SEVENTEEN

48 1 0
                                        

Alice

Terletak di pedesaan Inggris dengan luas lahan mencapai 52 hektar, terpesona aku menyaksikan beragam fasilitas lengkap dari sekolah Lambrook. Mr. Kyle membawa kami berkeliling ke peternakan hewan sambil terus mengoceh. Dia menceritakan sejarah tentang sekolah pada masa kepemimpinan ratu Victoria pada tahun 1837 sampai 1901, dan bagaimana Carl bisa memiliki kemurahan hati untuk menjadi donatur utama di sekolah itu. Mulutku menganga lebar. Ungkapannya menjelaskan cukup banyak. Seberapa multimilyunernya dia.

"Kami akan menjaga putri Anda dengan baik, ma'am. Tujuan kami adalah menekankan pada pengembangan ketrampilan sosial dan emosional siswa. Aku sangat berterimakasih dan tersentuh atas kepercayaan pangeran Louis yang diberikan padaku, dan atas kunjungannya hari ini. Walaupun beliau tidak sempat ikut berkeliling tapi bagiku ini merupakan kesempatan langka, dan semuanya berkat Anda."

Ben berdiri di dekat mobil untuk membukakan pintu, Mr. Kyle mengantar sampai parkiran, dia tersenyum sebentar setelah aku duduk di bangku belakang. Aku ikut-ikutan tersenyum, walaupun aku hampir tidak menyimak semua kata-katanya, tapi dia melakukan semua pekerjaan dengan baik.

Dalam keheningan Ben menyalakan mesin, dan keluar dari tempat parkir. Dia beralih pada pemutar MP3. Interior mobil ini penuh dengan musik paling manis dan magis dari empat pemain orkestra. Oh, wow!

"Kau suka musik klasik?", aku memulai percakapan.

"Mr. Carlton, ma'am", katanya.

"Panggil aku Alice saja."

Dia berdeham.

"Lalu kau suka musik apa?"

"Seleraku adalah rock. Mulai dari The Beatles ke Rolling stones", katanya.

"Aku juga. Meskipun aku tak tahu siapa nama-nama personil dalam grup itu."

Dia menatapku sebentar melalui kaca spion tengah sebelum matanya kembali ke jalan.

Aku duduk mendengarkan alunan alat musik, menyentuh, menyayatku. Dan untuk sesaat aku memikirkan Carlton, dan merasa bangga pria itu memilihnya. Meskipun dia pergi ke Sandringham dalam sekejap mata, dan meninggalkanku menggantung tanpa kata-kata. Tapi aku merasa lebih baik. Dirinya masih khawatir ada yang memergoki mereka. Tak seorangpun tahu mereka sebagai kekasih. Perempuan sepertinya tak seharusnya menjalin cinta dengan laki-laki sepenting Carl, meskipun aku tidak menutupinya dari Matilda. Matilda!

Oh tidak. Ketenangan damai ini pecah oleh ingatan bahwa aku belum memberikan kabar kepadanya, terlalu primitif tadi malam. Aku mengambil ponselku keluar dari tasku dan menelepon Matilda.

"Matilda?"

"Hai Alice. Akhirnya aku bisa mendengar suaramu.."

"Maaf aku baru bisa meneleponmu sekarang."

"Tidak apa-apa sayang. Bagaimana perjalanmu tadi malam?"

Sebuah montase gambar-gambar tentang tadi malam berkelebat cepat melalui pikiranku. Pengungkapan rahasianya, tubuhnya yang melarutkan diri ke dalam mulut dan kulit Carlton, seks, sentuhannya...

"Lancar, perjalanannya lancar. Agak sedikit melelahkan", aku terbata.

Matilda berhenti dan memutuskan untuk berkolusi dengan penyangkalanku. "Oh, syukurlah. Aku yakin kau pasti butuh beristirahat."

"Tentu."

"Baiklah, Alice. Aku akan menelponmu kembali. Bye"

"Bye."

Astaga. Aku telah membohonginya lagi. Aku bahkan tidak mengatakan kapan aku akan mengunjunginya lagi. Teman yang tidak perhatian. Mungkin aku perlu mengajaknya pergi untuk minum kopi. Dan aku akan menceritakan semuanya pada Matilda.

THE SECRETWhere stories live. Discover now