*****
Rin baru selesai mandi, tubuhnya masih basah, handuk tersampir santai di pinggangnya. Dia melangkah pelan ke kamar, pikirannya masih melayang-layang pada kata-kata pagi tadi.
Tiba-tiba, dari tempat tidur, (Name) membuka mata dengan perlahan, menatap Rin dengan senyum tipis yang bikin darah Rin langsung berdesir.
Rin berhenti sejenak, matanya tak lepas mengamati tubuh (Name) yang polos dan mengundang, hanya terbalut selimut yang hampir jatuh.
"Hmm... kamu benar-benar nggak pernah lelah bikin aku nggak fokus," gumam Rin dengan nada menggoda.
(Name) membalas dengan senyum nakal, merentangkan tubuh sambil menguap pelan.
Rin berjalan mendekat, tangannya mulai meraba lembut pinggang (Name), membiarkan jarinya menelusuri lekuk tubuh yang basah karena embun pagi.
"Kalau kamu terus begini, aku nggak janji bisa nahan diri lama-lama," kata Rin sambil mencium leher (Name) dengan penuh hasrat.
(Name) menatap Rin, mata berbinar penuh tantangan, seolah mengundang Rin untuk memulai lagi petualangan panas mereka.
Pagi itu, sinar matahari menembus lembut jendela kamar, menghangatkan ruang yang masih dipenuhi aroma malam tadi. Rin dan (Name) kembali terhubung dalam keintiman, kali ini suasananya berbeda. Rin yang baru saja bangkit dari kehangatan pelukan, mulai menyentuh tubuh (Name) dengan tatapan penuh nafsu sekaligus keraguan.
Tangannya menelusuri kulit (Name), menikmati setiap lekuk yang begitu familiar. Tapi di balik hasrat yang membara, ada bayang-bayang kerisauan di matanya.
(Name) memejamkan mata, mencoba larut dalam sentuhan Rin, tapi hatinya seolah berkata lain. Dia tahu—Rin belum benar-benar bisa memberikan hatinya sepenuhnya, dan selama ini, mungkin dia hanya jadi pelampiasan.
Namun, (Name) memilih untuk tetap tersenyum pelan, pura-pura menikmati setiap gerakan Rin. Karena lebih dari segalanya, dia ingin Rin tetap ada di sisinya. Bahagia atau tidak, selama Rin mau bertahan, (Name) siap menerimanya.
Rin akhirnya berhenti, menatap (Name) dengan mata yang penuh pergulatan. "Aku... aku nggak tahu aku bisa kasih kamu semua yang kamu butuhkan," ucap Rin dengan suara serak. "Tapi aku janji, aku bakal berusaha. Karena aku nggak mau kehilangan kamu."
(Name) membuka mata, menatap Rin dengan lembut. "Aku tahu," jawabnya. "Dan aku di sini bukan karena aku merasa sempurna. Tapi karena aku percaya sama kamu."
Mereka saling merangkul, menyadari bahwa cinta memang penuh ketidaksempurnaan, tapi juga penuh harapan.
Rin menarik napas dalam, masih menatap lembut wajah (Name) di depannya.
"Aku takut, (Name). Takut kalau aku terlalu lambat, terlalu berat buat kamu. Kadang aku merasa aku nggak pantas buat kamu, apalagi bisa bikin kamu bahagia."
(Name) menggeleng pelan, menggenggam tangan Rin erat.
"Rin, aku nggak pernah berharap kamu sempurna. Aku cuma pengen kamu jujur sama aku... sama diri kamu sendiri."
Mata Rin menatap penuh keraguan, lalu sedikit tersenyum getir.
"Akan selalu aku usahakan. Tapi aku takut juga kalau aku nanti malah nyakitin kamu."
(Name) mendekat, menyentuhkan dahi ke dahi Rin.
"Kita semua punya masa lalu, Rin. Aku juga punya luka. Tapi aku percaya kita bisa jadi tempat sembuhnya luka itu, bukan malah bikin tambah parah."
Rin menarik (Name) lebih dekat dalam pelukan hangat.
"Kalau kamu mau bertahan di samping aku, aku janji aku akan coba lebih keras. Aku ingin kita punya masa depan, bukan cuma hari ini atau kemarin."
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALER
RomanceHati yang pernah hancur... bisa menemukan cahaya baru ketika seseorang datang untuk menyembuhkannya. 💫 Romance | Itoshi Rin x Female Reader Sequel of "AFFAIR" Characters belong to Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura - Blue Lock.
