17 - Dirty mind

157 17 2
                                        

Mohon memberikan dukungannya....






Saat pagi tiba Alexa sudah bersiap-siap berangkat kerja dengan memakai blouse biru dan rok pendek selutut dan dia memutuskan untuk sarapan dulu supaya hari-harinya saat bekerja berjalan dengan lancar. Namun dia hanya sendirian saja di meja makan, tak nampak sekalipun batang hidung Adnan. Sebenarnya Alexa sih tak masalah sarapan sendirian toh dia memang harus bergegas ke kantor. Namun ciuman dia dan Adnan tadi malam diam-diam membuatnya terus kepikiran. Sebenarnya apa motif Adnan melakukan itu? Bukankah dia sendiri sudah punya kekasih yang menemuinya di Bandara tempo hari? Apalagi kekasihnya yang Alexa lihat waktu itu sangat cantik.

Alexa tanpa sadar meremas sendok dan garpu kuat-kuat karena hati kecilnya sangat kesal. Tampaknya Adnan selama ini hanya mempermainkannya saja dan itu semakin membuatnya kesal karena pria sombong itu sudah mencuri ciuman pertamanya. Selama ini Alexa tak pernah pacaran dan melakukan skinship bersama seorang pria. Sebutlah dia kolot karena selama ini Alexa memang terlalu sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya.

"Pria gila tak tahu diri!"

Alexa mengumpat dengan gemas dan tidak lama Adnan bergabung ke ruang makan bersamanya. Pria itu terlihat tampan dengan kemeja dan celana bahannya. Apalagi Adnan memiliki tubuh yang tinggi dan bahu yang lebar seperti manekin berjalan saja! Tidak hanya memiliki paras yang tampan di bagian wajah, pria itu pun memiliki paras yang tampan di semua bagian tubuhnya.

"Kau sedang mengumpatku?" Tanya Adnan sambil tersenyum miring sesaat setelah duduk santai.

"Bukan urusanmu!" Ucap Alexa garang.

Alexa tiba-tiba menyelesaikan sarapannya dan dia berangkat duluan dengan raut wajah yang judes nan kesal. Bahkan pria itu tak sempat menanyakan apa alasannya saking cepatnya Alexa berjalan menjauh. Dalam diam Adnan menghela nafas panjang namun isi otaknya mulai menggila lagi. Bisa-bisanya di pagi hari dia mengingat mimpinya tadi malam. Itu mimpi yang sangat memalukan dan dalam diam Adnan merasa dirinya sampah karena terus berpikiran kotor.

"Sial sial!! Enyahlah kau dari pikiranku gadis pendek!!"

Adnan tampak frustasi dan malu pada dirinya sendiri. Dia seperti remaja labil yang baru puber, hingga ponselnya berbunyi dan Sebastian mengatakan dia harus rapat dengan pria itu pagi ini juga. Kakaknya itu sangat menyebalkan dan selalu saja mengatur-atur dirinya padahal Adnan bukan anak kecil lagi. Sebastian sangat perfeksionis dan dia selalu memonitor pekerjaan Adnan apalagi dirinya adalah pewaris utama. Kalau pekerjaan Adnan tak sesuai standarnya maka Sebastian akan mengomel seperti ibu-ibu.

"Haishh pagi-pagi aku harus melihat tampang Sebastian yang memuakkan!"





********





"Aku senang kau datang ke perusahaan kami Alexa.. mungkin akan lebih baik lagi jika kau bergabung bersama kami disini..."

Sebastian menyambut Alexa dengan hangat padahal dia merupakan pimpinan di perusahaan tersebut. Sikap Sebastian yang rendah hati membuat hati Alexa ikutan menghangat dan wanita itu tersenyum manis. Namun tiba-tiba Alexa terpeleset sesuatu dan hampir jatuh lalu Sebastian dengan sigap menangkapnya. Mereka terlihat berpelukan dengan jarak yang dekat.

"Apa kau menyuruhku datang kesini supaya melihat kau sedang bermesraan Seb?"

Adnan datang ke ruangan meeting dengan wajah yang emosi. Apalagi dia melihat Alexa yang sedang berpelukan mesra dengan sang kakak. Sejak kapan Sebastian seakrab ini dengan Alexa? Hati Adnan lagi-lagi panas padahal Alexa itu istrinya namun kenapa dia bersikap gatal pada Sebastian?

"Ini hanya salah paham bung! Istrimu hampir terjatuh karena terpeleset maka aku datang menyelamatkannya.."

Sebastian segera melepaskan pelukannya dan berusaha menjelaskan seterang mungkin pada sang adik. Tapi Adnan malah berdecih dan menatap Alexa seperti seorang pembunuh. Secara tersirat Adnan mengatakan jangan bersikap gatal dan melampaui batas, jelas Alexa tidak terima akan tuduhan ini tapi dia masih berusaha untuk bersabar. Tentu diam-diam tangan wanita itu terkepal dan ingin sekali dia memukul kepala Adnan sekeras mungkin.

Mr and Mrs DevanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang