TEN

45 1 0
                                        

Alice

Aku berhenti bernapas, mulutku menganga, aku terhuyung-huyung menatap penuh takjub pada pria dengan mainan mewahnya. Superstrutur baja senilai dua ratus juta dollar di depanku. Sebuah fantasi seorang naval arsitek, The georgeous Pelorus superyatch, dengan lambang 'Morano Filippo' ditulis diam-diam dibawah buritan daun kemudi, tepat di bagian belakang. Itulah kapalnya, di dermaga pribadinya, yang terus terang menakutkan. Dan mereka akan membawa aku dan putriku pergi. Hanya untuk makan. Ini mustahil.

Dengan disambut oleh seluruh kru, di barisan paling depan berdiri seorang pria tegap, berusia paruh baya, mengenakan setelan jas putih dan topi nautical yang belum pernah aku lihat. Dia kapten kapal.

"Sir, kapal anda siap untuk berangkat."

"Terimakasih Jeff", Carlton menjawab, dia berbalik, melihatku, dan melengkungkan alisnya sedikit ketika aku dan putriku berdiri dengan rendah diri di belakangnya. Aku mulai berharap aku dan putriku memiliki salah satu gaun resmi daripada memakai sweater, sepatu boot dan celana jeans. Aku menyelipkan rambutku di belakang telingaku dan berpura-pura dia tidak mengintimidasiku. Aku dan Earth tidak cocok di sini.

Louis Carlton mengulurkan tangannya kepadaku, dan pada Earth, untuk berada lebih dekat disampingnya dan aku melihat dia berjalan dengan atletis luwes, dan tersenyum, matanya yang gelap berkerut di sudut-sudutnya. sepintas kami seperti satu keluarga kecil yang bahagia.

Tatapan para kru melirik, secara otomatis elegan, namun tetap saja membuat keringat mengalir di punggungku, aku menyeret udara ke paru-paruku. Langkah kakiku terasa seperti terikat rantai beton sehingga menaiki beberapa anak tangga terasa sangat sulit. Aku tidak ingin menarik perhatian dengan keberadaanku, aku menatap mata birunya yang geli, dan tak tahu apa yang dipikirkannya.

"Kemana kita akan berlayar?", aku meluruskan bahuku, berupaya untuk terlihat lebih tinggi dan lebih percaya diri.

"Kamu pernah mengunjungi St Ives?"

"Sebuah permata di mahkota Cornwall itu?"

"Ya."

"Aku mendengar St Ives itu indah."

"Memang indah. Kamu belum pernah kesana?"

"Belum."

Dia mengangkat alisnya sebelah dan menganggapku serius. "Kamu harus melihatnya sekarang".

"Sekarang?", jeritku.

Dia mengangguk, tersenyum aneh, aku punya senyum rahasia kekalahan besar dan aku ingin mengatakan itu dalam keheningan. Dia setidaknya terlihat tenang seperti biasa, mengumpulkan kesadaran dirinya. Sedangkan aku, aku berusaha keras untuk mengukur seberapa jauh jarak perjalanan untuk makan siang hari ini.

Pintunya bergeser terbuka, dan kami masuk ke lambung kapal semua terbuat dari baja dan superstruktur alumunium, tiap celah pada dinding dan lantai untuk ruang penyimpanan terbuat dari ukiran kayu jati, melewati dua resepsionis yang mengenakan setelan hitam dan kemeja putih rapi seragam. Begitu Carlton selesai berbicara dengan Kapten kapal, resepsionis yang lebih tua mengantar mereka ke geladak ruang makan seperti observatorium, dengan pemandangan pantai dan hulu sungai yang menakjubkan, dan sesaat aku lumpuh oleh pemandangan itu. Wow, memiliki dapur modern terbuka, dan tentu saja di atas meja makan formal sudah terdapat beragam makanan kecil seperti mini burger, sushi, hingga lobster raksasa yang terlalu banyak hanya untuk makan tiga orang.

Carlton duduk di kursi kulit hitam tufted kayu mahoni. Salah satu pelayan membawakan mereka teh dalam cawan porselen tipis berwarna biru di nampan berpernis dengan pinggiran putih.

"Aku senang sekali kalian bisa makan siang di kapalku."

"Jadi ini kapalmu?"

"Ya."

THE SECRETWhere stories live. Discover now