SIDE STORY 05

661 62 6
                                        


*****

Pagi itu udara masih lembap, tirai kamar belum sepenuhnya terbuka, dan sisa-sisa keintiman masih terasa di udara. (Name) memeluk tubuh Rin erat, wajahnya menempel pada dada bidang suaminya. Kulit keduanya masih bersentuhan langsung, tanpa sehelai kain pun menutupi. Napas (Name) tenang, seakan enggan melepaskan rasa nyaman itu.

"Sayang, sepertinya hari ini aku mau libur dulu, ya?" (Name) berbisik manja.

Rin yang sejak tadi sudah memikirkan hal itu hanya mengangguk, lalu meraih ponsel di meja samping. Ia langsung menekan nomor Kiyoko.
"Halo. (Name) tidak masuk hari ini. Anggap saja cuti mendadak," ucapnya datar.

Kiyoko di seberang sana hanya tertawa kecil, sudah bisa menebak alasannya. "Baik, Rin-san. Saya mengerti."

Setelah menutup telepon, Rin kembali berbaring. (Name) terkekeh kecil mendengar nada malas suaminya. Mereka baru saja ingin kembali memejamkan mata ketika suara bel pintu rumah berbunyi.

Ding-dong. Ding-dong. Ding-dong.

Rin mendecak keras, wajahnya masam. "Siapa yang datang jam segini..." gumamnya.

Bel itu berbunyi lagi, kali ini lebih panjang. (Name) menghela napas, lalu menepuk dada Rin pelan. "Sayang, tolong lihat dulu siapa yang datang. Nanti kalau penting bagaimana?"

Dengan malas Rin bangkit, hanya mengenakan hoodie tipis dan celana training. Ia bahkan tidak repot-repot memakai pakaian dalam. "Nanti juga mandi," katanya sambil berjalan gontai.

(Name) hanya bisa tersenyum geli, lalu meraih dress piyama yang panjangnya hanya sebatas paha. Ia memakainya sekadar agar tidak sepenuhnya terbuka ketika harus keluar kamar.

Begitu pintu terbuka, ekspresi Rin langsung berubah masam. "Tch..." Ia mendecih, menahan diri untuk tidak langsung memarahi orang di depannya.

Di ambang pintu berdiri seorang pria berwajah tegas, kakaknya sendiri. Dan sebelum Rin sempat berkata sesuatu, dua sosok kecil berlari keluar dari belakang tubuh sang kakak.

"Oji-chan!" teriak Sia dan Shiro bersamaan, wajah mereka berseri-seri.

Tubuh kecil mereka langsung menerjang Rin, membuatnya terpaksa menahan kedua bocah itu dengan kedua tangannya. Rasa malasnya seketika berganti dengan senyum tipis yang tidak bisa ia sembunyikan.

Dari dalam kamar, (Name) yang mendengar suara riang si kembar langsung terbelalak. "Astaga..." bisiknya panik, buru-buru merapikan rambutnya dengan tangan.

Rin menghela napas panjang, tapi tetap mempersilakan kakaknya dan dua bocah kecil itu masuk. "Masuklah. Ngapain datang pagi-pagi banget, bawa anak-anak segala," gumamnya sambil menutup pintu.

Sia dan Shiro langsung berlarian ke ruang tamu dengan riang, meninggalkan ayah dan om mereka. Rin menoleh ke Sae dengan wajah penuh tanda tanya.
"Jadi, tujuanmu apa, Sae? Kenapa bawa mereka ke sini sepagi ini?"

Sae melepas jaketnya santai, lalu menatap Rin dengan serius. "Aku mau menitipkan anak-anak dulu padamu."

Rin berkedip tak percaya. "Titip? Kenapa tidak sekalian kau bawa saja kalau memang ada urusan? Mereka itu anakmu sendiri, Nii-chan."

Sae menarik napas pendek, nada suaranya tetap tenang. "Aku harus mengantar (Y/N) ke rumah orang tuanya. Dan kemungkinan besar, (Y/N) akan menetap cukup lama di sana."

Alis Rin mengernyit. "Kenapa? Ada apa dengan (Y/N)? Sampai harus menginap di rumah orang tuanya?"

Suasana sempat terhenti sejenak. (Name) keluar dari dapur dengan nampan berisi minuman hangat. "Silakan diminum dulu," ucapnya lembut sambil meletakkan gelas di meja.

HEALERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang