18 - Colaboration

117 16 7
                                        

Mohon memberikan dukungannya....







Setelah rapat penting selesai kini Alexa terpaksa harus berduaan lagi bersama Adnan karena pria itu ditunjuk menjadi penanggung jawab. Tentu saja sebenarnya Alexa tak suka dengan kondisi ini, padahal masih banyak orang yang bisa dipilih untuk bertanggung jawab dalam proyek besar ini tapi kenapa Sebastian malah memilih Adnan? Akhirnya wanita itu hanya menghela nafas panjang dan belum mengatakan apapun selama 10 menit lamanya pasca Sebastian pergi dari ruang rapat karena ada urusan penting lainnya.

"Kau hanya akan diam seperti itu?" Tanya Adnan memecah keheningan.

"Entahlah mungkin aku sedang tidak dalam kondisi ingin berbicara denganmu" balas Alexa ogah-ogahan.

"Wah tapi bagaimana ya soalnya di kantor dan di rumah kita memang terpaksa harus bertemu jadi kau tak punya pilihan..." ucap Adnan menyebalkan.

Alexa menatap tajam pria di hadapannya ini. Dia bahkan tak yakin pria itu bisa bersikap serius padahal proyek ini bukan main-main dan kabarnya akan menghabiskan uang sebanyak 300 juta dolar. Alexa merasa energinya sudah tersedot habis padahal dia belum melakukan apapun. Dengan hati yang lelah dia membereskan barangnya dan berniat pergi begitu saja. Namun tentu saja Adnan menyusul di belakang karena pria itu memang tidak tahu apa-apa soal dunia farmasi karena background pendidikannya saja bisnis.

"Hey kau mau kemana? Kau tidak mendengar perintah Sebastian? Proyek ini adalah tanggung jawabku" ucap Adnan kesal.

"Aku akan pergi ke departemen penelitian dan pengembangan Vivian Enterprise kalau memang kau mau ikut silakan saja!"

"Ck ck... sifat pemarahmu ini harus kau kurangi, lihatlah kau terlihat tua dan jelek!"

Sebelum pria itu selesai dengan ucapan omong kosongnya, Alexa malah membanting pintu mobil dan pergi begitu saja. Tentu saja sikap Alexa membuat Adnan tak habis pikir. Dia mengumpat dan mengejar mobil Alexa dengan mobilnya. Adnan tahu kalau Alexa memang sedikit kasar padanya dan dia pun merasa kesal namun di satu sisi pria itu malah terus saja memikirkan Alexa, memang cukup aneh...

"Ha wanita itu sifat marahnya benar-benar mengerikan..."

Tidak lama akhirnya Adnan sampai di gedung Vivian enterprise dan berhasil mengejar mobil Alexa. Wanita itu terlihat berjalan dengan cepat setelah keluar dari mobil dan dengan mimik wajah serius pastinya sehingga Adnan tak lagi bermain-main. Meski dia menyebalkan namun Adnan tahu kapan saatnya serius dan kapan saatnya bermain-main.

"Kita harus mengecek bagaimana kualitas sel Chinese hamster ovary yang datang dari China karena sel ini merupakan sel hasil rekayasa genetika yang di dalamnya terdapat hormon eritropoetin dan harganya cukup mahal..." akhirnya Alexa membuka suaranya.

"Apa kau akan terjun langsung sekarang? Bukankah harusnya itu tugas pegawai?"

"Ya.. hanya hari ini sisanya para pegawai yang melakukan prosesnya..."

Alexa menyuruh Adnan segera mengenakan jas lab, menutup rambut serta memakai masker juga sarung tangan sebelum masuk ruangan steril. Bahkan mereka tampak sibuk menyemprotkan tangan yang sudah terbalut sarung tangan dengan alkohol supaya steril. Pria itu hanya menuruti perintah Alexa karena selama ini dia tak pernah masuk lab dan berurusan dengan proyek rekayasa genetika yang melelahkan.

Alexa mengambil sampel di tempat steril dan segera melihatnya di bawah mikroskop elektron. Wanita itu tampak sedikit lega hingga dia pun sibuk sendiri memasukan sebuah cairan pada sampel dengan pipet volume dan segera menutup sampel dengan plastik wrap yang tebal.

"Coba kau lihat sampel tersebut di bawah mikroskop..."

Adnan menuruti perintah Alexa dan pria itu melihat sel yang banyak. Dia tak mengerti dengan kondisinya namun Adnan yakin kalau sel-sel tersebut siap untuk proses lebih lanjut. Hal ini karena sel tersebut tampak aktif bergerak.

"Sebenarnya aku tak mengerti dengan ini semua namun tampaknya sel-sel ini dalam kondisi yang prima..."

"Kau benar... sampel sangat bagus dan mulai hari ini adalah proses pengembangbiakan sampai 20 hari ke depan..." ucap Alexa sambil memasukan sampel ke ruang inkubasi.

"Ah jadi semuanya akan di mulai pada hari ini juga? Lalu apa kau akan mengadakan kunjungan ke tempat produksi juga?" Tanya Adnan penasaran.

"Untuk hari ini tidak... lagipula para karyawan sudah tahu jika proyek besar ini akan dimulai pada hari ini juga dan aku hanya mengecek sedikit"

Adnan menganggukan kepalanya dan dia mengekor di belakang Alexa lagi. Wanita itu tampak membuka jas labnya dan membuang masker juga sarung tangan ke tempat sampah. Adnan hanya mengikuti apa yang Alexa lakukan tapi wanita itu malah terlihat hampir tertawa karena wajah Adnan tampak polos

"Hey kau mentertawaiku?" Tanya Adnan setelah membuang sarung tangan.

"Apa maksudmu? Kenapa aku harus tertawa?" Ucap Alexa tak mau mengaku.

Kondisi ruang penyimpanan jas lab tampak sepi dan entah kenapa Adnan mulai memiliki ide yang nakal. Pria itu menggelitiki tubuh Alexa sampai wanita itu tertawa nyaring dan terpojok ke tembok. Bahkan Alexa tak sadar kalau Adnan sudah menatapnya dalam.

"Kita harus pergi ke tempat lain..."

Alexa melepaskan tangan Adnan yang memegang pinggulnya namun Adnan mencegah itu. Bahkan pria itu mengunci pintu supaya Alexa tidak lagi menghindarinya. Dia tak suka saat Alexa terus menghindar, toh Adnan sudah sadar akan perasaannya dan bertekad tidak akan lagi membiarkan Alexa menjaga jarak.

"Kenapa kau selalu menghindariku?" Tanya Adnan tepat di belakang Alexa.

Alexa belum menjawab pertanyaan itu karena tubuhnya terasa merinding karena Adnan dengan sengaja menghembuskan nafas di tengkuknya. Bahkan wanita itu merasa lututnya lemas karena Adnan memeluknya dari belakang dengan erat. Kalau dibiarkan bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kita tidak boleh seperti ini, ini salah Ad..."

Adnan merasa kesal dengan ucapan Alexa hingga dia membalikan tubuh wanita itu agar menghadapnya. Lalu Adnan memegang dagu Alexa agar menatapnya langsung bahkan hembusan nafasnya saja sangat terasa saking dekatnya posisi mereka satu sama lain.

"Kenapa kau bilang salah? Kita suami istri.. apa mungkin kau lupa soal pernikahan kita?" Tanya Adnan sedikit emosi.

"Kita memang sudah menikah tapi kau sudah punya kekasih juga jadi ku mohon jangan mempermainkanku!!"

"Kekasih? Siapa kekasihku? Aku sama sekali tak punya kekasih...."

Alexa merasa kesal dan hendak kabur lagi namun Adnan tidak mengizinkan itu. Pelukan pria itu makin erat bahkan Alexa merasakan Adnan meremas pinggulnya.

"Kau terus saja bermain-main denganku seperti ini!! Kau menciumku tapi mencium wanita lain juga!!" Ucap Alexa marah.

Adnan akhirnya sadar kalau wanita yang Alexa maksud adalah Madison. Dia merasakan kemarahan dan rasa frustasi dari Alexa. Adnan merasa dirinya sangat bodoh dan entah bagaimana dia mulai mengambil ponselnya dari saku serta memutuskan untuk menghubungi seseorang.

"Madie mulai hari ini jangan lagi menghubungiku dan anggap saja hubungan kita sudah berakhir!!"

Tanpa mendengar respon Madison, Adnan memutuskan panggilan itu. Alexa sedikit terkejut dengan situasi ini dan dia tampak bingung. Tapi Adnan tampak tak peduli dengan wajah kebingungan Alexa karena dia dengan segera mencium bibir Alexa habis-habisan. Alexa tidak diberinya kesempatan untuk bicara bahkan ciuman Adnan makin menggila.

Ciuman Adnan terasa sedikit kasar dibandingkan saat mereka liburan di Jeju. Bahkan Alexa merasa wajahnya makin terangkat dan membuat lehernya pegal. Adnan yang sadar akan hal itu mulai menggendong Alexa dan kembali memojokan tubuh wanita itu ke tembok. Alexa merasa kewalahan dia bahkan merasa bibirnya mulai kebas karena ciuman Adnan.....




Bersambung.....

Mr and Mrs DevanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang