Carlton
Miranda Frost berusia dua puluh dua tahun. Dia lulus gelar sarjana universitas Goldsmith musim semi yang lalu. Kami pernah menjalin asmara sejak setahun lalu. Tubuhnya yang terlalu kurus tampak rapuh dan sikapnya yang selalu kesal dan tak terlalu pintar membuatku mati rasa, walaupun hampir semua pemuda yang seusianya, jatuh hati kepada Miranda. Posisi keluarganya di kalangan bangsawan menempati peringkat ke empat dalam gelar kebangsawanan. Ayahnya, Cristian Marques Frost yang seorang duta besar luar biasa Inggris memiliki gelar Viscount dari ratu Estella.
Munculnya Alice dan berita kehamilannya telah menimbulkan pembicaraan serius pertama diantara orangtuanya mengenai masa depannya, dan juga menjadi penyebab timbulnya pertengkaran-pertengkaran diantara aku dan ibu, ditambah tak keberpihakkan ayahnya kepadanya. Sedangkan kakaknya berada di pihak Alice.
Buat sang ibu, betapa tidak setaranya Alice dibandingkan dengan Miranda. Yang tidak menyenangkan ibu pada diri Alice adalah dia seorang janda beranak yang mantan suaminya mati di penjara. Menurut pendapatnya itu merupakan cerminan didikan liar di desa miskin entah berantah. Sang ibu juga sangat tidak senang terhadap kelakuannya yang masih rajin bertandang ke Ritz untuk menjalin asmara dengan Alice sementara hari pernikahannya bersama Miranda tinggal menghitung hari.
Seakan merasa gamang saat dirinya tahu bahwa secara diam-diam ibu sudah membuat kesepakatan dengan keluarga besar calon suami Alice. Dan tiba-tiba, tanpa berkonsultasi dengannya, ibu telah menetapkan tanggal pernikahan mereka enteng saja seolah bagi ibu urusan mengawinkan anak tampak urusan sepele. Betapa banyak rasa ngeri yang harus diderita, betapa banyak pikiran yang harus ditimbang, dan betapa banyak pertengkaran yang harus dilangsungkan.
Seperti yang sudah kulakukan, aku sudah sangat teliti dalam mencari tahu siapa nama calon suami Alice, tapi benar-benar tidak menemukan titik terang. Tanpa alasan yang jelas aku menjadi pencemburu kepada Alice yang memang paling dicintainya, dan selalu saja aku ribut dengan para penjaga dirumah yang tak berani buka mulut. Dan sekarang, begitu aku turun dan masuk ke ruang tengah, kedua orangtuanya sedang menanti kedatangan keluarga Miranda untuk undangan makan malam, aku pun segera menumpahkan kekesalannya.
"Dengan siapa Alice akan menikah, bu?"
"Itu-itu saja yang kau tanyakan! Tidak akan, ibu tidak akan menjawab."
"Aku tidak akan berhenti bertanya sampai ibu jengah."
"Louis! Jangan bicarakan soal itu", tegur George dari wajahnya yang bersemangat berubah menjadi serius.
"Aku sudah menanyakan satu hal ini berkali-kali, ayah. Tapi tidak ada yang memberiku jawaban."
"Louis sayang, demi Tuhan, jangan bicarakan soal itu di malam istimewa ini. Mengerikan membicarakannya", kata Caroline yang mendadak memerah wajahnya, menahan kesal.
"Istimewa untuk siapa? Untuk Ibu atau untuk siapa?", kataku menatap tajam George dan Caroline secara bergantian.
"Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri", sindir George pedas.
"Aku memikirkan ibu dari anakku, yah. Aku harus tahu dengan siapa dia akan tinggal, dengan siapa dia akan menghabiskan malamnya, dan dengan siapa yang seharusnya ayah tahu dengan siapa pikiran kita sesama lelaki", cetusku berang.
"Ya sudah, ya sudah!", kata sang ibu berteriak keras. Belum pernah aku mendengar suara ibunya semelengking itu. Sampai hampir beku darahnya mendengar teriakan ibunya, "Tapi kau harus berjanji, tidak akan mengeruhkan dan menghambat urusan yang sudah mendekati penyelesaian itu, betul?"
Dirinya jelas akan membunuh siapa saja keparat yang akan menjadi calon suami Alice, tapi terpaksa harus berkata lain dengan harapan ibunya itu mau menyebutkan nama.
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
