BAGIAN 16

667 84 12
                                        

*Biasakan Vote terlebih dulu sebelum membaca


*****

(Name) mengerjapkan mata perlahan, membiarkan sinar matahari yang menerobos dari celah tirai menyambutnya. Tubuhnya masih terasa berat, bukan hanya karena kantuk, tetapi juga karena sesuatu—atau seseorang—yang menindihnya dari belakang.

Ia menoleh pelan dan langsung menemukan wajah Rin yang tertidur dengan damai, satu lengannya melingkari pinggang (Name) dengan erat, seolah takut kehilangan.

(Name) menatapnya beberapa detik. Ini masih terasa agak aneh baginya—bangun di sisi Rin setelah sekian lama. Namun, perasaan hangat di dadanya membuatnya tersenyum kecil.

Tapi senyuman itu tidak bertahan lama.

"Rin, lepaskan. Aku mau bangun," bisiknya, mencoba menggeser tubuh pria itu.

Yang ditanggapi Rin dengan gumaman malas. "Jangan... Aku nyaman kayak gini..."

(Name) mendesah. "Rin."

Rin hanya menariknya lebih erat. "Lima menit lagi."

(Name) mencoba memberontak, tapi Rin malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyembunyikan wajahnya di leher (Name). Napasnya yang hangat membuat gadis itu merinding.

"Aku enggak percaya kamu masih suka manja begini," keluh (Name).

"Aku hanya begini sama kamu," Rin menjawab santai, suaranya berat karena baru bangun tidur. "Dan lagi, kita baru balikan. Harusnya kamu membiarkanku menikmati momen ini."

(Name) ingin membalas, tapi kata-kata Rin berhasil membuat pipinya memanas.

"Dasar..."

Rin terkekeh pelan sebelum akhirnya membuka mata dan menatap (Name) dari dekat. "Pagi, sayang."

(Name) terdiam sejenak. Hatinya berdebar karena cara Rin memanggilnya seperti itu—sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar.

Melihat wajah (Name) yang memerah, Rin tersenyum penuh kemenangan. "Oh? Malu, ya?"

(Name) buru-buru membuang muka. "Sudah, cepat bangun!"

Tapi Rin tetap tidak melepaskannya. "Kalau kamu mau aku bangun, bayar dulu."

(Name) mengerutkan dahi. "Bayar?"

Rin menunjuk pipinya. "Satu ciuman di sini, lalu aku bangun."

(Name) menatapnya penuh kecurigaan. "Bohong. Kamu pasti tetap malas-malasan setelah itu."

Rin pura-pura terkejut. "Mana mungkin? Aku orangnya jujur, loh."

(Name) mendesis pelan. "Kamu benar-benar—"

Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Rin menariknya lebih dekat dan mengecup bibirnya sekilas. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat (Name) membeku.

"Hmm, ternyata lebih baik kalau aku yang ambil sendiri," Rin bergumam, terdengar puas.

(Name) membelalak sebelum meninju dada Rin dengan kesal. "Rin!"

Tawa Rin menggema di kamar, dan (Name) hanya bisa menghela napas pasrah. Hari-hari ke depan pasti akan semakin menyebalkan dengan Rin yang kembali seperti ini.

Tapi entah kenapa, ia tidak keberatan sama sekali.

*****

(Name) duduk di tepi tempat tidur, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah bangun tidur. Matanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang