11 - Honeymoon II

207 22 5
                                        

Mohon memberikan dukungannya.....







Akhirnya mereka sampai di hotel saat malam tiba setelah sekian lama tinggal di pesawat dan setibanya di kamar Alexa sedikit takjub karena disana terdapat sebuah kolam renang. Daripada kamar tempat itu memang lebih tampak seperti paviliun karena ada ruang keluarga untuk bersantai dan balkon yang langsung mengarah ke laut. Semuanya terlihat mewah dan Alexa tidak merasa kaget melihat kekayaan keluarga Devana yang luar biasa.

"Cih bajuku bau sekali jelas aku harus segera mandi!"

Adnan mengeluh dan segera masuk ke kamar mandi serta dia merasa mual pula karena bajunya terkena muntah Alexa. Dia bahkan tidak habis pikir karena Alexa bisa-bisanya muntah di pesawat macam orang miskin saja. Yah meski perusahaannya memang hampir bangkrut sebelum diselamatkan keluarga Devana tapi kan dulunya wanita itu kaya raya. Entah apa isi otak Alexa karena Adnan pun tidak tahu.

"Berhentilah melamun dan mulailah mandi, kau tak lupa kan bajumu sangat bau karena terkena muntah? Ish ini sangat menjijikan!"

Adnan sudah mandi dan mengganti bajunya. Dia tampak segar dan tetap tampan meski hanya memakai kaus putih. Perkataan Adnan yang menusuk jelas membuat Alexa kesal tapi dia hanya diam karena ucapan Adnan memang benar. Alexa sebenarnya sangat malu karena dia muntah di pesawat. Padahal dia sudah pernah naik pesawat dan itu bukan hal yang aneh. Mungkin saja Alexa mabuk karena minum wine di pesawat.

"Aku menunggumu keluar dari kamar mandi bodoh!" Ucap Alexa melotot.

"Mandilah yang bersih dan kalau perlu buang bajumu yang bau itu sekarang juga" balas Adnan angkuh.

"Kau sangat cerewet macam perempuan saja!"

Alexa merasa kesal dan dengan sengaja menabrak bahu Adnan sebelum masuk ke kamar mandi. Tentu saja Adnan merasa kesal juga padahal wanita itu sudah dia urus saat muntah tapi sungguh tidak tahu terimakasih. Karena merasa lelah akhirnya Adnan hanya membuang nafas panjang dan menikmati pemandangan yang ada dengan berdiri di balkon.

Alexa mandi lumayan lama dan dia benar-benar berusaha membersihkan tubuhnya yang bau. Dia tidak mau lagi Adnan mengejek, meski kesal tapi pria itu terlihat cukup berbaik hati dengan bersikap seperti suami yang baik saat Alexa muntah di pesawat. Alexa merasa segar terlebih sabun mandi dan sampo di hotel ini sangat wangi hingga membuatnya terasa hidup kembali. Dia menghampiri Adnan yang tampak melamun di balkon entah apa yang tengah pria itu pikirkan karena Alexa pun tidak mau tahu.

"Kau tak merasa lapar?" Tanya Alexa membuka percakapan.

"Kau lapar saat ini?"

"Ya... perjalanan yang jauh membuatku lelah juga lapar jadi sepertinya aku harus makan sebelum memutuskan istirahat..."

"Baiklah sepertinya kita harus makan malam, ayo ikut aku!"

Alexa mengekor di belakang dan dia benar-benar takjub dengan dekorasi hotel. Ini terlalu mewah bahkan pengunjung hotel ini sangat sedikit dan suasana tampak tenang. Mungkin tidak semua bisa menginap di hotel ini karena harganya sangat mahal. Pria itu tampak sangat hafal dengan kondisi hotel namun Alexa tidak mau tahu karena dia saat ini hanya ingin makan saja.

Mereka duduk dengan santai sambil menikmati ombak yang tenang. Suasana di hotel tersebut sangat menenangkan dan romantis, sangat pas jika dikunjungi saat berbulan madu. Bahkan makanan disana semuanya enak dan dibuat dengan kualitas terbaik entah itu caviar sampai steak yang semuanya memanjakan mata. Mungkin Alexa harus sedikit berterimakasih pada Adnan karena dia bisa berlibur walau terkadang mereka selalu ribut dan sulit untuk akur.

"Ini benar-benar enak..." ucap Alexa senang.

"Baguslah kalau kau suka.."

"Apa kau sering berkunjung ke hotel ini?"

"Sesekali saja... hotel ini adalah hotel milik keluarga Devana jadi aku sudah sangat hafal segala hal yang ada disini" ucap Adnan santai.

Alexa melebarkan matanya dan semakin takjub. Pantas saja Adnan bersikap seolah paham betul dengan kondisi hotel kalau memang hotel ini milik keluarganya. Entah sekaya apa keluarga Devana sampai bisnisnya ada di berbagai bidang termasuk bidang perhotelan.

"Sepertinya keluargamu benar-benar sangat kaya..."

"Ya tentu saja... keluarga kami tak akan mengalami kebangkrutan seperti keluargamu!"

Alexa berdecih saat Adnan menyombongkan diri meskipun ucapan pria itu memang benar. Bisnis keluarga Devana sudah berada di kancah internasional dan tidak mungkin mengalami kebangkrutan seperti Vivian Enterprise. Tapi mendengar ucapan Adnan yang selalu di atas langit terkadang membuat Alexa jenuh juga.

"Kau sangat sombong!" Ucap Alexa mendelik.

"Aku tidak bersikap sombong karena itu semua adalah kenyataan!"

Alexa tidak mengeluarkan suaranya lagi dan hanya makan dengan kondisi yang tenang karena lapar. Dia tidak akan bisa menang melawan Adnan saat berdebat soal kekayaan....





**************






Alexa merasa kenyang dan lega karena makanan yang disuguhkan sangat enak. Wanita itu memutuskan pergi ke toilet sebentar untuk mencuci tangan dan wajah. Namun baru saja dia selesai dan keluar dari pintu toilet tangannya ditarik begitu saja oleh Adnan dan pria itu memeluknya. Alexa hendak berteriak karena kaget tapi dengan secepat kilat Adnan menutup mulut wanita itu dan memojokannya ke tembok.

"Diamlah bodoh, ibuku sedang memata-matai kita" ucap Adnan sambil berbisik.

"What?? Ibumu menguntit kita? Itu sangat berlebihan" balas Alexa terkejut.

"Oleh sebab itu kita harus berakting mesra supaya ibu tidak lagi mengusik kita..."

Posisi mereka memang sangat dekat dan Mrs Devana yang melihat sangat senang karena anak dan menantunya begitu mesra. Dengan senyum antusias wanita tua itu memperbaiki kacamata hitamnya dan memutuskan sedikit menjauh. Mrs Devana menguntit dengan ditemani oleh seorang maid.

"Ibuku tampaknya sudah pergi ayo kita kembali ke kamar!"

Adnan menggenggam tangan Alexa dan keduanya berjalan beriringan. Hati Alexa sedikit menghangat namun dia segera mengenyahkan perasaan aneh itu karena ini hanyalah akting. Mereka hanya menikah karena alasan bisnis jadi tidak boleh menggunakan perasaan sama sekali.

"Fyuh.. ibumu benar-benar membuatku tak habis pikir"

Alexa dan Adnan akhirnya sampai di kamar. Wanita itu tampak lega karena mereka tak perlu berpura-pura lagi menjadi pasutri yang harmonis. Bahkan Alexa segera duduk di kasur dengan nyaman karena dia merasa lelah. Saat ini dia ingin tertidur di atas kasur yang empuk.

"Ibuku sangat di luar ekspektasi dan kau harus membiasakan itu, beliau terlalu protektif padaku yah... kau lihat sendiri jika aku adalah anak kesayangannya"

"Kau anak bungsu jadi mungkin ibumu terlalu menyayangimu..."

"Dia selalu menganggapku anak kecil"

Adnan membaringkan tubuhnya di kasur dan mulai terlelap. Dia bahkan tidak mengusir Alexa yang duduk di sebelahnya. Entah kenapa tampaknya dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Alexa.

Rasa kantuk yang datang membuat Alexa menyusul ikut berbaring di sebelah Adnan. Mereka baru terbangun keesokan harinya.......





Bersambung......





Yang kangen cerita ini cung!!

Mr and Mrs DevanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang