Mohon memberikan dukungannya.....
"Kau yakin MoU ini berasal dari Vivian Enterprise?"
Sebastian ingin memastikan pada sekertarisnya di kantor jika Vivian Enterprise memang ingin bekerjasama dengan Devana Grup. Bahkan pihak mereka juga ingin meminta bantuan agar produk kosmetik yang sudah dibuat bisa dipromosikan oleh Devana Grup. Sebenarnya kolaborasi ini bukan hal yang buruk tapi Sebastian masih tidak percaya karena yang dia lihat tempo hari Alexa merupakan sosok yang tangguh dan tidak mau meminta bantuan kalau bukan dalam keadaan terdesak. Yah setidaknya itulah kesan pertama yang Sebastian dapatkan saat bertemu Alexa.
"Betul Mr Devana... " jawab sekertarisnya singkat.
"Baiklah... kalau begitu tolong kau atur pertemuan antara aku dan Alexa sepertinya kerjasama ini terlihat menarik tapi tentu saja aku tak bisa langsung menerimanya begitu saja"
"Tapi jadwal anda sangat sibuk sir untuk minggu ini dan jadwal yang kosong baru ada di minggu depan"
"Tak masalah... tolong kau atur saja dan hubungi pihak Vivian Enterprise secepatnya..."
Sekertaris Sebastian segera keluar dari ruangan tersebut dengan sopan. Sebenarnya Sebastian juga sedikit merasa penasaran tentang Alexa. Pertama kali dia bertemu dengan adik iparnya itu beberapa hari yang lalu, dia yakin kalau Alexa memiliki sesuatu sehingga sang ayah sangat bersikeras menjodohkan adiknya dengan wanita itu. Jelas Sebastian ingin tahu apalagi Mr Devana rela mengeluarkan uang sebesar 100 juta dollar untuk menyelamatkan Vivian Enterpise yang hampir bangkrut. Sungguh aneh sekali karena sejauh ini Sebastian yakin kalau sang ayah merupakan sosok yang sangat perhitungan dalam mengeluarkan uang. Memang apa hebatnya Alexa sampai pria tua itu menjadikan dia sebagai menantu?
"Sebenarnya apa yang spesial dari Alexa sampai daddy jadi begini? Hm..."
Sebastian bergumam dengan suara yang pelan karena bingung sampai seseorang membuka pintu dengan tak sopan dan kasar begitu saja. Tapi Sebastian jelas tidak merasa kaget karena sosok yang sering masuk ruangannya tanpa izin adalah Adnan. Adiknya itu memang harus diajari sopan santun karena selalu bersikap semaunya. Namun Sebastian sedang dalam kondisi lelah sehingga dia tak mau marah-marah.
"Apa ini? Kau bukannya bekerja malah melamun, apa mungkin kau lupa posisimu sebagai pewaris utama Devana Grup?" Tanya Adnan sambil berdecih.
"Bukan urusanmu! Ada angin apalagi kau datang kesini? Kalau kau ingin mengajak ribut jelas aku tak ada waktu untuk saat ini" ucap Sebastian kesal.
Adnan duduk dan segera menaikkan kedua kakinya ke atas meja dengan angkuh. Pria tinggi itu jelas memiliki sebuah tujuan sehingga mau berkunjung ke ruangan Sebastian. Meski selama ini Adnan tak pernah menghormati Sebastian sebagai kakak tapi mau tak mau Adnan memang harus sadar diri kalau kakaknya itu memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya saat di kantor.
"Aku tidak bisa berangkat kerja dari hari rabu sampai jumat Seb" ucap Adnan pada sang kakak.
"Apa ini? Kau mau mangkir dari tugasmu sebagai direktur Bidang Sumber Daya karena mau bersenang-senang dengan jalang?" Tanya Sebastian tak habis pikir.
"Aku akan berangkat ke Pulau Jeju hari rabu sampai minggu untuk honeymoon, ini semua adalah permintaan mommy dan daddy sudah setuju, yah kau tahu sendiri aku bukan jomblo lapuk macam kau Seb yang tak punya pasangan..."
Adnan tersenyum miring karena berhasil membuat Sebastian emosi. Kakaknya itu tampak menatap Adnan tajam tapi tentu saja Sebastian tetap bersikap tenang. Meskipun dalam hati dia ingin sekali memukul bokong sang adik kasar dengan kakinya.
"Cih sombong sekali! Yah... aku ikutan senang jika kau menganggap Alexa sebagai istrimu karena selama ini aku yakin sekali wanita itu bukan tipemu.. kau pernah bilang tak suka wanita yang pintar kan atau mungkin kau saja yang bodoh!"
Sebastian tertawa keras mengejek sang adik, sebenarnya Adnan tentu tidak bodoh dia sangat pintar hanya saja pria itu tidak disiplin, sulit diatur dan hobi bersenang-senang sehingga potensi dirinya kalah oleh Sebastian. Kakaknya itu merupakan sosok yang jalan hidupnya lurus dan taat aturan sehingga wajar saja kalau terlihat cakap.
"Cih menyebalkan!!" Ucap Adnan akhirnya meninggalkan ruangan.
**********
Tepat hari rabu akhirnya Adnan dan Alexa mau tak mau harus melaksanakan honeymoon seperti yang disuruh oleh Mrs Devana. Tentu saja pria itu tak ada antusias sama sekali tapi menolak pun juga tak mungkin karena ibunya yang cerewet itu tak bisa dibantah. Dia butuh bersenang-senang dengan Madison tapi sudah dua minggu ini tak punya kesempatan.
"Ayolah kendalikan wajahmu itu Ad kau sangat jelek saat berwajah datar!"
Sang ibu menegur Adnan dan saat ini mereka ada di bandara. Mrs Devana mengantarkan anak dan menantunya sampai bandara dengan antusias. Tapi putera bungsunya itu masih saja tak bisa mengendalikan air mukanya yang datar.
"Masih untung aku bersedia pergi bulan madu mom, baiknya mommy tak perlu banyak permintaan" ucap Adnan kesal.
Mrs Devana hendak memarahi Adnan namun pria itu malah menarik lengan Alexa dan pergi begitu saja dari hadapan sang ibu. Dia malas mendengar omelan Mrs Devana untuk saat ini dan hanya berharap bulan madu ini cepat selesai. Hingga tak lama Alexa dan Adnan sudah sampai di pesawat kelas bisnis.
"Harusnya kau tak sekasar itu pada ibumu" ucap Alexa menegur.
"Bukan urusanmu pendek dan jangan mengajakku bicara untuk saat ini!"
Alexa mendelikan wajahnya karena ucapan pria itu selalu saja membuatnya kesal. Dengan helaan nafas panjang akhirnya Alexa mengalah dan memutuskan untuk memesan wine pada pramugari. Saat ini dia sedang tak punya energi untuk ribut dan berharap bisa memiliki stok sabar yang banyak karena selama berhari-hari harus berada di samping Adnan.
"Silakan mam untuk wine nya semoga perjalanan anda menyenangkan.."
Alexa tersenyum lebar dan dia mulai menyesap wine yang sudah disediakan oleh sang pramugari. Di sebelah Alexa, Adnan tampak tak peduli dan pria itu sedang mendengarkan musik dengan earphone. Sampai pria itu mulai mendengus kesal karena Alexa tertidur di bahunya setelah meminum wine.
Adnan memindahkan kepala Alexa yang bersender di bahunya. Tapi wanita itu lagi-lagi menyenderkan kepalanya di bahu lebar Adnan. Adnan menyerah dan dia mulai mengalah, sampai pesawat mengalami turbulensi dalam beberapa saat dan Alexa terbangun begitu saja dengan wajah yang pucat.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Alexa kaget.
"Bukan apa-apa... sekarang pesawat sudah normal kembali"
Adnan berencana tidur karena perjalanan jelas sangat panjang dan lama. Kenapa pula sang ibu menyuruh dia pergi ke pulau Jeju padahal letaknya saja sangat jauh dan ada di Benua Asia. Namun tak lama Alexa menggenggam tangan Adnan dan menariknya.
"Ad sepertinya aku ingin muntah... kau tahu saat turbulensi tadi rasanya perutku sangat mual" ucap Alexa meminta tolong.
"Sial... jangan muntah sekarang!"
Adnan terlihat panik apalagi Alexa mulai memegang mulutnya pertanda dia betulan akan muntah. Pria itu segera menarik tangan Alexa menuju toilet tapi Alexa tidak kuat. Wanita itu muntah sangat banyak dan mengenai celana jeans Adnan. Semua penumpang pesawat berbisik-bisik dan Adnan sangat malu dengan apa yang sudah terjadi.
"Sir tolong segera bawa istri anda ke toilet biarkan kami yang membersihkan bekas muntahan ini" ucap salah satu pramugari tampak kasihan.
Adnan menggendong tubuh Alexa yang lemas dan pria itu membersihkan sisa muntahan yang mengenai celananya dan mengenai baju Alexa di toilet. Pria itu kesal sekali karena Alexa membuatnya susah, tapi dia sedikit tak tega karena wanita itu terlihat pucat dan lemas.
"Kau itu sangat menyebalkan wanita pendek, haishh lihatlah celanaku baunya sangat tak sedap...."
Dia marah-marah tapi masih mau mengurus Alexa. Diusapnya wajah Alexa dengan air karena ada bekas muntahan disana......
Bersambung....
Alexa bisa bisanya mabok darat wkwkw🤣🤭
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr and Mrs Devana
CintaPerjodohan klasik antara Adnan dan Alexa yang diawali dengan kebencian namun berakhir menggunakan perasaan.
