BAGIAN 24

555 58 35
                                        



*****

Rin menggenggam pergelangan tangan (Name) dan menariknya pelan menjauh dari tempat kejadian. Tak ada kata-kata. Hanya langkah tergesa di antara kesunyian yang terasa menusuk. (Name) tak melawan, meskipun langkahnya goyah, seperti tubuhnya kehilangan arah dan makna.

Ia tak tahu kenapa Rin membawanya pergi. Ia hanya tahu—ia tak sanggup lagi berdiri di sana, menjadi pusat dari luka yang baru saja dikupas paksa di hadapan orang-orang yang tak seharusnya tahu.

Rin menggiringnya melewati pintu keluar stadion, lalu membuka pintu mobilnya tanpa bicara. (Name) masuk diam-diam, dan Rin ikut duduk di kursi kemudi.

Mesin menyala.

Dan hanya suara jalanan yang menemani mereka sampai tiba di apartemen (Name).

Di depan pintu, (Name) berbalik, hendak mengucap sesuatu—tapi Rin sudah bicara lebih dulu.

"Aku... minta maaf."

(Name) terdiam. Matanya berkaca-kaca.

Rin melanjutkan, suara rendahnya serak karena emosi. "Aku seharusnya gak biarin kau sendirian di stadion. Aku juga... seharusnya bisa tegas dari awal."

(Name) menggeleng. "Ini bukan salahmu."

"Kalau aku lebih jujur... Si serangga itu gak akan punya kesempatan buat—" Ia berhenti. "Aku tahu dia brengsek. Tapi aku juga... terlalu pengecut buat bilang ke semua orang apa yang sebenarnya aku rasakan."

(Name) menunduk. Napasnya berat. "Aku gak minta kamu bilang apa-apa, Rin."

"Tapi aku ingin."

(Name) mendongak perlahan, menatapnya.

Rin menatap balik, dengan sorot mata yang penuh beban, tapi juga tekad yang tulus. "Tapi bukan sekarang," katanya. "Sekarang, kamu harus tenang dulu."

Ia mengangkat tangan, ragu-ragu membelai kepala (Name) dengan lembut. "Masuklah. Istirahat."

(Name) hanya mengangguk pelan sebelum masuk dan menutup pintu.

Rin masih berdiri di depan pintu untuk beberapa detik, menarik napas panjang, sebelum akhirnya pergi.

Sementara itu, di pelataran belakang stadion...

(Y/N) masih berdiri membeku di tempat. Matanya menatap kosong ke arah Rin yang baru saja pergi menggandeng tangan (Name).

Sae berdiri di sebelahnya, seolah tak terpengaruh.

(Y/N) berbalik pelan, menatap suaminya. "Kau... nggak kaget?"

Sae mengangkat alis. "Kaget kenapa?"

"Rin... (Name)-san... mereka—" Ia menelan ludah. "Rin tadi menarik tangan (Name)-san dan pergi begitu aja... tanpa bilang apa-apa. Kau nggak lihat? Mereka keliatan dekat banget. Aku bahkan... aku bahkan gak pernah lihat Rin setegang itu selain kalau lagi lawan kamu."

Sae hanya mengangkat bahu kecil. "Ya, mereka memang dekat."

(Y/N) menatap suaminya lekat-lekat. "Kau tahu sesuatu yang aku nggak tahu, ya?"

Sae akhirnya menoleh dengan tatapan malas, seperti tidak ingin membahas hal itu di tengah keramaian. Tapi melihat wajah bingung dan cemas (Y/N), ia menghela napas.

"Ayo," katanya. "Kita pulang. Anak-anak pasti udah di apartemen sama Isagi."

"Tunggu dulu, Sae—"

"Nanti aku jelaskan," potong Sae, kali ini nadanya lebih tegas. Ia menggandeng tangan (Y/N) dengan tenang, membawanya menjauh dari keramaian yang tersisa.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang