FOURTEEN

44 1 0
                                        

Carlton

Suara riuh tepuk tangan mereka mengakhiri pidato singkat mengenai konsorsium bank-bank besar yang punya visi jelas. Sementara aku melambai untuk kemudian turun dari podium berjalan menuju ke tempat dudukku. Jam tanganku mengatakan pukul delapan menandai bahwa telah resmi dibukanya 'stablecoin'. Pergerakan ini menandai era baru dalam keuangan yang lebih aman, efisien, dan transparan. Mereka melihat potensi besar di ranah aset digital, namun juga sadar kalau kepercayaan publik jadi kunci utama keberhasilan. Di tahap awal, rencana ini sudah mendapat perhatian luas karena dampaknya bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal regulasi, ekonomi, dan hubungan internasional pertama di belahan Uni Eropa.

Aku baru saja duduk saat Vereen berbisik di telingaku untuk mengatakan bahwa Mrs. Judd sudah ada disini. Aku secara reflek bangun dari kursiku untuk menemui dia. Dan sekarang lonjakan denyut jantungku adalah respons terhadap adrenalin yang membanjiri tubuhku ketika melihat penampilan sederhananya. Meskipun demikian aku melihat bagaimana wajah cantik tanpa cela itu menemukanku, dan untuk beberapa kalinya semenjak aku bertemu dia, rasa lelah pada diriku lenyap seketika.

Aku melirik ke sekeliling, dan ternyata diluar perkiraan. Ada lebih banyak orang disini dan mereka memusatkan pandangannya padaku. Ben waspada di pintu lift dan mengamati orang-orang menatapnya secara terang benderang. Tempat ini tidak steril dan aku mencoba meluruskan dasiku saat mata Alice masih tidak berkedip saat menatapku.

Persetan!

"Hai, Alice."

"Carlton", ia berkedip cepat.

"Kau sangat cantik malam ini", aku memandangnya dengan tidak berdaya.

Dan gadis mungil berambut pirang itu tersenyum padaku, "Yeah, dan kau nona, kau terlihat menakjubkan." 

"Kau ingin langsung naik?"

"Sebaiknya, ya", Alice memandang berkeliling secara naluriah, karena banyak orang yang memergoki mereka.

Seorang pria secara sengaja menghadang, sementara aku dapat mendengar suara cekikikan dibelakang.

"Permisi Prince Carlton, apakah kau punya waktu sebentar?", kata pria muda berambut ikal itu.

"Kenapa?", kataku ketus. Well... well, Aku tidak suka berbasa-basi karena saat ini aku sedang bersama perempuan yang aku sukai.

"Saya penggemar berat anda, sir!", katanya antusias. "Namaku Nicholay Freckres", katanya sambil mengulurkan tangan dan aku dengan enggan berjabat tangan dengannya.

"Senang bertemu dengan anda, Mr. Feses", kataku datar.

"Freckres, sir", dia mengoreksi.

Aku mengerutkan kening. Kenapa aku harus? Aku benci dengan perbincangan konyol dengan orang-orang yang tidak aku kenali. Tapi dia salah satu tamu undanganku juga. Pemikiran itu membuatku sedikit lebih baik terhadapnya.

"Apakah anda dan teman anda bersedia foto bersama kami, Prince", lanjutnya, namun ekspresi kagumnya menunjuk pada Alice.

"Aku tidak keberatan jika kau hanya mengambil gambarku saja, itupun hanya untuk satu kali", aku memberikan senyum kecut.

Alice dan putrinya mengambil langkah mundur saat Feses dan beberapa temannya berpose sementara satu diantaranya mengambil gambar selfie pada kamera ponselnya.

"Terimakasih, Prince Carlton", ujarnya setelah kami berfoto.

Aku memberikan anggukan singkat.

"Mungkinkah kau mau menyimpan kontakku, sir", sekarang mulutnya mengoceh sambil memberikan kartu nama ditangannya. Dan dia influencer! Untuk apa aku menyimpan kontak orang aneh ini? Aku menatap pria itu dengan menekan kejengkelan alamiku dengan kejanggalan seperti ini.

THE SECRETWhere stories live. Discover now