TWENTY EIGHT

20 1 0
                                        

Alice

Mulutku terbuka. Pertama, Carlton tidak berbohong. Dia benar-benar memberiku sebuah Porsche metalik putih yang mana posisi duduk rendah langsung terasa memberikan nuansa mobil sport sejati. Kedua, dia mengajariku fungsi dari semua tombol dan memastikan tidak ada yang tergelincir ketika aku memakainya. Desainnya yang elegan dengan performa mesin dan teknologi canggih, bahkan aku sudah terbiasa melihat Roll Royce dan mobil mahal sekarang.

Aku tak tahu mengapa aku masih merasa bingung terhadapnya, dan ungkapan mana yang harus aku terapkan. Apakah terimakasih, sir. Atau aku akan memberinya kesenangan. Lagi? Nah sikap kedermawanannya secara keseluruhan membuatku merasa murahan. Seharusnya tidak, karena dia adalah ayah biologis dari janin di perutku, dan penilaian moral yang samar-samar pada diriku sendiri berdasarkan pada apa yang mungkin dipikirkan oranglain akan membuang-buang energiku. Itu hanya aku terlalu memikirkannya dan memiliki keraguan terhadap hubungan kami. Itu wajar saja, karena aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi.

"Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa terimakasihku, apakah aku harus menyembah di kakimu?", aku berkedip, berharap bisa membaca apa yang kulihat di matanya.

"Oh, Alice", ia menggumam dengan hormat kearahku, senyumnya yang cemerlang, semua senyum, gigi, model Britania Raya yang sempurna. Ia membawa seluruh napasku.

"Kau ibu dari anakku, sayang. Wanita yang ku cintai", katanya lembut, mengelus bagian perutku. Bibirnya ditarik keatas saat ia menghirup napas dalam-dalam. Oh, mulut itu yang baru saja mengatakan hal yang membuatku merasa nyeri karena dia. Dia memberiku senyum tulus berseri-seri yang membuatku terengah-engah perlahan dengan terpesona. "Aku tak ingin melepasmu."

"Akupun tak ingin pergi", bisikku agak takut saat ia menjalankan jarinya di sepanjang rahangku. Aku nyaris tak bisa duduk diam.

Ia tersenyum dan ini senyum baru yang malu-malu yang mengembalikan semuanya ke jalan yang benar. Hmm, ini sangat kuat.

"Ayo kita hadapi semua ini", katanya, dan ia terlihat santai.

Carlton memeluk bahuku, ibu jarinya secara berirama membelai punggungku, mengirim kenikmatan terasa menggelenyar menuruni tulang belakangku. Tangannya yang bebas mengambil tanganku, membawanya ke bibirnya, kemudian membiarkannya beristirahat di pangkuannya, menempatkan di bagian tubuhnya yang mengeras.

Aku terkesiap, dan tiba-tiba panik menyadari bahwa sekarang kami di parkiran, dan ada beberapa orang yang seliweran, merokok dengan sembunyi-sembunyi tapi tak memperhatikan karena kacanya penuh privasi, namun aku menarik cepat tanganku.

"Earth menanyakanmu tadi", kataku mengalihkan kesenangannya.

"Dan? Bagaimana dia di asramanya?", tanyanya. Aku pikir dia cemberut, dan aku tak tahu apakah aku harus tertawa atau menahannya, tapi tawa itu yang menang. Aku merasakan perutku berguncang seperti geli karena tertawa seperti anak sekolahan. Carlton memandang tajam kearahku, dan setelah sesaat, samar-samar ada jejak senyum di bibirnya.

"Dia sangat bersemangat disana."

Dia tersenyum lebar padaku. Dan dia tampak .... bahagia. Wow.

"Kita akan menantikan liburan musim panasnya. Kita bisa berkumpul di Casa Blanca pada saat liburan musim panasnya nanti."

Ya ampun. Bagian dari teka-teki akhirnya sedikit terungkap.

"Tadinya aku sempat memikirkan tentang memindahkan Earth ke sekolah biasa. Bahwa dia bisa tinggal bersama ayahku di Westport."

"Ini tujuannya mulia, sayang", katanya tak senang. Tatapannya tajam, postur tubuhnya tegak. "Selain itu Kyle memberitahuku bagaimana dia di sekolah. Kemajuannya di Lambrook sejauh ini sangat bagus sekaligus memberikan penghargaan bagi kita sebagai orangtuanya."

THE SECRETCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang