"Kau masih mencintainya." Ucap Glen yang berdiri di belakang Victor. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap Glen dengan seksama.
"Sudah cukup kita melihatnya menangis." Ucap Glen lagi.
"Aku tidak akan menyerah." Jawab Victor.
"Harusnya itu kau ucapan saat Clara meninggalkanmu dulu, Vic. Jika begini, kau tahu sendiri dia bagaimana. Kalian sama-sama keras dan ego kalian sama kuatnya." Victor melihat kearah Clara lagi yang masih menangis dipelukan Martin, kali ini wanita itu berbicara kepada Martin.
"Aku disini ingin bicara kepadamu. Tapi tentu tidak disini."
"Bisa nanti?" Victor enggan untuk berbicara tentang pekerjaan atau pun yang lain. Ketika ada rapat dadakan tadi dia pun terpaksa untuk melakukannya, kalau bukan project yang sangat penting tentu ia tidak akan melakukannya.
"Tentang sasha dan juga kejadian di jerman." Cegah Glen yang melihat Victor akan berlalu. Victor terdiam dan terkaku, ia membalikkan tubuhnya dan menatap Glen.
Glen kali ini memandang serius Victor. Kali ini bukan sebagai atasan atau pun sahabat tapi sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan.
"Kau benar-benar iblis, Victor." Gumam Glen.
******
Clara mengangkat kepalanya dan melihat kemeja Martin yang sudah basah dengan air matanya. Ia pun mengelap air matanya dan melihat Martin, ia tak enak hati dengan pria itu.
"Maafkan aku." Ucapnya pelan
"Tak apa aku bisa membuangnya dan mengganti dengan yang baru nanti." Clara memanyunkan bibirnya sedikit membuat Martin tertawa.
Martin memberanikan diri menangkup wajah Clara dengan jari jempolnya mengelus wajah Clara.
"Kau sudah enakkan?" Tanyanya lembut.
Clara mengangukkan kepalanya. Wanita itu duduk dan menatap kearah depan. Sedangkan martin memiringkan tubuhnya dan menatap Clara dari samping.
"Tidak usah kau pikirkan lagi. Dia sudah ditangkap. Kau tidak usah risau lagi semuanya sudah menuju kearah yang terang." Clara melihat kearah Martin.
"Sudah banyak yang aku alami selama ini, saat aku beranjak remaja hingga sekarang."
"Kau wanita kuat. Lalu apa yang kau pikirkan." Martin memainkan rambut Clara.
Martin meluruskan duduknya dan menyenderkan tubuhnya.
"Membayangkan diriku terbaring tak bernyawa seperti ayahku. Aku memikirkan apa akan ada menangisiku dan menyesali kepergianku?"
"Kau tahu? Saat kedua orang tuaku meninggal bersama karena kecelakaan, aku juga sepertimu." Clara melihat Martin yang sangat jarang menceritakan keluarganya bahkan tidak pernah.
"Andai aku yang pergi dari pada mereka. Andai aku bisa melindungi mereka. Aku tidak akan kehilangan mereka selamanya. Aku juga sama denganmu tidak ingin makan apapun."
Martin melihat Clara dan kemudian menggenggam tangan Clara.
"Tapi aku pikir. Aku ingin membuat orang tuaku bangga denganku. Karena hanya aku yang mereka miliki. Dari situ aku harus melanjutkan hidupkan dan sekarang aku disini."
"Kau tidak pernah bercerita kepadaku?"
"Untuk apa aku bercerita hanya untuk mendapatkan simpati. Aku hanya ingin hidupku tenang saja." Martin meregangkan tangannya dan membawa kebelakang badan Clara.
"Lupakan traumamu. Hal seperti itu memang tidak lupa untuk dilupakan tapi jangan terus diingat." Martin mengacak rambut Clara membuat wanita itu sebal.
"Tentang ayahmu, aku turut berduka cita. Dia sudah tidak sakit lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED MY EX
Romance#cerita kedua semoga terhibur "Kau dulu memang tipeku tapi sekarang bukan." ucap Victor "Kau pikir kau tipeku? Tidak sama sekali." Clara memandang jijik pria yang pernah bersamanya dulu. "Jadi?" "Apa? Tidak mau." "good! besok kita nikah." putus...
