BAGIAN 23

439 58 19
                                        



*****

Suara penggorengan sudah mulai mengecil. Api kompor diturunkan. (Y/N) mencicipi sedikit kaldu di sendok kayunya, lalu menatap ke arah ruang tamu, tepat saat Sae membalik badan dan kembali duduk di sofa, satu tangan menutupi wajahnya.

Rin masih berdiri di tempat, punggungnya tegak tapi terlihat rapuh. Tangannya menggenggam erat sisi pinggang celana seolah itu satu-satunya yang membuatnya tetap berdiri.

(Y/N) melangkah pelan keluar dapur, melepas apron dan melipatnya rapi di salah satu kursi bar. Tatapannya bergantian tertuju ke dua pria di ruang tamu itu. Tak satu pun bicara, tapi atmosfernya jelas penuh ketegangan.

"Aku udah selesai masak," ujarnya akhirnya, memecah sunyi. Suaranya lembut, tapi ada nada khawatir di balik senyumnya. "Mau makan sekarang, atau nunggu anak-anak bangun?"

Sae menurunkan tangannya dari wajah. "Nanti aja," gumamnya pelan.

Rin hanya mengangguk kecil, bahkan tidak sempat menoleh.

(Y/N) melirik Rin, lalu memberanikan diri mendekat, berdiri di sampingnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan.

Rin menggeleng. "Aku cuma... butuh udara segar di luar."

Dia melangkah ke balkon, membuka pintu geser dan melangkah keluar ke udara malam Paris yang dingin. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, menciptakan lanskap cahaya yang cantik, tapi bagi Rin, semuanya terlihat kabur.

(Y/N) menatap punggung adik iparnya itu, kemudian duduk pelan di salah satu kursi makan. Matanya menyapu ke arah suaminya.

Sae hanya duduk diam, pandangannya kosong. Tapi dia sadar (Y/N) memperhatikannya.

"Kamu bicara sesuatu sama Rin?" tanya (Y/N), lembut.

Sae mengangguk tanpa menatap balik. "Sedikit."

(Y/N) menggenggam kedua tangannya di atas meja. "Aku merasa... dia berubah. Ada hal yang dia tahan dari aku."

Sae akhirnya menatap istrinya. Tatapan yang dalam, dan kali ini, tanpa penghakiman.

"Kau tahu," katanya lirih, "kadang yang kita sembunyikan... bukan karena ingin berbohong. Tapi karena kita nggak tahu cara mengatakannya tanpa menyakiti orang lain."

(Y/N) menatapnya lama. "Apa aku orang yang dia takut sakiti?"

Sae tidak menjawab.

Dan mungkin, itu sudah cukup sebagai jawaban.

Sementara di balkon, Rin menyandarkan keningnya ke pagar besi dingin. Di sakunya, ponsel masih menyala, memperlihatkan pesan terakhir dari (Name):

"Aku bawa bahan makan malam ya. Ayo masak bareng, seperti biasa."

Ponsel itu hampir jatuh dari tangannya, jika saja Rin tidak buru-buru menggenggamnya lagi.

Dia menarik napas panjang. Tapi dinginnya malam tidak bisa menenangkan badai di dalam dirinya.

Dan untuk pertama kalinya... Rin merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar dia miliki.

*****

Langit Paris malam itu tampak pucat, diselimuti kabut tipis yang memantulkan cahaya lampu kota. Rin masih berdiri di balkon, punggungnya bersandar lemah pada pagar besi dingin. Jemarinya menggenggam ponsel yang kini layarnya sudah gelap, tapi pikirannya masih berkecamuk.

Suara pintu geser kembali terbuka. Langkah pelan (Y/N) terdengar menyusul, lalu berhenti beberapa meter darinya.

"Aku boleh duduk di sini sebentar?" tanyanya lembut.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang