SIDE STORY 02

607 52 85
                                        


*****

(Name) menutup pintu kamar dengan sedikit keras, bukan karena marah, tapi lebih kepada ingin menjauh sejenak dari godaan Rin yang selalu saja menggoda di saat-saat yang tidak tepat. Ia duduk di sisi tempat tidur, memeluk bantal, membiarkan keheningan menyelimuti dirinya. Dalam hatinya, ia tahu Rin hanya bercanda—tapi tetap saja, candaan itu menyentuh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan.

Langkah kaki Rin terdengar pelan mendekat, seakan berhati-hati agar tidak menambah bara dalam diam (Name). Ia berhenti di depan (Name), kemudian duduk berlutut di lantai, sejajar dengan tatapan istrinya.

"Heii..." panggil Rin lembut, tangannya mengusap lutut (Name). "Maaf, aku tahu aku salah."

(Name) hanya menunduk, tak langsung menjawab.

"Aku tahu... soal anak itu masih terlalu sensitif buat kita. Aku juga ngerasa begitu kok. Aku takut," lirih Rin, suaranya kini jauh dari nada menggoda sebelumnya. "Takut kalau kamu terluka lagi. Takut kalau hal itu bakal bikin kamu ngerasa sendirian seperti dulu..."

(Name) akhirnya menatap Rin. Matanya sedikit berkaca, tapi bibirnya tersenyum tipis.

"Aku juga minta maaf... aku terlalu cepat ngambek. Padahal kamu cuma becanda, ya?"

Rin menggeleng pelan. "Enggak sepenuhnya becanda juga, sih," ia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tapi... aku ngerti. Kita udah sepakat. Dan aku enggak akan maksa."

(Name) menarik napas pelan. "Aku masih takut, Rin. Kalau aku kehilangan lagi... aku enggak tahu bisa ngadepin semuanya kayak dulu atau enggak."

"Aku juga, (Name)..." Rin menggenggam tangan istrinya erat. "Waktu kamu kehilangan itu... kamu enggak tahu betapa hancurnya aku lihat kamu tiap hari pura-pura kuat. Kita udah cukup terluka, dan aku lebih pilih kita tetap kayak gini dulu."

(Name) tersenyum, kali ini lebih tulus. "Kamu yakin enggak nyesel? Nikah sama aku, terus enggak langsung punya anak?"

Rin langsung berdiri, lalu duduk di sebelah (Name) di atas tempat tidur. "Kalau aku nyesel, aku enggak bakal melamar kamu begitu kita balikan."

Ia memeluk (Name) dari samping, kepalanya disandarkan ke bahu sang istri.

"Jujur aja... aku suka banget masa-masa kita kayak gini. Enggak ada yang ganggu. Bisa peluk kamu tiap malam. Bisa cium kamu kapan aja. Bisa manja tanpa harus kedengeran suara bayi nyaring tengah malam," gumam Rin sambil memejamkan mata. "Lagipula... waktu kita balikan, kita bahkan enggak bisa menikmati waktu saat pacaran kayak dulu. Aku langsung bawa kamu ke altar."

(Name) terkikik pelan. "Soalnya kamu takut aku kabur lagi?"

"Banget," jawab Rin tanpa ragu, membuat (Name) tertawa. "Jadi sebelum kamu sempat berpikir ulang, aku kunci kamu sebagai istri."

"Aku juga enggak nyesel, Rin," balas (Name), kini menatap suaminya dengan mata lembut. "Mungkin kita belum bisa punya anak sekarang... tapi aku bahagia. Aku bahagia punya kamu lagi."

Rin mencium kening (Name) pelan, kemudian memeluknya lebih erat.

"Dan aku janji... saat kamu udah siap, aku juga bakal siap. Tapi untuk sekarang, biarin aku terus manjain kamu. Karena buatku... kamu udah cukup jadi segalanya."

*****

Pagi itu, sinar matahari menyusup malu-malu lewat celah tirai kamar. (Name) yang sudah bangun lebih dulu, tengah sibuk merapikan meja makan setelah sarapan, memastikan semua keperluan untuk berbelanja sudah tercatat rapi di ponselnya. Ia melirik ke arah jam dinding dan berniat pergi seorang diri sebelum terlambat.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang