya duduk bergeming sambil memegang surat, dan dengan wajah ngeri menatapnya. Yang terjadi saat itu adalah keadaan yang menimpa Peter Lewis di penjara, ketika sekonyong-konyong dia terlibat perkelahian antar sesama tahanan yang kelebihan daya tampung. Kematiannya tentu lebih baik ketimbang yang telah dilakukannya walaupun ekspresi wajahnya seolah tak siap dengan kenyataan itu mengingat dia ayah dari anaknya.
Selesai termenung dari membaca surat, meluruskan gaun hijau ringan motif bunga, ia pun menuju ke ruang makan dengan gembira secara fisik, sekalipun sedang mengalami serentetan duka sebagai pertanda, namun masih tak menangkap bahwa perbuatan dan akibatnya yang fatal akan menentukan suatu kejadian yang tak terelakkan. Di meja makan luas untuk sedikitnya sepuluh kursi sudah menunggu sarapan yang di tata. Sewaktu haidnya tak datang penciumannya menjadi lebih peka, dan aroma keju membuatnya mual. Di sana muncul Cedric, dia mengenakan jaket putih chefnya, kepalanya menunduk sedikit dengan disertai senyum cerdas.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Cedric."
"Sudah aku siapkan beberapa pilihan menu sarapan untukmu, ma'am. Dan apa kau ingin sesuatu untuk makan siang?", katanya dengan kalimat yang agaknya sudah disiapkan lebih dulu.
"Aku ingin makan diluar saja, dan supaya makananmu tidak sia-sia."
"Apa kau yakin?", tanyanya ragu.
"Ya. Kau makanlah. Ini, sampaikan pada Ben dan Mrs. Darla untuk makan juga."
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
