BAGIAN 15

717 86 6
                                        

WARNING AREA 18+!!!!!


*****

Apartemen Rin terasa lebih hangat dari biasanya. Atau mungkin itu hanya karena kehadiran (Name) yang kini berada di hadapannya—matanya berkilat penuh emosi, tubuhnya masih sedikit gemetar setelah semua yang mereka bicarakan tadi.

Rin tidak bisa menahan diri lebih lama. Ia menarik (Name) ke dalam pelukannya, mencengkeram pinggang gadis itu seakan takut kehilangan lagi. "Aku tidak peduli dengan semua omong kosong mereka," bisiknya, napasnya hangat di telinga (Name). "Aku hanya ingin kau percaya padaku."

(Name) menggigit bibirnya, menunduk sedikit sebelum akhirnya mengangkat wajahnya lagi. "Aku selalu ingin percaya, Rin... Tapi aku takut."

Mata Rin menggelap. Dia tahu siapa yang harus disalahkan—Shidou, Karasu, Loki. Mereka semua.

"Aku akan memperbaiki semuanya," ujarnya lirih, tangannya naik ke wajah (Name), ibu jarinya mengusap pipi gadis itu dengan lembut sebelum turun ke bibirnya yang sedikit basah akibat gigitan tadi. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kita lagi."

(Name) menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Aku ingin percaya padamu lagi, Rin... tapi yakinkan aku."

Itu saja yang Rin butuhkan.

Ia menangkup wajah (Name) dan menciumnya dengan penuh kerinduan. Bukan ciuman yang terburu-buru, melainkan dalam, perlahan, seakan ingin memastikan bahwa (Name) bisa merasakan betapa tulusnya perasaannya. Lidahnya menyapu bibir (Name) sebelum akhirnya gadis itu membuka sedikit mulutnya, memberi akses yang Rin manfaatkan dengan penuh kesabaran namun juga intensitas yang menyesakkan dada.

(Name) membalasnya, jemarinya mencengkeram bagian depan kaus Rin, menariknya lebih dekat. Napas mereka berbaur saat bibir mereka terus menyatu, sesekali terpisah hanya untuk saling menatap—seakan mencari kepastian dalam tatapan satu sama lain. Saat tangan Rin melingkari pinggang (Name) dan menariknya lebih dekat, gadis itu tidak menolak. Sebaliknya, ia membiarkan tubuhnya melekat pada tubuh Rin, merasakan panas yang memancar dari pria itu.

Jemari Rin menyelinap ke bawah kaus yang dikenakan (Name), menyentuh kulit lembut di punggungnya dengan sentuhan yang seakan membakar. (Name) tersentak pelan, bukan menolak, tapi lebih kepada bagaimana tubuhnya merespons perlakuan Rin.

"Aku rindu kamu, Rin..." suara (Name) nyaris seperti bisikan, napasnya sedikit memburu.

Rin menutup matanya sejenak, menghirup aroma lembut yang selalu ia rindukan sebelum mengecup sudut bibir (Name), turun ke rahangnya, hingga akhirnya membiarkan bibirnya berlama-lama di leher gadis itu. "Aku juga, (Name). Aku gila karena tidak bisa bersamamu."

(Name) mencengkeram kausnya lebih erat saat bibir Rin meninggalkan jejak panas di kulitnya. Napasnya bergetar ketika pria itu menggigit pelan sebelum menjilatnya kembali, membuatnya merasakan sensasi yang berbahaya.

"Rin..." bisiknya, separuh memohon, separuh ragu.

Rin mengangkat wajahnya, menatap (Name) dalam-dalam sebelum menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan mereka menang," bisiknya, tangannya masih bertahan di pinggang (Name), ibu jarinya mengusap kulitnya yang hangat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita lagi."

(Name) menatapnya, matanya masih menyiratkan keraguan tipis, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—ada harapan di sana.

"Aku ingin percaya padamu, Rin," bisiknya pelan, tangannya naik ke pipi pria itu. "Tolong... jangan lepaskan aku lagi."

Rin mengangkat wajah (Name), menatapnya dalam-dalam sebelum berbisik, "Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

Dan malam itu, dalam dekapan satu sama lain, mereka membiarkan kerinduan mereka menyatu—bukan sekadar dalam sentuhan, tapi juga dalam janji yang terucap di antara bibir mereka.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang