13 - Madison

136 19 6
                                        

Mohon memberikan dukungannya.....







Sudah dua hari Madison tidak mendapatkan kabar apapun dari Adnan. Wanita itu tampak resah dan kerap menggigiti kuku-kukunya sampai rusak padahal kebiasaannya ini selalu ditegur oleh Adnan. Dia sangat takut kehilangan Adnan terlebih hubungan mereka yang sangat rapuh. Madison sudah mencoba berkali-kali menghubungi Adnan namun ponsel pria itu tidak selalu nyala. Alhasil dengan tekad yang besar Madison akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke kantor Adnan berharap dia mendapatkan kabar tentang pria itu, syukur-syukur jika langsung bertemu dengannya hari ini.

"Selamat siang nona ada yang bisa saya bantu?"

Resepsionis kantor menyambut Madison dengan ramah. Tentu saja Madison tidak mau membuang banyak waktu karena dia ingin segera bertemu dengan Adnan. Dia sangat merindukan pria itu yang entah kenapa sejak menikah hubungan mereka malah makin renggang. Padahal Adnan bilang kalau pernikahannya cuma pernikahan bisnis lantas kenapa kini dia malah jarang mengunjungi Madison? Wanita itu tampak enggan berbasa-basi dan ingin langsung mengatakan maksud serta tujuannya.

"Aku ingin bertemu Mr Adnan Devana apakah dia ada di kantornya?"

Sang resepsionis tampak sedikit kaget karena Madison ingin bertemu pimpinan di kantornya. Tapi kemudian resepsionis itu sadar kalau Madison adalah gundik Adnan toh satu kantor sudah tahu akan hal itu. Kabar tersebut sudah tersebar bahkan pernah masuk surat kabar tapi entah kenapa surat kabar tersebut lenyap begitu saja.

"I am sorry miss tapi Mr Adnan Devana saat ini sedang berlibur ke Jeju Island..."

"What?? Kau serius?" Tanya Madison terkejut.

"Tentu saja... kemungkinan Mr Devana akan kembali ke New York pekan depan.."

Madison mengepalkan tangannya karena kesal, bisa-bisanya dia tak tahu keberadaan Adnan saat ini. Entah kenapa Madison merasa berhak untuk mengetahui keberadaan Adnan padahal mereka tidak punya hubungan apapun selain teman ranjang. Setelah tersenyum kecut Madison mulai meninggalkan kantor Adnan dan menghubungi pria itu lewat sambungan telepon. Dia berharap Adnan mengangkat telepon darinya saat ini juga.

"Ya Madie ada apa?"

"Ad kenapa kau tak bilang jika saat ini berada di pulau Jeju?" Tanya Madison lumayan lega karena Adnan ternyata mau mengangkat panggilannya.

"Apa aku harus mengatakan semua hal padamu? Kau bahkan bukan siapa-siapa aku" ucap pria itu kasar seperti biasa.

"Aku adalah orang yang selalu berada di sampingmu jelas aku harus tahu Ad..."

"Stop Madie... sepertinya aku dengan gamblang telah menjelaskan jika kita tak punya hubungan apapun dan sebaiknya kau tidak melewati batas"

Madison terlihat hampir meneteskan air mata karena ucapan Adnan. Tapi wanita itu tidak mau berhenti karena yakin kalau dialah yang dibutuhkan oleh Adnan bahkan mereka sudah menjadi teman ranjang sejak satu tahun yang lalu. Bukankah itu tandanya hanya Madison yang mendapatkan posisi sedekat itu bersama Adnan?

"Aku menunggumu pulang Ad... aku merindukanmu" ucap Madison bebal sambil menahan tangisannya.

Adnan terdengar menghela nafas panjang di seberang sana. Pria itu terdiam cukup lama entah memikirkan apa....

"Aku akan menghubungimu kalau sudah tiba di New York...."

Sebelum Madison berkata lagi, pria itu malah menutup sambungan telepon diantara mereka. Madison merasa emosi dengan semuanya namun dia hanya bisa menangis. Sudah tahu mulut Adnan itu kasar tapi Madison tetap saja ingin bertahan.





Mr and Mrs DevanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang