Alice
"Kupikir sudah saatnya kita menyaksikan pertunjukkan", kata Carlton.
Untuk beberapa alasan aku bingung dan dipanaskan dengan tatapan tajam itu. Matanya bersinar dengan beberapa pemikiran yang jahat.
Kami melintasi pintu, dimana Carl menahan pintu Maitre terbuka sehingga aku bisa melangkah masuk.
"Selamat pagi, Prince Carlton", sapa Mr. Blaire.
"Pagi, Blaire", jawab dia datar.
Mata Tracy melongo padanya, mulutnya terbuka. Prince Carlton memutar kepalanya perlahan-lahan menghadapnya dan mengangkat alisnya. Wajah Tracy jadi pink cerah. Oh, efeknya bukan hanya padaku!
Disana seorang pria dengan rambut shaggy cokelat yang diselipkan ke belakang telinganya berdiri dan matanya yang melebar. Aku menatapnya bingung. Aku masih tidak tahu siapa pria ini. Dia terlihat gelisah, dan aku menyadari. Apakah dia Morgan si pengkritik makanan?
Mata Morgan terbeliak, "Prince Carlton."
"Apakah kau tahu apa yang membawamu kemari?", suara Carl menjadi dingin.
"Ya, sir."
"Bagus. Sekarang kau tahu apa yang harus dilakukan?"
Tiba-tiba Morgan berlutut, kepalanya menunduk, "Aku minta maaf Mr. Blaire. Aku tidak bermaksud menjatuhkan reputasi tokomu. Aku hanya di tempat asing, sendirian. Jadi maafkan aku prince Carlton jika kau merasa tidak nyaman saat ini. Kau bisa mempercayaiku bahwa apa yang telah kulakukan tidak akan terjadi lagi. Aku telah menghapus ulasannya. Dan aku bisa menulis pujian dengan sangat baik."
Carlton mengangguk pelan dan bersikap santai. "Apakah kau yakin dengan ucapanmu?"
"Y-Ya, sir. Aku sangat yakin."
"Itu menjelaskan banyak."
Mr. Blaire beranjak mendekati Morgan, mengangsurkan tangannya untuk membantu Morgan berdiri. "Permintaan maafmu aku terima, Morgan."
"Tolong jangan biarkan Prince Carlton menahanku dari apapun, sir", kata Morgan dengan suara lirih.
"Sudah waktunya kau pergi", Kata Carlton, menggerakkan tangannya dan menunjuk kearah pintu depan.
"Terimakasih, sir", jawab Morgan cepat, seolah-olah ia ingin segera lenyap dari tempat ini.
Kemudian Ben muncul dari, mana?
"Tolong bawa dia keluar", perintah Carlton kepada Ben.
"Ya, pak."
Blaire tersentuh dengan perhatian besar yang diberikan Carlton kepadanya. Pria berkacamata itu akan selalu merasa istimewa karena rela merendahkan diri untuk bersama seseorang yang didewakan semua oranglain. Keberadaan pangeran Louis di tokonya membuktikan Maitre pada dunia bahwa tokonya yang terbaik.
"Alice." Tracy mengalihkan perhatianku.
Dan aku diseret kembali ke sini, sekarang!
"Bagaimana kerennya ini. Dia seorang pemuda yang sangat, sangat kompeten", Tracy berbisik, kepalanya condong menghadap Carl, terpesona. Bahkan aku pikir Tracy menyukai Carl, bukan hanya aku!
"Tapi bagaimana orang seperti kau bisa mengenal prince Carlton?", tambahnya.
Aku mengerutkan kening, mencoba untuk memproses kata-katanya.
"Apa maksudmu, orang seperti aku?", aku meminta penjelasan, merasa terhina.
"Dia bujangan pewaris monarki, Alice. Kau tahu maksudku kan? Bahkan para model papan atas rela melakukan apapun demi dia.", Tracy melotot. Aku tak senang.
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
