BAGIAN 21

648 57 4
                                        

*Biasakan vote terlebih dulu sebelum membaca.


*****

Rin membanting tas latihannya ke lantai begitu memasuki apartemennya. Wajahnya masih menegang, rahang terkunci. Kata-kata Shidou terus menggema di kepalanya:

"Kau tahu, kan? Y/N bakal nonton pertandingan kita nanti bareng suaminya. Kakakmu, Itoshi Sae. Pff, lucu banget ya? Dulu kau yang tergila-gila sama dia."

Tangan Rin mengepal. Sakit. Panas. Dada terasa sesak. Dia bahkan tidak tahu kenapa reaksi tubuhnya seheboh ini. Sudah lama... Sudah selesai... seharusnya.

"Rin, kamu pulang," sebuah suara lembut menyambutnya. (Name) muncul dari dapur, senyum hangat menghiasi wajahnya. Dia hanya mengenakan tank top tipis dan celana pendek. Netra Rin langsung terkunci pada tubuhnya.

Tapi senyum itu... senyum tulus itu...

Tanpa berkata apa-apa, Rin melangkah cepat, mendekat, mencengkeram pinggang (Name) dan mendorongnya ke dinding. Tatapan mereka bertemu—penuh kejutan, tapi tidak ada ketakutan. Hanya keingintahuan. Nafas Rin berat, dada naik turun cepat.

"Rin...?" gumam (Name) pelan.

"Aku butuh..." desis Rin, suaranya parau. "...Kamu."

Tanpa menunggu jawaban, Rin membungkam bibirnya di bibir (Name). Ciuman kasar, panas, tidak sabar. Tangannya langsung mengangkat tubuh (Name), memeluknya erat, menggiring ke sofa terdekat. Mereka terjatuh bersamaan, lidah saling menyapu, tangan Rin sudah menyusup ke bawah tank top.

(Name) menggeliat, tapi tidak melawan. Ia tahu, Rin sedang rapuh. Ia tahu, tubuhnya akan jadi pelampiasan, tapi dia tidak keberatan.

Tank top dan celana (Name) melayang entah ke mana. Rin menjelajahi tiap lekuk tubuhnya, matanya gelap, gerakannya serampangan tapi penuh rasa. Suara desahan mulai terdengar, di sela gumaman frustrasi Rin:

"Dia... milik Sae..."
"Tapi kamu... kamu hanya milikku malam ini..."

Tanpa banyak basa-basi, Rin melepaskan celana latihannya, dan menyatukan tubuh mereka dengan satu gerakan cepat dan penuh tekanan. (Name) mendesah keras, tangan mencakar punggung Rin, sementara Rin menggerakkan pinggulnya dalam irama kasar, ritmis, penuh dendam yang tidak tahu harus dilampiaskan ke siapa.

Nama (Name) terus keluar dari mulut Rin di antara desah dan helaan nafas—bersama dengan nama lain yang berusaha dia lupakan.

Malam itu, mereka tidak hanya menyatu secara fisik—tapi juga dalam kekacauan emosi yang belum sempat mereka pahami.

*****

Rin masih di atasnya, tubuh mereka masih saling menempel, napas berat bersahut-sahutan. Tapi saat Rin menarik diri perlahan dan duduk di sofa sambil memejamkan mata, (Name) menatapnya... lalu berlutut di antara kakinya tanpa berkata sepatah kata pun.

"...Kamu mau apa?" Rin bertanya pelan, suaranya masih terengah.

(Name) menatapnya dari bawah—tatapan itu lembut, tapi penuh niat. Tangan kecilnya sudah meraih bagian intim Rin yang masih menegang, berdenyut, haus sentuhan.

"Biar aku bantu kamu... lebih tenang lagi," bisiknya manja, sebelum ia menunduk dan menjilat ujungnya perlahan.

Rin mengerang pelan, kepala bersandar ke belakang. Tangannya mencengkeram rambut (Name) tanpa sadar, tapi tidak mendorong—hanya menggenggam, seolah menjadikannya jangkar di tengah lautan emosinya yang kacau.

(Name) mulai bergerak pelan, lidahnya melingkari dengan sabar, bibirnya membungkus ujungnya perlahan. Ia menghisap lembut, turun perlahan hingga dalam, lalu mundur lagi. Irama yang sensual, penuh dedikasi. Bukan sekadar untuk memuaskan, tapi juga untuk menunjukkan bahwa dia di sini—untuk Rin, untuk luka yang tak terlihat.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang