BAGIAN 26

557 69 44
                                        


*****

Suasana di dalam apartemen itu sudah tak lagi seberat dulu.
Tak ada lagi malam-malam sunyi yang penuh kecanggungan. Tak ada lagi tatapan curiga, atau kalimat-kalimat pendek yang enggan keluar.

(Name) sedang duduk di kursi makan, mengenakan piyama longgar sambil memotong buah. Perutnya masih datar, tapi dia tahu, ada kehidupan yang tumbuh di dalam sana. Kehidupan yang—entah bagaimana—menyatukan kembali dua hati yang sempat goyah.

Rin baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah, dan kaus hitamnya sedikit lecek. Tapi senyum kecilnya selalu berhasil menghapus bayangan pertengkaran masa lalu.

"Aku keluar bentar, latihan sama Isagi sama Nanase," ucap Rin sambil memeriksa ponselnya.

(Name) menoleh pelan. "Latihan? Bukannya hari ini kamu libur?"

"Iya, tapi cuma stretching ringan. Biar badan nggak kaku."

(Name) memicingkan mata curiga. "Stretching atau sekalian tanding?"

Rin mendekat lalu meraih pinggang (Name) dari belakang, menyandarkan dagunya ke bahu perempuan itu.

"Kalau aku pingsan di lapangan, kamu bakal dateng kan?"

"Enggak. Aku suruh Isagi-san atau Nanase-san buat videoin biar aku bisa ketawain."

Rin tertawa pelan. "Sadis banget."

"Serius. Jangan maksa badanmu. Kamu lupa kalau aku hamil?"

Rin mencium pelan pipi (Name), lalu berbisik, "Justru karena kamu hamil... aku pengen jadi lebih sehat dari siapa pun. Aku harus jagain kalian berdua."

(Name) menunduk sebentar. Jantungnya terasa hangat. Tapi ia tetap pura-pura cuek.

"Pergi sana, nanti Isagi-san keburu pulang."

Rin tertawa pelan dan meninggalkan apartemen setelah mencubit pipi (Name) cepat-cepat.

BEBERAPA JAM KEMUDIAN – APARTEMEN (NAME)

Tok tok tok!

Ketukan pintu mendadak. (Name), yang sedang menyapu lantai, buru-buru membuka pintu.

Di depannya—Isagi berdiri, napasnya memburu, wajahnya pucat panik.

"(Name)! Rin—Rin jatuh pas latihan. Kami langsung bawa ke rumah sakit."

Jantung (Name) langsung mencelos. "APA?!"

"Cepetan! Aku bawa kamu ke sana!"

Tanpa pikir panjang, (Name) meraih jaketnya dan mengikuti Isagi turun ke mobil.

Selama perjalanan, (Name) terus gelisah.

"Dia pingsan? Kepalanya kena? Dia sadar nggak?"

Isagi hanya mengangguk-angguk pelan. "Dia sadar. Tapi... kamu lihat sendiri nanti, oke?"

RESTAURANT PRIBADI – MALAM HARI

Mobil berhenti di depan sebuah restoran yang tampak sepi. (Name) mengernyit.

"Isagi-san... ini bukan rumah sakit."

Isagi turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. "Masuk aja. Dia ada di dalam."

(Name) menatap ragu, tapi langkahnya tetap maju. Begitu pintu restoran dibuka—cahaya lilin menyambutnya.

Lampu gantung redup, hiasan bunga putih di meja-meja, dan musik lembut terdengar dari speaker tersembunyi. Di tengah ruangan, ada satu meja dengan dua kursi... dan di belakangnya—

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang