EIGHTEEN

32 2 0
                                        

Carlton

Sementara kami berpacu di sekeliling awan dalam gelembung, tinggi diatas langit, optimismeku kacau dan ototku menegang saat sapuan amarah merasukiku. Keparat itu telah membuat kekacauan dan aku tidak ada disana untuk menghentikannya. Seharusnya Alice bersama Ben. Tapi perempuan itu memilih untuk bertindak sendiri. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Aku melihat pusat helipad Ritz Carlton pada pukul sembilan malam, dan kulit kepalaku mencoba untuk meninggalkan tempat ini. Ben sedang menunggu untuk menyambut. Dia orang yang sigap. Veteran perang Angkatan laut Inggris, tapi direkrut oleh dinas inteligen rahasia diusia lima puluhan. Kerjanya yang efektif dan tidak ada yang lolos dari pengamatannya menambah penyempurnaan deskripsi pekerjaannya sebagai pertahanan kerajaan. Matanya menyala saat aku membuka pintu dan melompat turun.

"Bagaimana? Apakah dia sudah siuman?"

"Sudah, sir. Namun Mrs. Judd mengalami trauma kompleks."

"Apakah lukanya serius?", aku memberinya nada kejengkelan, seharusnya Ben tetap menjaganya utuh.

"Robekannya sekitar dua sentimeter pada pelipis kirinya dan itu sudah ditangangi, sir."

"Lalu dimana keparat itu?", aku memakinya.

"Mulai hari ini. Peter Lewis sudah memiliki semua alasan untuk memberi dia hukuman dua puluh tahun penjara, sir."

"Sekarang. Detik ini. Aku ingin dia mati. Pikirkan untuk melakukan sesuatu dengan caramu", aku menguarkan kedigdayaan jahat, seperti sosok monster yang sudah tumbuh dua kepala.

Ben bisa melihat kemarahannya. Sebuah kehormatan untuk membantu menjadi pembungkus bersih untuk perbuatan kotornya. Bantuan menciptakan kewajiban, dan mantan Marinir itu bertekad melakukan apa saja semampunya bagi Carlton.

"Tetap informasikan padaku."

"Baik, pak."

Ada hukuman berat apabila bajingan itu menyentuh Alice, apalagi sampai menyakitinya, sesama tahanan akan membuatnya mati dipenjara. Ben kenal orang-orang sipir yang mayoritas hanya berusaha mendapatkan amplop setiap bulannya. Mereka yang berkuasa akan mengatur perkelahian antar sesama tahanan. Aku mengabaikan pikiran itu dan masuk ke pintu.

Di kamar, Alice sedang berbaring di tempat tidur sambil menatap kota Cardiff yang sedang tidur dari balik jendela kaca. Dia menutupi gaun tidur pink pucatnya dengan selimut sampai ke batas perut. Aku berdiri seperti lumpuh saat menyadari wajahnya yang kacau penuh keprihatinan, ketegangan melingkari matanya, tangannya menyentuh dahinya, meraba kassa steril yang menutupi luka di pelipisnya. Kacau atau tidak, dia masih terlihat begitu... cantik. Sambil melepas dasiku aku mengagumi dia.

Alice menoleh, menatapku melalui bulu mata yang panjang, matanya bersinar, dengan sengaja aku melangkah menuju kearahnya.

"Hei", aku mengangkat bahu untuk melepas jas, melempar dasiku ke sofa.

"Kau disini", dia memelukku tiba-tiba, mengeluarkan semua isakan yang menghancurkan dada.

"Iya, aku disini", aku membungkusnya di sekelilingnya, membelai kepalanya, punggungnya, "Jangan menangis, sayang. Kumohon",

"Peter yang cukup bodoh telah membunuhnya. Matilda telah meninggal", intensitas rasa takutnya, aku bisa merasakannya, semua warna mengalir keluar di wajahnya.

"Mereka akan menghukum dengan cara yang pantas."

Dia mendongak padaku, "Sungguh?"

Aku mengangguk, membungkus lengannya di sekitarku lagi, dan mengusap lembut airmatanya.

"Aku sangat marah padamu saat ini. Kau bertindak sendiri tanpa Ben", aku tak bisa menahan putus asa keluar dari suaraku.

"Aku tak tahu harus berpikir apa. Aku pikir aku tidak akan lama.", bisiknya.

THE SECRETWhere stories live. Discover now