NINE

46 1 0
                                        

Carlton

Aku duduk, menunggu. Hatiku berdebar-debar. Sekarang pukul 11.46 dan aku melihat melalui kaca penuh privasi Phantomku ke pintu depan bangunannya. Aku tahu wanita jarang membuatku menunggu, mereka yang biasanya selalu menunggu. Sial. Aku menginginkan wanita itu sampai sejauh ini.

Aku mengerutkan kening. Kenyataannya adalah aku perlu untuk mencari batas-batas lanjutan kehidupan Peter Lewis. Ini mengingatkanku, aku menelepon McGrady.

"Mr. Filippo."

"Apakah kita memiliki akses ke catatan latar belakang kriminal?

Dia menarik napas tajam, ini adalah reaksi paling terkejutnya yang pernah aku dengar."Bisa aku tanya kenapa, sir."

"Tidak. Lakukan saja oke!", kataku memarahi dia.

Dia terdiam sejenak.

"Baik, sir."

Aku bergeser dari kursiku di belakang mobil, membaca catatan pada layar dengan hati-hati pada komputer tablet dan disana aku menemukan fakta yang mengejutkan bahwa Alice telah mengalami tindakan kekerasan selama hampir tiga tahun pernikahannya, dan menikahi wanita malam bernama Julia Hafren yang merusak rumah tangganya. Itulah mengapa aku ingin mencari celah untuk menjebloskan bajingan itu ke penjara. Catatan berikutnya berganti pada Peter dan Julia saat ini sedang dalam pengawasan pusat perlindungan anak, mereka diduga melakukan penyiksaan pada putri tunggalnya. Mungkin aku harus segera masuk ke akses perusahaannya. Aku ingin segala sesuatu yang mereka lakukan, dan siapapun yang bekerja untuknya.

Dan sekarang untuk poin berikutnya di daftar masalah. Aku mengambil napas dalam-dalam. Mendapatkan kepercayaannya. Ada dinding kokoh yang membentang antara aku dan Alice. Dunia ini terkesan absurd karena itu memang benar. Aku bisa menunjukkan padanya hubungan yang menyenangkan, tapi aku tak bisa menegaskan ini secukupnya.

Aku menyurukkan tanganku ke rambutku, mencoba mengabaikan keraguanku. Saat Alice dan putrinya berjalan ke mobil. Aku menutup emailku dengan segera, dan memasukkan komputer tablet ke dalam partisi kabin elektrik, dan aku mendongak, senyum lambat menyebar di wajahku saat Ben membuka pintu dan menawarkan tangannya untuk membantunya memanjat masuk. Dan tiba-tiba dia duduk di sampingku.

"Maaf, telah membuatmu menunggu lama", kata Alice.

"Itu tidak masalah."

Untuk sesaat tatapanku bergeser pada gadis kecil itu, mencari-cari kemiripan dengan ibunya. Banyak kesamaan di sekitar wajah dan tangan, hanya warna rambutnya yang berbeda, gadis kecil itu memiliki rambut pirang. Untuk kemudian aku bisa melihat peringatan pada postur bocah itu. Dia kurus dan mata cekungnya yang menandakan malnutrisi. Dalam keadaan normal mungkin bobot anak seusianya bisa sekitar dua puluh lima kilogram. Dia tidak makan dengan benar. Hal itu membuatku tidak membiarkan senyumku singgah dibibir karena aku tahu ini bukan keadaan normal.

"Mr. Carlton, Kenalkan ini adalah putriku. Earth. Darling ini teman ibu, Mr. Carlton", Alice berkata saat Ben menutup pintu mobil.

"Hai", aku memberikan tanganku untuk menjabat tangan kurusnya, dia terlalu ringan, terlalu rapuh.

Sambutannya datar, namun tatapan kosongnya berubah menjadi pancaran binar dalam sepersekian nanodetik ketika dia menyadari sesuatu, "Apakah kau pangeran Louis", bisiknya takut-takut.

Bukan itu yang ingin kudengar, tapi aku mencoba untuk tidak bereaksi berlebihan. "Uhm. Bagaimana kamu bisa tahu aku pangeran Louis?"

"Bukankah wajahmu ada dimana-mana. Di majalah, televisi, koran dan seluruh internet di dunia. Semua orang sangat mengagumimu", katanya.

THE SECRETWhere stories live. Discover now