BAGIAN 30

822 73 45
                                        


*****

Dan Rin langsung berlari.

Tanpa bilang apa-apa. Tanpa peduli tamu undangan. Tanpa peduli sorotan kamera. Tanpa berganti baju.

Ia berlari. Menyusul orang yang seharusnya ada di sampingnya sejak awal.

Fujita (Name).

📍[COFFEE SHOP AOIRO – OSAKA, JAM 16.20]

Langit Osaka berwarna kelabu. Udara sore yang biasanya hangat, kini terasa dingin menusuk.

Di balik etalase kaca coffee shop kecil yang diberi nama AOIRO, seorang wanita berdiri di balik konter—Fujita (Name), dengan lengan panjang sweater-nya menutupi perban segar di pergelangan tangan kirinya.

Warna wajahnya pucat. Rambutnya hanya diikat seadanya. Tapi ia tetap tersenyum pada setiap pelanggan yang datang.

"Satu cappuccino hangat, silakan. Terima kasih sudah mampir hari ini."

Tak seorang pun tahu, di balik senyum manis itu, tubuhnya gemetar. Tangannya yang menggenggam gelas sedikit bergetar. Tapi ia tetap berdiri.

Karena jika ia tidak berdiri, ia tahu... ia akan runtuh.

Setelah insiden di apartemen siangnya tadi—setelah darah dan isak tangis di lantai kamar mandi—(Name) memaksa dirinya bangkit.

Dia tahu, jika ia terus berdiam diri... ia bisa kehilangan segalanya. Lagi.

Salah satu barista memanggil dari belakang.

"(Name)-san, bukannya kamu bilang hari ini izin? Kamu yakin kuat?"

(Name) hanya mengangguk pelan, menekan rasa ngilu di lengan.

"Aku cuma butuh sibuk. Kalau terus sendiri di kamar... aku bisa gila."

Barista itu tak bisa berkata banyak. Ia melihat gurat di wajah (Name)—lelah, namun memaksa tetap waras. Seperti seseorang yang tengah menggantung di ujung tali, menolak jatuh.

Saat pelanggan terakhir pergi dan lampu ruangan mulai diredupkan, (Name) duduk sendirian di bangku sudut.

Kopi di genggamannya sudah dingin.

Ia menatap cangkir itu seperti bisa berbicara.

"Aneh ya... saat aku benar-benar ingin hidup, rasanya dunia malah terus menyakitiku."

Ia menyentuh perban di tangannya. Lalu memejamkan mata.
Mencoba bertahan. Mencoba tidak menangis.

Dan di luar... langkah seseorang mendekat.

Tapi (Name) belum tahu.
Belum tahu bahwa seseorang yang seharusnya tak mungkin datang...

...sedang mencarinya.

*****

Hujan mulai turun pelan. Rintiknya menghantam lembut atap kanopi depan toko. Langit menggelap, seolah tahu—bahwa sore ini, ada dua hati yang akan kembali bertabrakan setelah sekian lama menjauh.

Pintu kaca terbuka perlahan, membuat lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring.

(Name) menoleh.

Langkah-langkah itu pelan, namun berat. Dan ketika sosok itu muncul di balik pintu—basah kuyup, dengan jas pengantin yang telah kusut, sepatu berlumpur, dan napas yang belum sepenuhnya stabil...

Itoshi Rin berdiri di sana.

Rambutnya berantakan, beberapa helai menempel di kening karena keringat dan hujan. Dada naik turun. Matanya liar mencari satu sosok—dan saat ia melihat (Name) berdiri terpaku di balik meja kasir...

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang