BAGIAN 14

645 88 4
                                        

Tiga minggu setelah kepergian (Name)-

Rin menatap kosong ke layar ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.

Ia sudah menghapus nomor (Name), tapi entah kenapa, tangannya masih sering mengetik namanya di pencarian. Seakan berharap nama itu tiba-tiba muncul, seakan berharap (Name) masih ada di sana, menunggunya.

Tapi kenyataan tidak sebaik itu.

(Name) sudah pergi.

Dan anehnya, dunia tetap berjalan seperti biasa.

Rin tetap berlatih, tetap bertanding, tetap tersenyum di depan kamera, tetap menjadi "Itoshi Rin" yang semua orang kenal.

Tapi di balik layar, ia hancur.

"Apa kau masih meratapi perempuan itu?"

Suara Sae membuat Rin mendongak. Kakaknya berdiri di depan pintu ruang latihan, melihatnya dengan ekspresi dingin yang khas.

Rin mengernyit, tidak tertarik untuk berdebat dengan Sae sekarang.

"Pergi."

"Tidak ada kata 'terima kasih' untukku?" Sae berjalan mendekat, matanya tetap tajam. "Aku sudah menyelamatkanmu dari hubungan yang tidak akan bertahan lama."

Rin mengepalkan tinjunya.

"Sae, kalau kau tidak ingin kubuat babak belur di tempat ini, lebih baik kau tutup mulut."

Sae mengangkat alisnya, terlihat tidak terpengaruh. "Kau tahu sendiri ini keputusan yang benar."

"Keputusan yang benar?" Rin menatapnya tajam. "Menurut siapa?"

Sae menghela napas. "(Name) hanya membuatmu lebih lemah, Rin. Kau tidak bisa bermain dengan jernih saat ada seseorang yang menjadi titik kelemahanmu. Dan itu sudah terbukti."

Rin mendekat, menatap Sae langsung tanpa takut.

"Aku lebih baik jadi 'lemah' karena seseorang yang kucintai daripada menjadi manusia kosong sepertimu."

Mata Sae menyipit, tapi ia tidak membalas.

"Sudah cukup, Sae-chan."

Suara baru masuk di antara mereka.

Shidou.

Rin langsung tegang begitu melihatnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Rin bertanya tajam.

Shidou menyeringai. "Oh, aku hanya ingin melihat kondisimu. Dan jujur saja..." Tatapan Shidou menyapu seluruh tubuh Rin. "Kau kelihatan kacau, Rin-chan."

Rin mengepalkan tinjunya lebih keras.

Shidou tertawa kecil. "Kau tahu? Aku bertemu (Name) beberapa hari yang lalu."

Rin membeku.

Shidou bertemu (Name)?

"Apa kau tahu apa yang kulihat?" Shidou mendekat, menikmati setiap detik perubahan ekspresi di wajah Rin.

"Dia tersenyum, Rin."

Rin terdiam.

"Tidak ada kesedihan. Tidak ada air mata." Shidou menyeringai. "Sepertinya dia sudah baik-baik saja tanpamu."

Bohong.

Rin ingin sekali meyakinkan dirinya bahwa Shidou hanya memprovokasi.

Tapi... bagaimana kalau itu benar?

Bagaimana kalau (Name) benar-benar sudah melupakannya?

Bagaimana kalau hanya dia yang masih terjebak di masa lalu?

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang