*****
[FLASHBACK – MUSIM GUGUR, 3 TAHUN LALU]
SUNGAI SUMIDA - KACHIDOKI BRIDGE – PUKUL 11 MALAM
Hujan gerimis mengguyur kota yang lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke permukaan jembatan yang basah. Deru mobil nyaris tak terdengar, hanya sesekali lewat seperti bayangan hantu.
Di tepi jembatan, seorang wanita berdiri.
Diam. Kaku. Seperti patung yang tercipta dari hujan dan luka.
(Name) menggenggam pegangan besi jembatan erat-erat. Matanya menatap lurus ke bawah—ke arah sungai yang mengalir deras dan gelap, seolah ingin menelan apa saja yang jatuh ke dalamnya.
Tubuhnya basah kuyup. Rambutnya menempel di pipi. Suaranya tak keluar. Tapi wajahnya—wajah itu berkata banyak: lelah, kehilangan, kosong.
"Aku udah berusaha kuat..." bisiknya, meski tak ada siapa pun yang mendengar. "Tapi ternyata... aku memang terlahir untuk sendirian."
Tangannya mulai meraih pembatas jembatan. Satu kaki sudah mulai naik.
Namun—
"WOY!!!"
Sebuah suara memecah malam.
BRAK! Suara langkah kaki cepat menghantam genangan air. Sosok pria berpakaian hitam berlari ke arah (Name) dan menarik tubuhnya dengan paksa sebelum ia sempat mengangkat kaki satunya lagi.
"APA YANG KAMU LAKUIN, HAH?!" seru pria itu, suaranya penuh panik.
(Name) terjatuh ke pelukan pria itu. Tangannya gemetar, bibirnya membiru, dan air matanya akhirnya jatuh... bersamaan dengan hujan yang membasahi wajahnya.
Pria itu memeluknya erat, seperti ingin memastikan bahwa tubuh (Name) tidak lenyap di telan malam.
"...Karasu-san...?" suara (Name) lirih, hampir tak terdengar.
Iya. Karasu Tabito.
Ia menatap wajah (Name), kaget, marah, dan gemetar karena takut.
"Gila kamu, ya...?! Kamu pikir dengan lompat dari sini semuanya selesai?!"
(Name) tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong ke arah sungai yang hampir menjemputnya tadi.
"Aku... capek, Karasu-san..." ucapnya pelan, dengan suara yang sudah hancur. "Aku capek hidup. Aku kehilangan semuanya. Anakku, Rin, dan suasana rumah yang aku impikan. Apa lagi yang tersisa?"
Karasu menarik napas panjang, masih berusaha menahan emosinya.
"Kamu masih punya banyak hal dalam hidup ini, (Name). Dan selama kamu masih hidup, kamu punya pilihan. Kamu pikir Rin bahagia kalau tahu kamu kayak gini?!" suara Karasu meninggi.
(Name) menunduk. Tapi Karasu langsung memegang kedua pundaknya.
"Aku... aku tau aku bukan siapa-siapa. Tapi kalau kamu butuh tempat buat jatuh, jatuhlah di sini," katanya sambil menarik (Name) ke dalam pelukannya lagi. "Jangan pernah berpikiran untuk terjun ke sungai. Jangan mendekati pada kematian. Aku mohon..."
Tangis (Name) pecah. Tubuhnya bergetar hebat di pelukan Karasu. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Aku nggak kuat, Karasu-san... aku ngerasa... aku nggak pantas hidup."
Karasu menggenggam tangan (Name) erat.
"Semua orang berhak hidup, (Name). Bahkan kamu—yang udah hancur sekalipun. Tapi kamu harus milih buat terus berdiri... meski terluka. Jangan kasih dunia kemenangan atas penderitaanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALER
RomanceHati yang pernah hancur... bisa menemukan cahaya baru ketika seseorang datang untuk menyembuhkannya. 💫 Romance | Itoshi Rin x Female Reader Sequel of "AFFAIR" Characters belong to Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura - Blue Lock.
