Victor dan Martin sedang menunggu di ruang tunggu. Setelah Clara tenang wanita itu tak sadarkan diri. Martin lalu mengangkatnya namun Victor menghentikannya dan bilang kalau Clara tanggung jawabnya. Dan tak sepatutnya Martin menyentuh Clara apalagi wanita itu dalam keadaan hanya memakai bathrobe. Martin awalnya menolak namun akhirnya ia mengalah. Dia terus-terusan mengalah, apakah dunia ini sangat kejam padanya. Bahkan untuk mendapatkan Clara pun ia tak diperbolehkan.
"Lepaskan dia." Ucap Martin. Ia menatap tajam Victor yang saat ini menurutnya cukup tenang. Victor sudah bosan beberapa hari ini mendengar kata itu. Kenapa semua orang ingin membuatnya melepaskan Clara sedangkan dirinya tidak ada niat sama sekali untuk melepaskan Clara.
"Berhenti mengurusi kehidupanku. Sudah saatnya kau mencari wanita lain." Balas Victor.
"Wanita itu...."
"Aku tidak akan melepaskannya." Potong Victor. Martin mengetatkan rahangnya. Sepupunya itu memang bajingan sekali.b
"Aku memang bajingan. Tapi kalian tidak tahu sama sekali bagaimana perasaanku padanya sampai sekarang ini. Kalian mungkin melihatku bajingan." Victor membuka suaranya kali ini.
"Sejak aku mengetahui tentang keberadaannya satu tahun lalu. Aku memang berpikir untuk membalas dendamku padanya yang sudah seenaknya meninggalkan aku tanpa penjelasan. Namun saat aku melihatnya kembali di perusahaan itu entah kenapa jantungku berdebar-debar melihatnya." Martin masih melihat sepupunya itu, jarang sekali mereka untuk berbicara dari hati ke hati.
"Glen mengingatkanku supaya berhati-hati bermain hati. Saat itu aku memang mengabaikannya karena aku memang ingin menghancurkannya. Tapi kau tahu?" Victor menatap sepupunya itu yang seperti kakaknya itu.
"Ketika aku melihatnya tidur di samping. Wajah yang damai dan juga lembut itu mengalihkan perhatianku. Ia sangat damai saat itu namun tidak dengan pikiran dan hatinya, seakan dia sangat menderita sedari dulu."
"Tapi kau membawa wanita bernama sasha itu kerumah. Apa kau tidak mengerti perasaannya?"
"Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksinya. Namun aku memang salah langkah aku malah bercinta dengan Sasha dihadapannya. Tapi setelah dia memberitahuku saat ada media akan meliput kehidupan kami di rumah aku langsung menyuruhnya keluar."
"Keluar! Namun kau tetap berhubungan dengannya?" Martin geram dengan pernyataan Victor itu.
"Kau pikir bagaimana caranya aku melampiaskan hasratku saat istrimu tidak bisa memberikan apa kau inginkan?" Tanya Victor.
"Itu masalahmu dan kemaluanmu yang tak tahu diri. Kau tahu sudah banyak wanita yang ingin menyerahkan tubuhnya padaku termasuk Renatha. Tapi aku tolak karena aku hanya ingin Clara." Aku Martin.
Victor terkejut ketika mengetahui Renatha ingin bercinta dengan Martin. Apalagi pria itu hanya menginginkan istrinya. Pria itu mungkin bisa dengan mudah tidur dengan wanita diluaran sana, apalagi ia tahu bahwa sudah hal umum di kalangan dunia underground hidup seperti ini, tapi sepupunya itu tak tertarik satu pun. Pantas Saja ia pernah melihat wanita disekitaran Martin menginginkannya namun dia tidak menggubris itu.
Namun jika pria itu hanya tergoda dengan Clara. Tentu ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka berdua terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aku mohon. Lupakan dia. Dia tanggung jawabku sekarang. Dia istriku, Kak." Mohon Victor, kali ini ada nada serius dari pria itu. Dan Victor memanggil Martin dengan sebutan kakak yang mana ini dia lakukan jika memohon sesuatu pada Martin.
Martin menatap Victor kembali tatapannya kali ini dalam. Ia tampak sedang mencerna kata-kata Victor.
"Atas nama Victor." Ucap dokter yang keluar dari ruangan pemeriksaan. Victor dan Martin menoleh, mereka lalu berdiri saat dokter itu menghampiri mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED MY EX
Romance#cerita kedua semoga terhibur "Kau dulu memang tipeku tapi sekarang bukan." ucap Victor "Kau pikir kau tipeku? Tidak sama sekali." Clara memandang jijik pria yang pernah bersamanya dulu. "Jadi?" "Apa? Tidak mau." "good! besok kita nikah." putus...
