TWENTY FIVE

24 1 0
                                        

Carlton

Saat aku membuka mata, Jam dinding yang asing menunjukkan pukul 06.45 dan aroma karpet apek membuatku sempat linglung. Oh ya, aku di The Grafton Motel. Bagaimana bisa aku setuju dengan bilik kapsul ini?

Alice.

Perlahan aku menoleh, dan ia tertidur lelap menghadapku. Tubuh kami saling berpaut dibawah selimut, tanpa pakaian, dan penisku menegang, menyambut. Wajahnya yang cantik tampak lembut dan tenang. Dan saat dia tidur, tanganku pun gatal untuk tak menyentuh setiap inchi tubuhnya yang indah. Aku memperhatikan naik turunnya dadanya yang menghipnotis dan aku bernapas seirama dengannya. Selama beberapa detik, menit, jam, aku tidak tahu, aku memperhatikannya, dan membelai perutnya yang masih rata, merasakan bahwa di dalamnya terdapat buah cintanya bersama Alice. Fakta itu membangkitkan gairah, sangat membangkitkan gairah, dan secara naluriah aku meringkuk di sekelilingnya seperti tanaman merambat.

Aku menghujani wajah dan bahunya dengan ciuman. Alice memberikan reaksi dengan gerakan mengulet, saat dia bangun ia menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun, diangkatnya tanganku dan diciumnya. Gerakan lembut itu menenangkanku.

"Jam berapa sekarang?", tanyanya.

"Sekarang jam tujuh empat puluh lima", kataku sambil menciumnya.

"Pukul tujuh empat lima?", ulangnya.

Saat ibu jariku bergerak ke bibir bawahnya yang lembut, yang ingin kucium lagi, kemudian seolah mengerahkan seluruh tenaganya, Alice bangkit dan menolaknya. "Aku terlambat."

"Terlambat kenapa?"

"Ke kantor catatan sipil. Sekarang aku tak punya pilihan", katanya dengan rasa benci dan ngeri, dan rasa ngeri itu tanpa terasa juga menjalar.

Dengan geram, aku turun dari tempat tidur dan bergerak cepat untuk menciumnya, menangkap tangkisannya dimulutku. Dia terengah-engah, tenggelam dalam kenikmatannya. Kenikmatanku.

"Bagaimana bisa aku melihatmu menikah dengan sahabatku sendiri, Alice? Aku cemburu!", kataku diliputi amarah, karena aku menginginkannya. Seluruh dirinya. Aku menciumnya sekali lagi dengan ciuman panas yang agak kasar yang berakhir dengan gigitan.

"Kamu pikir aku tidak cemburu pada Miranda? Dia memiliki dua orang yang paling aku cintai", dia menjerit, meronta di dadaku, dia sampai menangis.

Aku berhenti."Dua orang?"

"Ya. Kamu dan anak kita", kata Alice dengan ekspresi putus asa bercampur sikap dingin.

Kini aku bergantung pada belas kasihannya. Wanita yang kucintai. Akupun tak mampu menemukan kata-kata yang kiranya bisa digunakan untuk mengungkapkan seluruh kerumitan perasaannya, hingga Alice dengan cepat meraih handuknya, dan bergegas ke kamar mandi.

Dengan enggan aku memakai celanaku, dan memeriksa surel tetapi mengabaikan urusan yang tidak mendesak, kemudian menghubungi Ben yang berada di kamar sebelah melalui telepon nirkabel, dan dia menjawab sebelum telepon sempat berdering.

"Selamat pagi."

"Ini aku."

"Mr. Carlton"

"Buatkan perjanjian dengan dokter obstetrician terbaik disini untuk jam sembilan. Dan Bisakah kamu membawa satu tas gantiku ke kamar."

"Segera, pak. Dan Sirkosky?"

"Suruh Isaac standby sampai jam sepuluh di bungalow."

"Baik, pak."

Aku menutup telepon dan mengirim pesan kepada Patricia untuk menanyakan apakah James sudah menandatangani surat perjanjian kerahasiaan itu. Jika James ingin menikahi Alice, dia tidak boleh menyentuhnya, dan akupun merasa telah menemukan pijakan hukum untuk menangani situasi yang timbul, atau aku harus memberinya peringatan, dan bahkan menggunakan kekuasaan.

THE SECRETWhere stories live. Discover now