SIDE STORY 03

584 61 29
                                        

Rin berdiri mematung. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita di depannya. Gaun putih itu membuat ingatannya melompat mundur ke satu hari yang dulu ia pikir sudah ia kubur dalam-dalam—hari di mana ia berdiri di altar, menunggu pengantin wanita yang tak pernah muncul.

"Kurose... Maika?" suara Rin terdengar pelan, nyaris ragu menyebut nama itu.

Maika tersenyum tipis, tatapan matanya memerangkap Rin. "Kejutan," katanya pelan. "Kamu suka enggak sama kejutan yang aku kasih ini?"

Rin menghela napas, masih menatapnya dengan campuran bingung dan... hati-hati. "Jadi ini maksudnya? Makanya kamu nyuruh manajer enggak ngasih tahu aku?"

Maika mengangkat bahu ringan, senyumnya tetap ada. "Kalau aku bilang dari awal, kamu pasti nolak, kan?"

Rin terdiam. Benar. Ia tidak membenci Maika—tidak pernah. Tapi kenyataannya, ia dulu menerima ajakan pertunangan itu hanya untuk mencoba menghapus bayangan (Name) dari hidupnya. Dan pada akhirnya, ia kembali juga... ke (Name).

Maika melangkah sedikit mendekat, suara lembutnya kontras dengan sorot matanya yang tajam. "Aku enggak datang waktu itu... bukan karena aku benci kamu, Rin. Tapi karena aku sadar, meskipun aku berusaha keras bikin kamu mencintaiku... kamu tetap mencintai (Name) lebih dari siapa pun."

Rin menelan ludah, ingatannya mengulang potongan momen itu—ia di altar, menunggu, sementara detik berjalan terasa seperti palu godam di kepalanya.

"Aku... enggak tahu harus jawab apa," Rin akhirnya berucap, nada suaranya berat.

"Aku enggak minta jawaban, Rin." Maika tersenyum samar. "Aku cuma penasaran... sekarang, setelah semua yang terjadi... kamu masih akan lihat aku sama kayak dulu, atau... udah sepenuhnya jadi milik (Name)?"

Suasana di antara mereka menegang, seperti ada garis tipis yang memisahkan masa lalu dan masa kini, siap putus kapan saja.

Dari sudut studio, fotografer berseru, "Oke, kita mulai ya!"

Rin dan Maika sama-sama menghela napas, sadar bahwa perbincangan ini belum berakhir—hanya tertunda.

Lampu-lampu sorot menyala terang, memantul di permukaan lantai studio. Fotografer mulai mengatur posisi mereka, sementara beberapa kru sibuk memegang reflektor dan properti.

"Rin, Maika—mendekat sedikit. Ya, seperti itu," ujar fotografer.

Rin berdiri kaku di samping Maika. Jarak mereka hanya beberapa senti, tapi rasanya seperti dipisahkan oleh tembok tak terlihat. Maika masih mempertahankan senyum profesionalnya, namun matanya beberapa kali melirik Rin—bukan lirikan biasa, tapi seperti mencoba membaca pikirannya.

"Kamu bisa santai sedikit, Rin," bisik Maika di sela-sela jeda, suaranya nyaris tak terdengar oleh kru. "Kita cuma kerja, bukan kembali ke masa lalu."

Rin mengalihkan pandang, mencoba fokus pada kamera. "Masa lalu itu enggak bisa begitu aja kamu bilang 'cuma kerja', Maika."

Klik! Klik! Kamera menangkap gambar mereka, seolah dua orang ini adalah pasangan serasi. Padahal di balik lensa, ada sejarah panjang yang tak terucap.

Fotografer lalu meminta, "Oke, Rin, coba tatap Maika, pegang tangannya, biar chemistry-nya dapat."

Rin menatap Maika. Tatapan itu datar di permukaan, tapi kalau diperhatikan baik-baik, ada sedikit kilatan emosional—entah marah, bingung, atau rindu yang sudah basi. Maika justru tersenyum lebih lembut, seolah ingin memecah tembok yang dibangun Rin.

"Aku enggak akan ganggu hidup kamu sama (Name)," bisik Maika sambil tersenyum manis ke arah kamera. "Tapi aku cuma mau lihat... kamu bahagia beneran, atau cuma pura-pura."

HEALERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang