TWELVE

46 1 0
                                        

Carlton

Pukul delapan lebih tiga puluh menit aku turun dari lantai tiga puluh kamar penthousenya di kompleks Villagio House. Aku melihat jalanan dari kaca lift di Ritz Carlton, fasad empat tower bangunan Hotel dan apartemen bergaya Victoria yang akses bangunan utamanya menghadap ke jalan. Ini sudah menjadi rumah kedua sejak beberapa minggu belakangan, dirinya telah berada di Cardiff hingga senin. Ben terpaksa memindahkan beberapa barang dan dokumen dari London untuknya tinggal.

Pada kesempatan langka ketika Carlton ingin membawa seorang perempuan untuk tinggal di penthousenya, dia mengutus anak buahnya yang lain, bukan Ben, tapi Verren untuk menangani situasi tersebut. Vareen tidak hanya membelikan semua kebutuhan perempuan dan pakaian bersih dari rumah mode Italia, tapi dia juga telah mendesign ulang kamar dan ruang rekreasi untuk putri dari perempuan itu. 

Aku melangkah cepat melewati loby, dan resepsionis melompat kaget ketika melihatku muncul.

"Selamat pagi Mr. Filippo", Monica menyapa dengan keterkejutan dalam suaranya. Kilatan genit dimata gadis ini namun tidak ingin aku akui.

Setiap hari, seperti lagu murahan yang diputar berulang-ulang. Mengabaikannya, aku mendatangi mobilnya yang sudah menunggu, Ben buru-buru membukanya.

"Pukul berapa gelandangan pantai itu tiba di Maitre?", aku menggonggong pada Ben saat duduk di mobil. "Apakah dia sudah menghapus tulisannya?"

"Morgan sudah menghapus ulasannya, sir, dan dia akan tiba di Maitre pada pukul sepuluh."

"Bagus."

Jadi aku mempunyai beberapa menit di toko kecil itu untuk minum kopi, sambil melihat jemari ramping itu mengemas kue yang akan dipajang di etalase dan seperti biasa, dia membayangkan bercinta dengan Alice. Perempuan yang sudah menikah tak mungkin terkejut oleh seks, tapi kemudian tak tahan membayangkan seorang pria bajingan pernah berada diatas tubuhnya. Aku memejamkan mata, berpikir seperti apa rasanya nanti bersama perempuan itu setiap malam? Sewaktu aku datang ke Maitre, dan melihat dia menumpahkan makanannya, aku merasa hampir gila karena menahan diri tak mendekap perempuan itu. Yang mencegahnya melakukan itu adalah kesadaran bahwa Alice tampak sesuatu yang begitu bersih dan cermerlang dalam ekspresinya, sesuatu yang tak bisa dicemari.

Ben turun untuk membuka pintu mobilku, aku turun dan menatapnya. Dia menatapku waspada, perduli tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Aku mengambil napas dalam-dalam. Membuka mulutku lalu menutupnya lagi. Aku membuka sekali lagi.

"Ben, bagaimana penampilanku?", Mata Ben melebar, ada sedikit geli di bibirnya.

"Sempurna, sir."

"Sempurna?"

"Ya, sir. Anda selalu bugar dan terlihat lebih muda dari usia anda, sir", Ben bisa mendeteksi perasaannya, karena aku tak menutupinya.

"Kau tunggu disini."

"Baik, sir", katanya dan menutup pintu mobil.

Aku melihat jam bahwa sekarang pukul Sembilan, dan aku masuk melewati pintu toko yang papan tulisannya masih tertera tulisan 'tutup' pada pintu kaca dan aku melihat Alice. Dia mengenakan terusan jeans selutut dari toko-toko murah dengan boot coklat, rambutnya dikucir kuda, menari dengan musik, hanya saja aku tidak bisa mendengarnya. Dia memakai earbud.

Tanpa dia ketahui aku duduk di salah satu kursi dan menonton pertunjukkan. Dia menyemprot meja, membersihkan dinding, rambutnya memantul saat dia bergoyang dari kaki ke kaki, dan aku menyadari dia memiliki kaki yang jenjang dan indah. Dia menjadi salah satu wanita paling tidak teratur tapi lucu yang pernah aku temui. Itu mempesona.

Dengan gerakan selanjutnya, kemudian aku menyadari dia memakai celana dalam putih dengan renda dipinggirnya, dan aku gelisah di kursiku memikirkan segala cara untuk bisa menyentuhnya lagi. Saat tubuhnya membungkuk dengan posisi kepalanya di bawah, dia melihatku dari celah terbuka diantara kedua kakinya, dan membeku. Aku ingin tertawa keras tetapi aku tidak melakukannya.

THE SECRETWhere stories live. Discover now