TWENTY SIX

27 1 0
                                        

Alice

Di kantor catatan sipil Chancery Land London, keluarga Regan, yaitu ayah dan ibu James hadir sebagai saksi pernikahan. Mereka menerimanya karena koneksinya dan perjanjian bisnisnya. Tuan Regan melakukan kesalahan investasi yang membahayakan kekayaannya sehingga harus menghipotekkan perusahannya. Akibatnya, mereka harus menerima pernikahan ini, walaupun dengan hati yang berat, mereka akan benar-benar dilanda kekhawatiran tentang nasib putra mereka. Tidak ada senyuman maupun salam sambutan, yang ada hanya tatapan setajam pisau, mengawasi gerak-gerik dan bisikan-bisikan keluh kesah.

"Tak dapat kubayangkan ini bisa terjadi..."

"Tampaknya wanita itu tidaklah buruk", sebuah mulut bersuara berat berbisik.

"Kudengar mereka akan mengambil bayinya", kata seorang istri dengan nada yang berhembus seperti desahan harpa.

Madam Regan mengenakan gaun hitam berkerah tinggi dan kaku yang menutupi, tetapi tanpa menyembunyikan lehernya yang kurus tegak, yang karena emosi berdenyut-denyut seperti denyutan tenggorokan kadal. Memiliki tubuh begitu putih dan transparan sehingga dia kelihatan seperti tidak memiliki setetes darah pun dibalik kulitnya. Rambutnya pirang yang ditata dengan agung, mulutnya seperti mata pisau dengan warna merah keungu-unguan yang hampir memudar. Sedangkan tuan Regan memiliki postur tubuh tinggi besar berpakaian setelan jas rapi hitam arang. Bercak-bercak merah tersebar dihidungnya yang mancung dan megah, dengan mata yang berwarna hijau dan cambang.

Kami tidak juga berbicara. Diantara kami semua pokok pembicaraan bagikan semak berduri yang hanya bisa didekati dengan penuh kehati-hatian, sebab jika mengulurkan tangan beresiko terluka. Namun sejalan dengan terbukanya pintu, James memasuki ruangan. Dia mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, mengambil tempat disampingku, dia menganggukkan kepala untuk memberi hormat. Aku merasakan wajahku tak terlampau cerah dan berusaha menerima penghormatan itu dengan anggukan kepala bisu. Aku mengangkat mataku dan untuk sekejap aku dan James saling bertatapan langsung, aku pernah melihatnya dari dekat. Sewaktu dia datang ke Maitre bersama Carlton, terlepas dari kenyataan bahwa aku curiga, dia memiliki tanda bahaya lainnya.

"Silahkan tanda tangani disini", suara petugas catatan sipil berkata.

James Regan seusia Carlton, tetapi dia jauh lebih matang, disebabkan oleh kebiasaannya dalam mengelola emosi membara dan kekuatan selama menjadi atlit berkuda. Hanya pria berkulit kecoklatan yang menghabiskan waktunya dibawah sinar matahari yang bisa terpengaruh kebiasaan dan pemikiran pria dewasa, sementara darah muda yang panas dan kaya masih bergejolak di dalamnya. Dengan tangan yang besar dan halus berjari-jari panjang aku memperhatikan cincin berukiran batu besar berwarna gelap dan suram di jari manisnya, sebab dia menandatangani akta pernikahan dengan ballpoint Mont Blanc nya. Di bawah cahaya lampu gantung yang terang membuat cincin itu menyemburkan sinar keunguan yang berkilat-kilat, cahaya itu menyinari wajah maskulin dan rambutnya pirang disisir kebelakang, dengan tulang pipi menonjol dan berkesan angkuh.

"Selamat, sekarang kalian telah sah menjadi suami istri", kata petugas itu, dibelai haru dan bahagia.

Aku hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja petugas itu tidak menduga, bahwa aku menangis bukan karena bahagia. Airmata itu untuk bayinya yang bakal dimiliki perempuan lain. Dan untuk lelaki yang paling dicintainya. Yang kini tengah berbulan madu ke Italia dengan isterinya. Aku cemburu, rasa cemburu yang tak logis dan tak bisa dipahami. Aku memiliki keyakinan bahwa wanita muda itu akan selalu mencintai Carlton, dan Carlton kemungkinan akan mencintainya juga. Sekarang aku beroleh perasaan yang mirip dengan perasaan orang yang dengan tenang telah melewati jembatan diatas jurang, tapi tiba-tiba aku melihat jembatan telah diambil, dan dibawah sana menganga jurang yang dalam. Jurang yang dalam itu adalah pernikahannya dengan James, sedangkan jembatan adalah tiruan hidupnya bersama Carlton. Untuk pertama kali aku berhadapan dengan suatu kemungkinan bahwa Carlton mencintai orang lain, dan aku merasa ngeri menghadapinya.

THE SECRETWhere stories live. Discover now