*Biasakan vote terlebih dulu sebelum membaca.
*****
Rin masih memeluk (Name), tubuhnya sedikit bergetar meski tak setetes pun air mata jatuh. Ia hanya diam. Dadanya naik turun pelan, seolah sedang berusaha menenangkan napas dan perasaannya sendiri. Di pelukan (Name), ia merasa... aman.
"Aku... belum pernah ngerasain dipeluk kayak gini sebelumnya," bisik Rin, suaranya lirih, hampir tenggelam dalam keheningan.
(Name) mengusap punggungnya lembut. "Maksudnya gimana?"
"Kayak... aku nggak perlu berpura-pura kuat. Aku nggak perlu jadi siapa-siapa," ucap Rin pelan. "Rasanya kayak... aku cukup. Cukup jadi diriku sendiri."
Rin menarik diri perlahan, wajahnya sekarang hanya sejengkal dari wajah (Name). Meski masih ada sisa keraguan di matanya, kini muncul secercah ketenangan di sana—seolah harapan yang lama padam, perlahan menyala kembali.
(Name) menatapnya dalam. "Karena kamu memang cukup, Rin. Selalu cukup."
Rin terdiam. Tangannya perlahan bergerak, menyentuh pipi (Name). Jemarinya gemetar, seperti takut sentuhannya bisa menghancurkan apa yang sekarang dia punya. Tapi (Name) tak menghindar. Dia justru menutup mata sejenak, menikmati kehangatan jemari Rin di wajahnya.
"Aku takut, (Name)...," suara Rin kembali lirih. "Kalau suatu hari nanti... kamu sadar kalau aku bukan orang yang kamu butuhkan. Kalau kamu ninggalin aku karena kamu nemu orang yang lebih... layak."
(Name) membuka mata, langsung menatap mata Rin. Kali ini lebih tegas, lebih yakin.
"Rin. Kamu pikir aku sejahat itu? Kamu pikir aku bakal pergi cuma karena seseorang 'lebih layak' datang? Cinta itu bukan soal siapa yang paling pantas di atas kertas. Tapi siapa yang berusaha—yang bertahan. Dan kamu, kamu yang selama ini bertahan. Itu yang bikin aku jatuh cinta."
Rin mengatupkan bibirnya erat. Bahunya turun pelan, seperti beban berton-ton akhirnya jatuh dari punggungnya. Ia tertawa kecil, getir. "Kamu selalu punya jawaban yang bikin aku diam."
"Karena aku nggak pengen kamu terus nyiksa diri sendiri," jawab (Name) pelan, lalu menyentuh kening Rin dengan keningnya sendiri. "Mulai sekarang... kalau kamu ragu, kalau kamu takut, bilang. Jangan simpan sendiri. Aku di sini. Untuk kamu."
Untuk pertama kalinya sejak lama, Rin tak merasa harus berpura-pura kuat. Dia mengangguk kecil. "Iya... makasih udah jadi rumah buat aku, (Name)."
Dan malam itu, mereka duduk dalam diam, saling bersandar. Tak perlu banyak kata. Karena terkadang, penyembuhan datang bukan dari solusi, tapi dari pelukan dan pengakuan bahwa luka itu ada—dan tetap bisa dicintai meski belum sepenuhnya sembuh.
Tapi, jauh di lubuk hatinya, Rin tahu... untuk pertama kalinya, dia tak ingin lari. Dia ingin sembuh. Karena kini, dia tahu alasannya.
Alasannya adalah (Name).
*****
Cahaya matahari pagi menembus tirai ruang tengah yang sedikit terbuka. Suasana masih senyap. Hanya terdengar suara burung dari luar dan detak jam dinding yang berjalan perlahan. Di sofa, Rin dan (Name) masih tertidur. Rin bersandar di bahu (Name), sementara tangan (Name) masih menggenggam jemari Rin dengan erat, seolah tak ingin dilepaskan semalaman.
Pelan-pelan, Rin membuka matanya. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari di mana ia berada. Dan saat melihat wajah (Name) yang tertidur damai di sampingnya, senyum kecil muncul di bibirnya.
"Cantik banget..." gumamnya lirih, hampir tanpa suara.
Ia mengangkat sedikit tangan mereka yang masih bergenggaman. Dengan sangat hati-hati, ia menyentuh punggung tangan (Name) dengan bibirnya, mengecup lembut, penuh rasa terima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALER
RomanceHati yang pernah hancur... bisa menemukan cahaya baru ketika seseorang datang untuk menyembuhkannya. 💫 Romance | Itoshi Rin x Female Reader Sequel of "AFFAIR" Characters belong to Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura - Blue Lock.
