"Chapture 24 all feelings and stories is human lives; hope, despair, lost and found..."
***
Alice
Carlton tidak makan siang dirumah, tapi dia berjanji akan pulang pada pukul tujuh. Jadi setelah pertemuan singkatku bersama Miranda siang itu, aku melihat jadwal kereta api. Ada kereta siang pukul 1.05. Aku memesan tiket, dan mengemasi koperku, membawa beberapa barang yang hanya kubawa dari apartemen lamaku, dengan tidak dalam keadaan tenang, aku melepaskan cincin dari jari tanganku untuk mengemasnya lagi di dalam kotak dalam keadaan prihatin. Airmata mengancam. Oh, tidak. Seharusnya lebih bahagia, bila ada harapan untuk lebih. Aku mengeluarkan persoalan ini, mengetahui bahwa aku perlu mengembalikan beragam fasilitas ini padanya. Segera aku merobek sepotong kertas kecil dari notebook milik Carlton, buru-buru menulis catatan untuknya, dan meletakkan diatas kotak.
Berusahalah menjadi suami yang baik untuk dia. Kumohon padamu. Demi anak kita.
Terimakasih.
Alice
Aku menatap diriku di cermin. Sebuah tatapan seperti hantu yang pucat dan angker ke arahku. Aku meraup rambutku mengikat menjadi ekor kuda dan mengabaikan kondisi kelopak mataku yang membengkak karena tangisan. Aku tak percaya bahwa duniaku telah runtuh di sekitarku menjadi tumpukan abu, semua harapan dan impian secara kejam menghilang. Tidak, tidak tidak jangan berpikir tentang hal itu. Jangan sekarang, belum. Ambil napas dalam-dalam, aku mengambil koperku, mengubah pengaturan ponselku menjadi mode pesawat, dan setelah menempatkan kotak kecil dan catatanku di atas bantal, aku menuju ruangan besar.
Darla tiba-tiba saja menghentikan aktifitasnya, dan berkata, "ya, Tuhan. Anda mau pergi kemana, ma'am? Anda begitu baik! Tapi Anda akan meluruskan keadaan ini kepada tuan Carlton, kan? Ya?"
"Tidak, aku harus pergi, Mrs. Darla", kataku kepada pelayan setianya mengenai perubahan rencananya dengan nada sedemikian rupa, seolah-olah teringat urusannya begitu banyak sampai tak terhitung lagi, "Posisiku sangat sulit sekarang!"
"Bagaimana aku akan mengatakan kepada tuan Carlton, ma'am?", kata Darla sambil menatapnya cemas. "Aku bisa dipecat".
"Katakan saja aku pergi!", ujarku mantap dan langsung menatap mata Darla, "Kamu tahu, aku sudah merusak... Akulah yang menyebabkan kenapa Miranda ingin bunuh diri? Akulah yang menyebabkan hubungan gadis itu menjadi siksaan, dan bukan kegembiraan. Bagaimana aku bisa tetap bersama Carlton sesudah tahu ikatannya dengan perempuan itu?"
"Terus terang saja ma'am, kukatakan ini padamu, aku tidak begitu menginginkan tuan Carlton bersama miss Miranda. Dan lebih baik putus saja dia. Tuan Carlton tak pernah begitu menginginkan perkawinan sekuat dia menginginkan Anda."
"Ya, Tuhan, ini akan konyol sekali jadinya!", kataku, dan kembali rasa puas muncul tegas di wajahnya mendengar apa yang mengharu pikirannya terucap dalam kata-kata, "Beginilah jadinya, aku pergi sesudah menjadikan Miranda musuh, Miranda yang begitu kucintai. Ah, anak begitu baik."
"Janganlah Anda merasa bahwa seluruh kemalangan ini karena kesalahan anda, ma'am. Tuan Carlton sangat mencintai Anda."
"Ah, alangkah bodohnya aku sekarang ini", aku mengusapkan saputangannya ke wajah, dan berjalan ke pintu, "karena kamu dapat memahami diriku, dulu maupun sekarang. Selamat tinggal, Mrs. Darla!"
"Jangan pergi, ma'am", katanya memohon dengan airmata yang mengembang.
"Maafkan aku, Mrs. Darla", kataku membuang muka darinya sebelum aku berubah pikiran dan mencoba menghiburnya.
YOU ARE READING
THE SECRET
Roman d'amourLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
