Carlton
Hari itu jumat, aku telah terlibat dalam kunjungan presiden Uni Eropa bersama perdana Menteri Inggris, melakukan perundingan yang panjang dalam kesepakatan Brexit melalui rancangan pembagian aset, hak-hak warga negara, serta perbatasan khususnya terkait Irlandia Utara meskipun tengah dimabukkan dengan urusan cinta. Sudah dua minggu kerinduannya pada Alice hampir meledak di ubun-ubunnya, tapi akibat kunjunganku ke Brussels, aku tahu bahwa ratu ingin merayakannya di acara jamuan makan malam keluarga kerajaan.
Setiba di Buckingham, diiringi penjaga pintu yang dengan hormat membawakan tas kerjanya. Semua pegawai dan sekretarisnya pada berdiri, membungkuk dengan sikap hormat. Seperti biasa dengan langkah penuh keyakinan dan percaya diri menuju ke kamar makan luas yang didekorasi awal abad ke-19, menggunakan warna-warna cerah dengan teknik scagliola serta kombinasi biru dan merah jambu lapis atas saran sir Eldrich. Berjabat tangan dengan Pangeran Felipe Salvatore calon pewaris tahta serta para anggota kerajaan yang lain, dan duduk di kursi yang diatur.
Walaupun seluruh kehidupan batinnya telah dipenuhi nafsu, kehidupan luarnya tetap berjalan sesuai pola hubungan keningratan. Dengan sendirinya aku tak bicara dengan siapapun tentang hubungan cintanya, atau tanpa sengaja bicara meski dalam acara minum-minum paling hebat sekalipun. Di meja makan aku berkelakar dan bicara seperlunya. Namun tiba-tiba Eleanor sang sepupu yang duduk di sebelahku berbicara lirih ditelingaku, dia tak mampu menutupi rasa ingin tahunya tentang foto-fotonya bersama Alice yang sudah tersebar di seluruh media.
"Apa itu maknanya? Siapa gadis yang menawan itu?"
Aku sempat membungkam mulutnya yang sembrono itu. Dia dengan terbuka mengagumi kecantikan dan kemudaannya. Aku tahu sesuatu yang semua pria lihat dengan segera. Alice tidak mirip perempuan yang sudah pernah menikah atau ibu seorang anak tujuh tahun, tapi lebih mirip seorang gadis berusia dua puluh tahun. Tapi aku tahu sebaliknya, tentang gadis-gadis yang mencemoohnya. Lalu percakapan terhenti ketika kami melihat tatapan ibu, dia duduk di hadapanku, dengan wajahnya yang mengerut tanda jengkel.
Tak seorangpun memulai acara makan malam sebelum ratu tiba, dan sikap resmi yang diperlukan untuk sekedar mengisi perut ini mengekang batas kebebasan dan jauh dari kata kesederhanaan. Belum sampai pukul tujuh, pintu kayu gaharu lebar yang dihiasi emas itu tiba-tiba terbuka, dan seseorang yang ditunggu masuk.
Seluruh anggota berdiri khidmat bercampur rendah hati dan membungkukkan badan dengan penuh rasa hormat seksama. Ratu Estella yang bersikap tenang dan penuh wibawa menganggukkan kepalanya sedikit sambil memberikan senyum hangat dan menuju ke kursinya. Sesudah memberikan salam kepada semua orang dan mengucapkan satu dua patah kata kepada mereka, Ia pun mulai bicara dengan nada akrab bebas di depan anak cucunya.
"Kita akhirnya berhasil juga memperoleh keterangan dari presiden Uni Eropa..", kata ratu sambil mengiris daging sapi dan menempatkan caviar dengan garpu diatas irisannya.
"Jadi akhirnya Britania Raya keluar dari Uni Eropa, bu?", ujar Felipe anak sulungnya.
"Selama bertahun-tahun muncul gerakan euroskeptisisme. Bagaimana menurutmu, Louis?", tanya ratu sambil meletakkan jari-jarinya diatas meja. Semua mata memandangku, menunggu jawaban.
"Sekiranya kita perlu membangun kesepakatan baru yang berbasis pada mengatur perdagangan bebas tarif serta kerjasama bilateral dengan hambatan non tarif dan kontrol bea cukai baru, granny. Meskipun presiden uni eropa secara garis besar mengeluh negosiasinya sangat rumit, tapi menurut mereka saran kesepakatan itu bisa sebagai solusi yang realistis dan seimbang demi kebaikan bersama jangka panjang Uni Eropa dan Inggris. Kedepannya bisa jadi era baru untuk kerjasama dan dinamika politik selepas Brexit."
"Ah, ya, ya. Aku setuju dengan upayamu, Louis", kata ratu dengan bangga.
Di kalangan istana, bukan hanya ratu yang mencintainya dan membanggakannya, tapi semua orang menghormatinya. Membanggakannya karena punya pendidikan dan kemampuan yang amat baik dan jalannya terbuka ke berbagai macam sukses yang sangat berharga untuk sebuah ambisi kebanggaan.
YOU ARE READING
THE SECRET
RomanceLouis Carlton Morano Filippo berada pada urutan kesembilan dalam garis suksesi tahta dan keenam belas wilayah persemakmuran Inggris. Dunianya rapi, disiplin dan benar-benar mampu membeli segalanya, namun memiliki hobi aneh yang menantang. Mencuri ma...
