Alice
Kami berkendara dalam sunyi. Tatapanku kosong keluar jendela, aku tak bisa membuang kegelisahanku, dan bertanya-tanya apakah kedekatanku dengan Carlton adalah ide yang baik. Aku tersenyum pada memori awal pertemuan kami. Mungkin itu 'situasi' diluar kendali? Aku merasa ada sesuatu dengan Carlton, sesuatu yang aneh, atau mungkin tidak. Dan aku berada di dua sisi, bersemangat ketika bersamanya, disisi lain aku gelisah mengenai apa yang menunggu diakhir perjalananku.
Earth tertidur dengan nyaman disepanjang perjalanan, menyandar di jok kulit tebal empuk mewah, koleksinya yang lain. Mercedes maybachnya. Mata Ben hanya fokus ke jalan. Dia begitu konsentrasi. Sifat fokusnya tidak bisa menggambarkan tentang dirinya.
Perjalanan melambat, terjebak lalu lintas pada jam sibuk. Aku tak bisa menahan keheningan ini.
"Apakah kau sudah lama bekerja untuk Mr. Carlton, Ben?"
"Ya, ma'am."
"Berapa lama?"
Aku mengerutkan kening. Dia melirikku melalui kaca spion, mata kami bertemu. Dia tak banyak bicara. Astaga, dia menjadi bungkam.
"Apakah Mr. Carlton sering berada di Cardiff?"
"Tidak terlalu, ma'am."
"Atau dia lebih sering berada di Kensington?"
"Ya, ma'am."
"Oh, oke."
Ya, itu percakapan terbatas kami. Dan kami terus berada di keheningan hingga tiga puluh menit kemudian dia menurunkan aku di depan bangunan tua bercat kusam yang aku sebut apartemen.
"Sudah sampai, ma'am", katanya menahan pintu terbuka untukku. "Aku akan membawa putri Anda", katanya dengan formal, tapi aku melihat sedikit senyum di mata cokelatnya yang tajam.
"Tidak, aku bisa membopongnya sendiri. Terimakasih."
Bibirnya terlihat mengencang.
"Tapi, jika kamu merasa lebih nyaman, bawalah", aku tergagap.
"Baik, ma'am", dia membopong Earth yang masih lelap dalam dekapan, dan naik ke tangga lantai dua.
Setelah menidurkan Earth di sofa dia meletakkan kunci mobilku diatas meja laci.
"Mobil anda sudah diperbaiki, ma'am".
Aku menatap Ben yang tetap tenang tanpa ekspresi.
"Apakah kerusakannya parah?"
"Ya. Bagian selenoid yang sudah tidak bekerja".
"Oh", dalam hatiku tak tahu apakah itu.
Ben berjalan keluar, aku mengikuti langkahnya sampai ke pintu.
"Terimakasih sudah memperbaiki mobilnya, dan sudah mengantarku."
"Sangat menyenangkan untukku, Mrs. Judd."
Aku melihat senyuman di bibir Ben saat mata kita bertemu.
"Mr. Carlton adalah orang yang baik ma'am", ucapnya, ekspresinya sangat lembut dan hangat, bahkan layaknya seorang paman.
Astaga, dia seolah ingin menenangkan kegelisahanku. Dan kata-katanya barusan membuatku sedikit lega. Aku ingin bertemu Carlton setiap saat. Siapa lagi yang diajak bicara atau ditanyai oleh laki-laki itu? Apa yang dilakukannya pada malam hari sewaktu aku tertidur, bekerja di Maitre pada pagi harinya, atau sekedar belanja ke suprmarket? Rasanya mustahil bertanya pada Carlton, jadi dia menyimpan sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Setelah Ben pergi, aku menutup dan mengunci pintu. Aku memindahkan Earth ke kamar tamu, dan sementara dia masih mendengkur, aku mulai membersihkan diri di kamar mandi. Pada saat selesai aku mulai mengepak pakaian dan beberapa barang. Entah sebab apa, aku melihat ke bawah ranjang. dan menemukan sebuah briefcase mewah berlambang cartier di sana. Aku membuka tas itu, dan di dalamnya aku menemukan sebuah karya lukisan sangat indah diatas kertas kanvas sejenis linen Belgia dengan permukaan sangat halus dalam kondisi sempurna, dan di satu sisi ditulis dengan tinta hitam dengan tulisan tangan bersambung rapi, Micheangelo di Lodovico Buonarroti Simoni, Republic Florence Co, 1564.
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
