TWENTY ONE

35 1 0
                                        

I wanna be your vacuum cleaner
Breathing in your dust
I wanna be your ford cortina
I will never rust
If you like a coffee hot
Let me be your coffee pot
You call the shots, babe
I just wanna be yours

***

Alice

Aku bangun dan sejenak mengalami disorientasi. Aku baru saja bermimpi terjatuh dari tangga, dan menyadari diriku terbangun bukan di kamar flatku, melainkan di kamar penthouse suite mewah. Di atas ranjang ukiran tangan karya Stuart Huder bernuansa putih dan pink yang sengaja Carlton siapkan untuk Earth. Aku membalikkan badan diatas lapisan sutra wol berpegas magnetik mengapung tersebut, melupakan mimpinya seolah ingin tidur nyenyak lagi, dan memeluk erat-erat bantal bulu angsa dan menekan batu dingin di jari manisnya hingga menyentuh pipi, tapi tiba-tiba melompat, duduk dan membuka mata. Seketika itupun teringat bagaimana dan mengapa pertengkarannya dengan Carlton mengalami kebuntuan penyelesaian, dan yang paling membuatnya rentan adalah janin di dalam perutku kini, rasa kantuk pun lenyap dari wajahnya.

Dengan gundah gulana aku melangkah keluar dari kamar dan menemukan Mrs. Darla yang mengenakan celemek dan topi katun berpita bulat sedang memberikan instruksi kepada chef berkulit hitam yang baru di dapur, tak bisa mengusir dugaan bahwa Cedric sejak semalam sudah pergi dari rumah, mungkin sewaktu aku tidur.

Mrs. Darla yang menyadari keberadaannya langsung menghentikan percakapannya, dan berjalan menghampiri, "Selamat pagi, Mrs. Judd."

"Selamat pagi, Mrs. Darla. Ada apa?"

"Sengsara sekali ma'am, semalam Mr. Carlton tak mau beranjak dari pintu kamar nona Earth sebelum akhirnya dia memilih tinggal di ruang kerjanya, kasihan melihat dia", kata Darla, berdiri dipihak Carlton.

"Sudah lama?"

"Sampai sekarang, ma'am. dan lagi semalam memarahi Mr. Ben dan memecat Mr. Cedric seperti orang gila. Bisakah Anda menenangkan hatinya? Tuan tak pernah mengijinkan siapapun masuk ke ruang kerjanya, ma'am. Kecuali Anda."

"Aku tak paham. Kenapa semuanya jadi kacau begini?"

"Aku tidak tahu, ma'am."

Ya, ya, ya. Carlton tak bakal mengampuni siapa saja yang merusak suasana hatinya, dan yang paling mengerikan Carlton cemburu pada Cedric yang tak bersalah. Disinilah letak dramanya. "Kalau begitu, aku akan kesana", kataku sambil mengerutkan dahi karena kecewa.

Aku berjalan kaku ke ruang kerjanya, mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban, aku memutuskan untuk berjalan masuk. Aneh sekali. Merasa seperti anak-anak sedang menerobos dan berkeliaran di hutan terlarang, dan menutup pintu dengan pelan dibelakangku. Mataku jatuh pada Carlton duduk di kursi kayu klasik di depan meja kerjanya, dan ingatan apa saja yang telah kami lakukan diatas meja besar itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Aku meringis, namun segera memulihkan pikiranku kembali pada Carlton yang sedang bersandar menyamping di bantalan technogel, masih mengenakan kemeja linen yang kemarin, hanya sekarang penampilannya terlihat berantakkan. Dia menghembuskan asap cerutu gurkha dua kali, meletakkan gelas lebar pendek di samping botol whiski macallan yang sudah kosong, dan hanya menyisakan es batu.

"Keluar!", Carlton membentak, dan menoleh, tapi buru-buru melemparkan cerutunya ke asbak kristal persegi, dan dengan langkah cepat beranjak dari tempat duduknya dan memelukku.

"Alice!", kata dia dengan suara lirih takut-takut.

Saat Carlton menjatuhkan kepalanya di bahuku, aku mencium aroma alkohol yang menyengat, dan mataku basah.

THE SECRETWhere stories live. Discover now