BAGIAN 25

617 69 14
                                        



*****

Dapur kecil itu tak banyak berubah.

Hangat oleh aroma kopi dan roti panggang, tapi pagi ini—entah kenapa—semuanya terasa lebih sunyi daripada biasanya.

(Name) duduk di meja makan, membelakangi jendela. Ia sibuk memotong roti bakar di piringnya, walau belum satu potong pun benar-benar ia makan. Tangannya bergerak otomatis, tanpa niat untuk menyuapnya ke mulut.

Rin berdiri di seberang meja. Ia sibuk menyusun dua cangkir kopi dan satu piring telur orak-arik, meletakkannya tanpa suara. Biasanya, ia akan banyak bicara. Menggodanya. Menyuruh (Name) makan duluan. Tapi pagi ini...

Tak ada suara.
Hanya denting sendok dan piring. Sunyi. Canggung.

Rin duduk akhirnya, di hadapan (Name). Ia menyendok telur pelan, lalu mengangkat pandangan.

"...Kamu yakin nggak apa-apa?" tanyanya. Suaranya rendah, tapi masih terdengar hati-hati.

(Name) mengangguk tanpa menatapnya. "Aku udah bilang, cuma masuk angin."

Rin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi semuanya terasa salah. Apapun yang ia katakan sekarang bisa membuat semuanya tambah buruk.

(Name) menggigit pelan rotinya, lalu bertanya dengan nada datar,
"Kamu... masih kepikiran soal tadi?"

Rin terdiam.

(Name) menaruh rotinya, lalu menatap langsung ke arah Rin. Kali ini senyumnya sudah menghilang.
"Aku tahu ekspresimu tadi. Waktu aku bilang mungkin hamil... kamu kelihatan takut. Seolah... kamu nggak mau."

"(Name)..." Rin menunduk, meletakkan garpunya. "Aku... aku bukan takut karena nggak mau. Aku cuma... kaget. Panik."

"Panik kenapa?" (Name) bertanya lagi, suaranya tenang tapi jelas terasa perih. "Karena kamu nggak siap jadi ayah? Atau... karena yang mungkin hamil itu aku?"

Pertanyaan itu membuat Rin membeku.

Ia mengangkat pandangan, menatap (Name). Tapi yang ia lihat adalah mata perempuan itu—mata yang selama ini selalu lembut saat menatapnya—kini tampak keruh dan... lelah.

"(Name), jangan kayak gitu. Aku..." Rin menghela napas, mengacak rambutnya sendiri.
"Aku cuma—aku nggak mikir sejauh itu. Tapi pas kamu tadi mual... aku jadi sadar, kita... aku..."

"Sering ngeluarin di dalam?" (Name) melanjutkan kalimatnya sendiri dengan sinis, lalu tersenyum kecil—senyuman getir.
"Lucu ya. Dari semua hal yang kamu lakuin ke aku, yang paling kamu pikirin malah itu."

Rin menatap (Name) dengan tatapan bersalah. Tapi ia juga bingung bagaimana menenangkan sesuatu yang sudah terlanjur retak di pagi yang seharusnya sederhana ini.

(Name) berdiri, lalu mengambil cangkir kopinya dan berjalan pelan ke dekat jendela.
Ia menyesapnya, membiarkan kehangatan mengalir di kerongkongan, meski hatinya tetap dingin.

"Aku nggak akan bikin kamu terjebak dalam tanggung jawab, Rin," ucap (Name), pelan, masih memunggunginya.
"Jadi kalau emang kamu takut... aku bisa urus semuanya sendiri. Tenang aja."

Rin berdiri dari kursinya dengan cepat. "Jangan ngomong kayak gitu!"

(Name) menoleh perlahan.

Tatapan mereka bertemu—dan untuk pertama kalinya pagi itu, yang terpancar dari mata Rin bukan lagi panik, tapi takut kehilangan.

Tapi (Name) terlalu lelah untuk membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya reaksi spontan.

"Kamu nggak tahu apa yang aku rasain, Rin..." ucap (Name), suaranya hampir bergetar.
"Jadi jangan larang aku buat jaga diriku sendiri. Kalau kamu nggak yakin... aku yang harus yakin."

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang