Deringan panggilan muncul di handphone Martin, lelaki itu langsung melihat siapa yang mengubunginya langsung mengangkatnya.
"Halo."
Martin terasa lega saat mendengar suara yang ia rindukan itu dan juga tampak sedih. Clara menelponnya. Ada rasa terluka mendengar suara wanita itu menangis hingga terisak. Ia pun segera mematikan panggilannya dan kemudian menghubungi anak buahnya.
Tak menunggu lama hanya sepuluh menit dari lokasinya tadi, ia melihat Clara meringkuk di halte bus, dimana hujan masih mengguyur deras. Ia pun segera mematikan mobilnya dan kemudian keluar dari mobilnya tanpa payung.
Ia berdiri di depan Clara yang masih meringkuk, menangis hingga terisak. Ia hancur melihat wanitanya yang rapuh mengingatkannya saat perempuan itu di masa sekolah yang terluka karena bullyan orang-orang. Ia melihat tangan wanita itu masih mengeluarkan darah, lukanya mungkin dalam dan juga panjang. Ia juga melihat rambut wanita itu acak-acakan dan baju wanita itu tampak robek-robek.
Hiks hiks
Martin mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan ke kepala Clara yang sedang ia sembunyikan di balik tangan dan lututnya itu. Ia pun mengelus lembut rambut Clara pelan seakan wanita itu bisa hancur karena usapannya.
Merasakan usapan lembut dikepalanya, Clara pun mendongakkan kepalanya dengan mata yang penuh derai air mata. Ia pun melihat pria itu dengan tangisan yang makin kencang.
"Hai." Ucap Martin yang tersenyum lirih. Clara lalu memeluk perut Martin dan menangis kencang disana, meluapkan apa yang ia rasakan dan kesakitan hari ini.
Martin mengusap kepala Clara pelan dan menepuk kecil. Menenangkan wanita itu.
"Menangislah! Aku akan disini bersamamu." Ucapnya.
Sedangkan di rumah orang tua Clara, Jerry sedang murka dengan istri dan Anak pertama mereka, Aira.
"Apa yang kalian lakukan hah?" Pekik Jerry melihat ada bercak darah dan juga rumah yang berantakan, pecahan vas bunga dan juga bantal kursi berserta kursi yang sudah tak terbentuk lagi arahnya, dan juga ada ikat pinggangnya yang sangat tebal.
Annita dan juga Aira ketakutan melihat Jerry marah, pasalnya mereka jarang melihat Jerry marah besar.
"Annita aku sudah bilang. Kau boleh memarahinya tapi jangan kekerasan. Apa ini? Darah? Kau sudah gila?"
"Salahkan dia yang membuatku marah." Bela Annita.
"Apa lagi yang dia perbuat sampai kau seperti ini." Jerry tak habis pikir apa yang membuat istrinya sampai semarah ini.
"Dan kalian bertiga kemana?" Tanya Jerry kepada Raka, Raline dan Rama.
"Kka..kka..kami di kunci dikamar." Ucap Rama.
Jerry melotot kearah Annita dan Aira.
"Dan kau!" Tunjuknya kepada Kino.
"Kau tidak menghentikan istrimu?" Tanyanya. Tak ada jawaban dari Kino, pria itu masih membayangkan bagaimana dia tadi berhasil memegang payudara Clara tadi walaupun hanya sebentar namun membuatnya ingin lagi.
Jerry tak habis pikir dengan yang terjadi. Pria itu langsung meninggalkan istri dan anak-anaknya itu.
"Bereskan." Ucapnya sebelum pergi.
Jika kalian tanya dimana Victor sekarang dan kenapa Clara bersama Martin. Jawabannya dia bersama Renatha sekarang, dirumah sakit.
Wanita itu menelpon Victor kala pria itu sedang memikirkan istrinya yang entah dimana keberadaannya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED MY EX
Romansa#cerita kedua semoga terhibur "Kau dulu memang tipeku tapi sekarang bukan." ucap Victor "Kau pikir kau tipeku? Tidak sama sekali." Clara memandang jijik pria yang pernah bersamanya dulu. "Jadi?" "Apa? Tidak mau." "good! besok kita nikah." putus...
