Louis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
"Sial! Itu polisi." Aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak bisa membiarkan mereka menangkapku dalam kondisi seperti ini. Jelas sekali menjengkelkan, tapi tiba-tiba aku mempunyai ide saat aku melompat dari tempat tidur.
"Mereka mencarimu?", dia bertanya dengan suara pelan dan hati-hati.
"Mana aku tahu", dustaku.
"Aku bisa saja berteriak kalau kau telah melakukan tindak pidana pencabulan dirumahku," dia menggertak dan aku merasa seperti sampah.
Aku mengangkat tanganku untuk membungkamnya, dan kemudian memakai celanaku.
Dia marah.
Aku membuka pintu, dan seorang wanita tua berambut ubanan bersama dua pria berseragam diam-diam terkejut saat mereka menatapku.
"Selamat malam."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Selamat malam. Tunggu, kalau aku tidak salah. Apakah anda..?", tanya sherif itu takut-takut.
"Aku Louis. Louis Carlton."
Butuh waktu beberapa detik bagi mereka untuk menjawab ucapanku, dan pucat ketika mereka tahu aku benar-benar Louis Carlton karena aku yakin mereka sempat ragu saat memandang kondisiku yang hanya mengenakan celana dan tanpa baju.
"Jadi benar anda tuan Louis Carlton Morano Filippo? Putra dari Adipati Deighton."
"Ya. Itu aku", nada suaraku sengaja disegarkan.
Mereka bertiga ternganga, membungkuk sedikit untuk memberi hormat, dan aku menahan diri untuk tidak memutar mataku.
"Yang mulia, maaf kami telah mengganggu anda", dalam sekejap sherif itu berkata dengan tampilan penurut.
Aku mengerutkan kening, sebal. Kenyataannya adalah bahwa aku masih ingin berada di tempat tidur bersama wanita itu, dan kedatangan orang-orang ini jelas sangat mengganggu.
"Apa yang anda lakukan di kamar Alice, tuan?", wanita tua disampingnya bertanya sopan dengan binar dimatanya.
Jadi namanyaAlice.
"Mengapa kalian begitu ingin tahu? Seharusnya tak perlu kuperjelas bagaimana aktifitas kencan kami kan."
Mereka semua terhenyak, termasuk Alice.
"Tidak tuan. Tentu kami tidak akan berani", kata salah satu polisi itu mengatakan dengan perasaan bersalah yang mendalam. "Kami memohon kemurahan hati anda untuk tidak memperpanjang perihal ini. Kami bersumpah atas nama Adipati Deighton bahwa malam ini, kami tidak melihat apapun yang berkaitan dengan anda, tuan."
Aku menghela napas. "Ya. Itu tidak masalah. Lalu apakah ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
"Tidak, sir. Terimakasih. Kami akan segera pergi", ucap dia dengan gerakan membungkuk kembali untuk memberi hormat.