THREE

110 1 0
                                        

Carlton

"Sial! Itu polisi." Aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak bisa membiarkan mereka menangkapku dalam kondisi seperti ini. Jelas sekali menjengkelkan, tapi tiba-tiba aku mempunyai ide saat aku melompat dari tempat tidur.

"Mereka mencarimu?", dia bertanya dengan suara pelan dan hati-hati.

"Mana aku tahu", dustaku.

"Aku bisa saja berteriak kalau kau telah melakukan tindak pidana pencabulan dirumahku," dia menggertak dan aku merasa seperti sampah.

Aku mengangkat tanganku untuk membungkamnya, dan kemudian memakai celanaku.

Dia marah.

Aku membuka pintu, dan seorang wanita tua berambut ubanan bersama dua pria berseragam diam-diam terkejut saat mereka menatapku.

"Selamat malam."

"Malam, apakah anda pangeran Louis Carlton Morano Filippo?", tanya sherif itu takut-takut

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Malam, apakah anda pangeran Louis Carlton Morano Filippo?", tanya sherif itu takut-takut.

Butuh waktu sepuluh detik bagi mereka untuk menjawab ucapanku, dan pucat ketika mereka tahu aku benar-benar Louis Carlton karena aku yakin mereka sempat ragu saat memandang kondisiku yang hanya mengenakan celana dan tanpa baju.

"Ya. Itu aku", nada suaraku sengaja disegarkan.

Mereka bertiga ternganga, membungkuk sedikit untuk memberi hormat, dan aku menahan diri untuk tidak memutar mataku.

"Hmm, maaf kami telah mengganggu anda, yang mulia", dalam sekejap sherif itu berkata dengan tampilan penurut.

Aku mengerutkan kening, sebal. Kenyataannya adalah bahwa aku masih ingin berada di tempat tidur bersama wanita itu, dan kedatangan orang-orang ini jelas sangat mengganggu.

"Apa yang anda lakukan di kamar Alice, tuan?", wanita tua disampingnya bertanya sopan dengan binar dimatanya.

Jadi namanya Alice.

"Apakah perlu kujelaskan kalau kami sedang berkencan?"

"Kencan!", mereka semua yang mendengar terhenyak, termasuk Alice.

Aku menghela napas.

"Oh.. ya, umm, Kami memohon maaf sir apabila telah mengganggu waktu anda", salah satu polisi itu mengatakan dengan perasaan bersalah yang mendalam.

"Ya. Itu tidak masalah. Lalu apakah ada yang ingin kau katakan lagi?"

"Tidak, sir. Terimakasih. Kami akan segera pergi", ucap dia dengan gerakan membungkuk kembali untuk memberi hormat.

"Ya", itu lebih baik, aku bergumam dalam hati dengan jengkel dan menutup pintu setelah mereka berbalik pergi.

Aku berjalan perlahan, dan ragu untuk beberapa saat seperti kegelapan mengembang di dalam diriku, tetapi tidak muncul ke permukaan dan aku tahu itu karena aku menonton dadanya yang jatuh dan aku bernapas selaras dengan dadanya dalam kaos putihnya tanpa bra. Dan itu menghipnotisku.

THE SECRETWhere stories live. Discover now