Louis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
Dua minggu berlalu sejak aku bertemu Carlton. Melupakannya begitu saja bukan hal yang mudah. Melawan dorongan melihatnya di televisi dan menghabiskan waktuku berhari-hari untuk menatap kelopak mawar yang mulai gugur satu persatu. Dan aku mulai menyesali kekejaman ucapanku. Setidaknya itulah yang aku katakan pada diriku.
Pagi ini aku masuk ke mobil fiat uno lamaku, memutarnya dengan mudah dan mundur dari jalan masuk. Memutuskan bahwa sepulang bekerja aku akan ke Bristol, menemui Earth. Melalui Kate Morice tetangga lamaku, dia telah memberiku alamat sekolahnya, Westbury elementary school. Mengajaknya duduk di sebuah kedai hamburger sepertinya akan menjadi ide yang bagus. Aku membayangkan wajah cantiknya sekarang, dan begitu yakin bahwa gadis kecilku akan senang berjumpa dengan ibunya.
Di parkiran Maitre, aku memarkir pararel mobilku diantara dua mobil buatan luar negeri mahal disini. Dan aku merasa mobilku jadi tampak berkarat, sangat tidak cocok. Aku memutar mataku dan menyesuaikan kaca spion untuk menyisir bulu mataku dengan tabung maskara kecil dan percaya diri bahwa aku telah memakai celana jeans terbaikku dengan sweater rajut biru. Aku tidak perlu repot-repot mengunci mobil, karena tidak dalam bahaya untuk sebuah mobil tua dicuri disini.
Aku membuka pintu Maitre dan melangkah masuk. Mr. Blaire dengan memakai celemek dan sepasang kacamata berbingkai kawat memberiku senyum yang erat, aku menganggukkan kepala padanya.
"Ulasan dari seorang blogger bagai mimpi buruk, Al", keluhnya, "toko Maitre tidak ada bedanya dari sebuah tempat pemakaman"
Aku menghela napas.
"tapi eclairmu adalah yang terbaik di Cardiff, sir", kataku membesarkan hatinya. "atau dia hanya salah satu pesaingmu yang sengaja ingin menjatuhkanmu."
Tuan Blaire mengangguk. Dia tak membantah, ketika ia berputar kembali dan mulai berjalan menuju dapur, ke tempat para koki tetap memproduksi beberapa loyang sponge cake lembut yang diberi topping rasa tahilla vanilla dan pecan. Aku membawa satu tray penuh kreasi makanan yang dikemas cantik dan mulai menatanya di gerai meja. Kemudian entah sebab apa aku melihat keatas, dan mulutku kering.
Oh. My.
Carlton? Apa yang dia lakukan disini? dengan mengenakan sweater wol hitam, dilapisi jas warna coffee rumah mode dari Italia, Brioni, dan sepatu hitam mengkilat.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku pikir mulutku melongo ketika melihat Carlton masuk diikuti oleh lelaki dengan setelan jas dengan kerah terbuka dan mantel kulit selutut, rambut pirang dan mata gelap membara.
Tanganku mulai bergetar panik mengikuti irama jantungku, dan menjatuhkan satu nampan penuh makanan ketika aku benar-benar syok melihat Carlton berdiri di hadapanku berpenampilan seperti seorang predator yang seksi, dan dia ada disini bersama temannya yang saat ini sedang menyeringai padaku.
Sialan besar.
Aku dan kedua tanganku yang ceroboh! Sekarang aku dalam posisi berjongkok, dan dengan cemas saat jariku meraba-raba lantai untuk mengambil kembali makanan yang jatuh di depanku.