MIRANDA
Aku menceritakan kata-kata pangeran Carlton kepada ibu pada esok paginya, tapi dia menangkap kata-kata itu secara lain. Dirinya tahu ibunya itu sedang berada diatas awan, merasa bahwa pernikahannya bersama pangeran Carlton adalah hal yang dinantikannya, dan aku heran mengetahui bahwa kedua orangtuanya lebih takut menyinggung perasaan keluarga Adipati Deighton daripada perasaan anak semata wayangnya itu. Walaupun dirinya memang mengharapkan apa yang diharapkan kedua orangtuanya, tapi respon mereka itu menyinggung perasaannya. Adapun kenangannya tentang Carlton bercampur dengan perasaan kikuk, dan memang, seolah ada yang palsu, sesuatu yang bukan dalam diri Carlton yang pernah ia kenal dulu.
Dan hari itu, aku hanya mengirimkan pesan kepada Alice untuk mengajaknya bertemu. Menurut perasaannya, wanita yang baru dikenalnya itu memiliki pesona dan rasa simpati yang tulus, seolah pertemuannya dengan Alice membuatnya merasa memiliki kesehatan fisik dan ketenangan Batin.
Ketika di lantai atas untuk berpakaian guna menghadapi pertemuan, dan bercermin, dengan gembira, dirinya sedang berada pada salah satu hari terbaiknya, dan merasa menggenggam seluruh energi yang memancar. Perasaan itu amat diperlukannya dalam menghadapi peristiwa hari pernikahan yang bakal terjadi esok lusa.
Aku tiba di Ritz Restaurant pukul sepuluh, begitu aku masuk, Alice sudah berada disana. Gaunnya yang hitam dengan renda-renda indah menampakkan bahu dan dadanya yang penuh pun hanya sekedar pigura, sedangkan yang tampak nyata adalah sosoknya yang elok, cantik dan bersamaan dengan itu riang, dan bergairah. Aku merasa belum sanggup memahami seluruh kecantikan perempuan yang mencerminkan kesederhanaan dan keanggunan itu.
Alice menyambut dengan gembira, hal itu aku lihat dengan segera. Sebagai tanda hormat dalam menjamu tamunya, dia membawaku mengampiri buffet brunch, mencicipi salad segar dengan gelato, dan mengatakan sesuatu kepada pelayan dengan rompi, dan duduk di kursi beludru.
Agaknya Alice mengagumi kecantikan dan kemudaannya, belum sempat aku menyadari, aku sudah merasakan dirinya jatuh dalam pengaruh perempuan itu. Aku memuji semua kebaikan yang ada dalam diri Alice, seperti gadis muda yang jatuh cinta kepada perempuan yang sudah bersuami dan lebih tua, tapi dalam diri Alice tersimpan suatu dunia yang sangat tinggi, yang rumit tak dijangkau olehku, itu dapat dilihat dari keluwesan geraknya, kesegarannya, dan kegembiraan yang tampak padanya, yang kadang menjelma dalam senyuman dan kadang pada tatapan mata ataupun sinar mata yang kadang serius, kadang sedih, yang sungguh memukau dan menarikku ke dalam dirinya.
"Aku ucapkan selamat untukmu. Jadi kapan pestanya akan diadakan?", tanya Alice kepadaku.
"Besok lusa. Aku ingin kamu datang. Kehadiran tamu istimewa yang membuat mempelai pengantin wanitanya bahagia."
"Memang ada pernikahan dimana pengantin wanitanya tidak bahagia?", kata Alice mengejek mesra.
"Memang aneh, tapi ada. Kami memang pernah menjadi pasangan, tapi ada hal yang terasa kurang bagiku, ada dunia khusus yang aku tidak bisa menjangkau itu."
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?", tanya Alice.
Aku melihat bahwa Alice tahu jawaban yang bakal aku berikan itu.
"Karena itu aku senang sekali kalau kamu hadir. Aku ingin sekali melihatmu di hari istimewaku."
Wajah Alice memang mudah menjadi merah, dan wajahnya memang memerah saat dia mengatakan, "pertama-tama, aku ingin sekali pergi karena akan merasa senang bisa menyenangkan hatimu, tapi yang kedua, aku minta maaf, aku kira kita memiliki kesamaan dalam rencana hari pernikahan kita, karena besok lusa aku juga akan menikah."
Aku terkejut, dan tersenyum diam. Dia tak pernah menceritakan apapun tentang kisah romansanya, dan sekarang dia mengatakan akan menikah!
"Oh, ya? Ini sangat menyenangkan buat kamu. Aku ucapkan selamat juga padamu."
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
