Alice
Aku membuang pandang darinya ketika dia menutup pintu di hadapanku, dan aku segera menguncinya, memegang gagangnya, kemudian bersandar disana. Oh, dia terlihat frustasi saat aku mengusirnya. Aku begitu kejam, sangat terkejut dengan kekejaman itu. Maukah dia memaafkanku? Maukah aku memaafkannya? Pikiranku jadi kacau semua dan campur aduk, bergema dan memantul dari bagian dalam kepalaku. Ini adalah malam yang suram bagi jiwaku. Aku sendirian. Aku menginginkan putriku. Aku ingat bagaimana dia meratapi kepergianku di depan pintu rumah. Dan itu terakhir kali aku melihatnya. Aku ingin pergi jauh menemuinya, tetapi kekejaman Peter membuatku patah semangat untuk melakukan itu.. Earthku sayang.
Aku berjalan kaku sendirian ke kamar. Aku hanya ingin meringkuk. Meringkuk dan memulihkan diri dengan beberapa cara. Menyembuhkan semua yang tersisa di dalam diriku yang sedang hancur berantakan. Kamar tidur masih gelap, cakrawala masih redup menyambut fajar menyingsing. Aku naik ke tempat tidur dengan canggung, membungkus tubuhku dengan selimut, dan menangis keras ke bantalku.
Aku berhasil tidur walau hanya tiga jam. Pagi yang cerah di hari Rabu, dan sekarang adalah hari libur shift ku di Maitre. Tadinya aku berpikir untuk menghabiskan waktu dengan tidur, sampai aku sadar aku tidak punya makanan di apartemen.
Aku sedang mencuci muka dan gosok gigi untuk bersiap ke supermarket ketika bel pintu berbunyi. Aku segera menghentikan aktifitasku lalu berjalan menuju pintu dan menemukan seorang pria seusia pamanku, ada jejak mantan tentara pada posturnya. Dia mengenakan setelan necis serba hitam, membawa tiga lusin juliet rose yang dikemas secara cantik dan sebuah amplop merah muda yang membuatku heran.
"Pengiriman untuk miss Alice."
Aku berdiri di pintu depan, jantungku berdebar-debar.
"Dari siapa?", aku menunggunya untuk menjelaskan.
"Prince Carlton Morano Filippo."
Deg!
Aku menghela napas dalam-dalam, paru-paru dan jantung dipenuhi antisipasi dan ketakjuban pada sebuket mawar pink pucat yang indah dan pita putih mengkilat yang membingkai cantik. Hampir tak ada yang pernah mengirimiku bunga, tapi kini segala-galanya telah berubah. Dengan patuh aku membawa masuk hadiah itu berjalan ke dapur untuk mencari sebuah vas dan mengisinya dengan air.
Aku duduk dengan limbung menatap amplop merah muda itu, di dalamnya terdapat selembar cek senilai 30.000 pounds disertai kartu.
Aku meminta maaf.
Aku harap kita bisa mengulang pertemuan dengan lebih terhormat.
Dan terimakasih untuk malam yang indah itu.
Dengan niat tulus aku ingin kamu menerima permintaan maafku.
Louis Carlton Morano F.
Pikiranku kosong memegang kartu yang ditulis tangan, tulisannya rapi. Mungkinkah ini tulisan tangannya? Aku curiga dia terlalu dermawan dengan wanita yang pernah tidur dengannya. Aku menggeleng keras. Berusaha untuk melupakan kenangan dia di tempat tidurku, tapi aku bahkan tak bisa melarikan diri darinya. Tatapan matanya yang membakar, rasa kehilangannya, rambutnya yang mengkilap dan terang. Semuanya menghantuiku.
Aku akan mengembalikan ceknya. Tapi kemana? Aku memegang erat dahiku. Seharusnya aku segera pergi belanja, supaya tidak terlalu tenggelam pada kebuntuan ini. Ada hawa sejuk di udara tengah kota Cardiff pada pagi hari aku pergi ke supermarket untuk membeli keperluan dapur. Rute belanjanya tak berubah dari tahun ke tahun. Pertama, produk segar, kemudian tulang untuk sup, lalu groceries, detergen dan sabun mandi.
Aku membawa kantong belanjaan sampai ke flat, dan membongkarnya di meja dapur. Aku mencuci tanganku dan mulai memotong sayuran. Pada jam makan siang aku mengunjungi flat Matilda di sebelah untuk membawakan dia satu nampan hidangan shepherd pie daging domba dan dessert. Dia tidak memiliki anak, dan hanya denganku ia mau bermurah hati pada flat peninggalan hak milik mendiang suaminya Ron Stanley yang merupakan pengusaha properti dan mantan anggota eksekutif sayap liga awami di Inggris. Aku menempati salah satunya. Keseluruhan bangunan tua ini tak luas tapi fasilitasnya cukup lengkap. Semua kokoh, lantai kayu, beton halus, dengan dua kamar tidur dan ruang tamu kecil.
YOU ARE READING
THE SECRET
عاطفيةLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
