EIGHT

81 1 0
                                        

Alice

Seorang pria tegap yang pernah datang ke apartemenku untuk mengantar kiriman bunga ada disini. Dia masuk ke mobil dan menunggu dibalik kemudi. Aku duduk dikursi belakang dengan sekat elektik, empuk jok kulit mobil sangat mewah nya. Terdapat logo paling ikonik di dunia perotomotifan kalangan kelas atas, ialah spirit of ecstasy atau flying lady, perempuan bersayap di ujung kap mesin mobil Rolls Roys Phantomnya. Dan disampingku adalah bujangan terkaya. Cucu paling tampan dari Queen of  Regnant di Britania Raya sedang menatapku. Aku menelan ludah dan ekspresinya berubah menjadi lebih gelap.

"Terimakasih, Carl", aku mengambil napas, mulutku kering.

"Sama-sama, Alice."

"Aku tidak suka meninggalkan mobilnya disini, rasanya salah. Aku bisa mendapat surat tilang."

"Kamu tidak perlu khawatir, Ben yang akan mengurusnya."

"Ben?"

"Ya."

"Siapa Ben?"

"Benjamin", Carlton memanggil sosok pria yang duduk bangku kemudi.

Oh!

"Miss Alice", kata Ben saat mata kami bertemu di spion dalam mobil.

"Halo, Ben." aku menjawab dengan tersenyum kecil padanya.

"Jadi, kemana tujuan kita?", tanya Carlton dengan segera, dan pandanganku kembali padanya.

"Westbury elementary school."

"Kamu sudah pernah kesana sebelumnya?"

"Belum pernah, hanya berbekal informasi dari seorang tetangga yang memberiku alamatnya."

"Ben, ke Westbury elementary school."

"Ya, sir", Ben menjawab dan pandangannya ke lalu lintas.

"Jadi kapan terakhir kamu menemui putrimu?", tanya dia.

Aku mengangkat bahu, "Aku tidak pernah bertemu dengan putriku semenjak perceraianku."

"Apakah dia masih menghubungimu?", tanya dia.

"Siapa?"

"Mantan suamimu," katanya agak enggan.

"Namanya Peter Lewis."

Dia memutar matanya, "Yeah, dia."

"Tidak."

"Apa sebab kalian berpisah?"

Aku silau menatapnya, mengerutkan kening, dan mengatupkan bibir.

"Tak bisa kuceritakan disini", bisikku lirih, aku melirik Ben sekilas melalui kaca spion, tapi tatapannya fokus ke jalan.

Carlton menatapku tanpa berkedip, kemudian gerakan tangannya melonggarkan ikatan dasinya.

"Biasanya pasangan bercerai yang memiliki anak akan selalu berkomunikasi. Kecuali dua sebab", katanya pelan, nadanya terpotong. "kekerasan atau perselingkuhan."

Hatiku merosot, aku dibanjiri perasaan terguncang, dia berbicara tepat dan menyatu dengan rasa penasarannya."Yah, mungkin kau ada benarnya."

Dia berkedip padaku, hati-hati, "Apakah dia sering menyiksamu?"

Aku merintih karena frustasi. "Ya."

"Sejauh mana dia menyakitimu?"

"Rasa sakit yang tak pernah bisa kau mengerti Carl", kataku dengan kegelisahan yang terukir jelas di wajahku.

Suasana di dalam mobil langsung berubah menjadi dingin, dengan kata-kata yang tak terucap dan berpotensi saling menuduh saat kami saling menatap dengan marah. Apakah dia telah melangkah terlalu jauh?

THE SECRETWhere stories live. Discover now