*Biasakan vote terlebih dulu sebelum membaca.
*****
Pagi itu, apartemen (Name) masih terasa hangat dengan sisa keintiman semalam. Matahari mulai tinggi, menandakan waktu sudah mendekati siang. Rin menggeliat malas di tempat tidur, sementara (Name) masih terbaring di sampingnya, menatap langit-langit sambil berpikir.
Hari ini, Rin punya latihan siang bersama timnya, sementara (Name) harus bersiap untuk shift part-time-nya. Tapi untuk saat ini, mereka masih menikmati momen berdua.
Rin melirik (Name) yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kok diem aja?" tanyanya sambil menarik tubuh (Name) agar lebih dekat.
(Name) tersenyum kecil. "Lagi mikirin sesuatu."
Rin mengangkat alisnya. "Apa?"
(Name) ragu sejenak, lalu menggeleng. "Nggak penting."
Rin mengerutkan dahi, tapi ia memilih tidak memaksa (Name) untuk berbicara. Sebaliknya, ia justru mendekat dan menempelkan bibirnya di pelipis (Name), mencium dengan lembut. "Kalau ada yang gangguin pikiran kamu, bilang sama aku, ya?"
(Name) menatap mata Rin yang serius. Ia tahu pria ini benar-benar peduli padanya. "Iya," jawabnya pelan, lalu ia pun membalas dengan mengecup pipi Rin.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman sebelum akhirnya (Name) beranjak dari tempat tidur. "Aku harus siap-siap kerja."
Rin mendengus pelan, masih enggan membiarkan (Name) pergi. "Kenapa sih harus kerja hari ini? Bolos aja, temenin aku."
(Name) terkekeh. "Dan kamu nggak latihan?"
Rin mendesah pasrah. "Iya sih... Tapi aku masih pengen sama kamu."
(Name) berjalan mendekat dan mengusap rambut Rin dengan lembut. "Nanti malam aku masih di sini, kok."
Rin menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak, lalu tersenyum tipis. "Oke. Tapi janji, habis kerja langsung pulang."
(Name) mengangguk. "Janji."
Dengan berat hati, Rin akhirnya membiarkan (Name) pergi. Tapi di dalam hatinya, ia masih belum sepenuhnya tenang. Sesuatu tentang pembicaraan tadi membuatnya merasa (Name) sedang menyembunyikan sesuatu.
*****
Di tempat latihan PXG, suasana seperti biasa dipenuhi dengan suara sepatu menghantam rumput dan teriakan instruksi dari pelatih. Namun, bagi Rin, latihan hari ini terasa lebih menjengkelkan dari biasanya.
Begitu ia masuk ke lapangan, mata tajamnya langsung menangkap sosok Shidou yang sudah berdiri dengan senyum provokatif khasnya. Seolah sudah menunggu kesempatan, Shidou berjalan mendekat dengan santai.
"Hei, Itoshi Junior," sapanya dengan nada mengejek. "Mukamu keliatan lebih segar hari ini. Malam tadi tidur nyenyak, ya? Atau ada hiburan lain, hm?"
Rin mendengus pelan, berusaha mengabaikan. Namun, Shidou tidak berhenti di situ.
"Atau jangan-jangan, kamu terlalu sibuk dengan pacar manismu sampai nggak punya tenaga buat latihan?" lanjutnya, menekan nada suaranya agar hanya Rin yang bisa mendengar.
Rin berhenti mengikat tali sepatunya dan menatap Shidou dengan dingin. "Ngomong yang penting aja, dasar hama."
Tapi Shidou justru terkekeh, jelas menikmati reaksinya. "Oh, aku cuma penasaran... Apa dia udah tahu masa lalumu yang penuh warna itu?"
Mata Rin menyipit tajam. "Jaga mulutmu."
Shidou semakin senang melihat ekspresi Rin berubah. "Kalau dia tahu semuanya, menurutmu dia bakal tetap di sisimu? Atau malah pergi kayak orang-orang lain di hidupmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HEALER
RomanceHati yang pernah hancur... bisa menemukan cahaya baru ketika seseorang datang untuk menyembuhkannya. 💫 Romance | Itoshi Rin x Female Reader Sequel of "AFFAIR" Characters belong to Muneyuki Kaneshiro & Yusuke Nomura - Blue Lock.
